Margomulyo — Jumat, 28 Agustus 2026 — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin pada pelaksanaan Salat Jumat, Jumat (28/8/2026). Kegiatan dimulai sekitar pukul 11.30 WIB hingga selesai, dengan jamaah mengikuti rangkaian khutbah dan Salat Jumat dengan penuh perhatian.
Pada kesempatan tersebut, Gus Muntaha, dari Pondok Pesantren Abu Syukur Payaman, Ngraho, Bojonegoro, bertindak sebagai khatib sekaligus imam Salat Jumat. Dalam khutbahnya, Gus Muntaha mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya secara tulus dan istiqamah.
Khutbah diawali dengan pujian kepada Allah SWT dan kesaksian atas keesaan-Nya, disertai salawat kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم:
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله، وبعثه رحمة للخلق فأرشدهم إلى طريق الحق بقوله وفعله، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الواحد القهار، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدًا عبده ورسوله المصطفى المختار، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه البررة الأخيار.
Selanjutnya, jamaah diingatkan mengenai pentingnya ketakwaan dan menjaga perkataan. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70).
Maulid Nabi: Bukan Sekadar Seremonial
Mengambil momentum bulan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, Gus Muntaha menegaskan bahwa kedua momentum tersebut tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Maulid Nabi hendaknya menjadi kesempatan untuk kembali menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم sekaligus menghadirkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT menegaskan:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Dalam khutbahnya dijelaskan bahwa keberhasilan dakwah Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak hanya ditopang oleh kefasihan beliau dalam berbicara, tetapi terutama karena keluhuran akhlak dan keteladanan yang beliau tunjukkan. Rasulullah merupakan pribadi yang sangat bertakwa, dermawan, rendah hati, amanah, menepati janji, serta memiliki kepedulian yang besar terhadap kaum lemah.
Karena itu, kecintaan kepada Nabi tidak cukup hanya diwujudkan melalui banyaknya selawat dan ungkapan penghormatan. Cinta kepada Rasulullah harus tercermin dalam karakter dan perilaku. Jangan sampai lisan begitu ramai melantunkan selawat, tetapi kehidupan sehari-hari masih jauh dari kejujuran dan amanah. Jangan pula pengagungan kepada Nabi hanya berhenti di bibir, sementara akhlak dan ajarannya belum sungguh-sungguh diwujudkan dalam perbuatan.
Kemerdekaan sebagai Nikmat Sekaligus Amanah
Momentum kedua yang menjadi perhatian dalam khutbah adalah kemerdekaan Republik Indonesia. Gus Muntaha mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati bangsa Indonesia hari ini tidak lahir dengan mudah. Di dalamnya terdapat pengorbanan darah, air mata, perjuangan dan doa para pahlawan, termasuk peran penting ulama dan kaum santri.
Kemerdekaan, menurut materi khutbah, bukan sekadar terbebas dari penjajahan secara fisik. Kemerdekaan juga merupakan ruang bagi masyarakat untuk beribadah, menuntut ilmu, menegakkan kebaikan serta membangun peradaban dalam suasana aman dan tenteram.
Namun, kemerdekaan sekaligus merupakan amanah. Kebebasan yang tidak dikendalikan oleh ketakwaan justru dapat melahirkan kerusakan baru. Allah SWT telah memperingatkan:
وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 77).
Karena itu, kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila ruang publik justru dipenuhi fitnah, permusuhan, korupsi, provokasi dan polarisasi yang memecah persaudaraan.
Menyatukan Semangat Maulid dan Kemerdekaan
Gus Muntaha kemudian mempertemukan dua momentum tersebut dalam satu pesan penting: keteladanan Rasulullah صلى الله عليه وسلم harus menjadi landasan dalam mengisi kemerdekaan.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Meneladani beliau dalam kehidupan berbangsa berarti mengambil peran nyata untuk menjaga persatuan dan memberikan manfaat kepada sesama.
Jamaah diajak untuk menjadi penengah ketika terjadi perselisihan, penopang bagi saudara yang mengalami kesulitan, lentera ilmu ketika kebodohan merebak, serta penjaga kohesi sosial ketika ancaman perpecahan muncul.
Khutbah juga menekankan bahwa ukuran kemajuan suatu bangsa tidak hanya dilihat dari megahnya pembangunan fisik. Peradaban yang sesungguhnya juga tercermin dari kualitas moral masyarakatnya: kejujuran para pemimpin, keadilan dalam penegakan hukum, serta kepedulian dan empati antarsesama.
Enam Langkah Mengisi Kemerdekaan
Sebagai bentuk ikhtiar untuk mengisi kemerdekaan dengan nilai-nilai keteladanan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, jamaah diajak melakukan enam langkah konkret, yaitu:
- Memperkokoh keimanan dan ketakwaan pribadi.
- Meneladani integritas dan keluhuran budi Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
- Mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan meningkatkan ibadah dan kegiatan positif, bukan menodainya dengan dosa dan kemaksiatan.
- Menghargai jasa para pahlawan melalui karya serta kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
- Memelihara kerukunan dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat memecah persatuan.
- Mendidik generasi penerus agar tangguh secara intelektual sekaligus kokoh dan berakar pada nilai-nilai agama.
Pada bagian akhir khutbah, jamaah kembali diingatkan mengenai janji Allah SWT dalam QS. Al-A'raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
Ayat tersebut menjadi penegasan bahwa keberkahan kehidupan masyarakat dan bangsa sangat erat kaitannya dengan keimanan dan ketakwaan. Oleh karena itu, kemerdekaan hendaknya disyukuri bukan hanya dengan perayaan, tetapi dengan memperbanyak ibadah, memperkuat persaudaraan, menjaga kedamaian, serta menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.
Kegiatan Salat Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin tersebut menjadi momentum spiritual yang sarat pesan kebangsaan dan keagamaan. Melalui khutbah yang disampaikan Gus Muntaha, jamaah diajak memahami bahwa mencintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم harus diwujudkan melalui akhlak, sedangkan mencintai kemerdekaan harus dibuktikan dengan tanggung jawab dalam mengisinya.
Semoga keteladanan Rasulullah صلى الله عليه وسلم senantiasa menjadi cahaya dalam kehidupan umat, dan kemerdekaan Republik Indonesia menjadi jalan bagi masyarakat untuk semakin dekat kepada Allah SWT, memperkuat persaudaraan, serta membangun kehidupan bangsa yang aman, damai, adil dan penuh keberkahan.
اللهم بارك لبلادنا إندونيسيا، واحفظها من الفتن ما ظهر منها وما بطن، واجعلها بلادًا آمنةً مطمئنةً، وارزق أهلها الإيمان والتقوى والسلام والرخاء. آمين يا رب العالمين.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar