Selasa, 10 Maret 2026

“Ramadhan sebagai Madrasah Kehidupan: Kepala KUA Margomulyo Ajak Muslimat dan Fatayat Meneguhkan Kesabaran dan Kejujuran”

Huda Afrianto, S.Ag. Kepala KUA Margomulyo

Margomulyo - Selasa, 10 Maret 2026. Suasana Ramadhan yang penuh berkah kembali terasa khidmat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin Desa Sumberjo Kecamatan Margomulyo Bojonegoro. Pada Selasa, 10 Maret 2026 pukul 17.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka, masjid yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan wisata religi tersebut menggelar Kajian Buka Bersama (BUKBER) Ramadhan yang berlangsung di bagian dalam ruang utama masjid.

Kegiatan ini diikuti dengan penuh antusias oleh jajaran Ranting Muslimat NU dan Fatayat NU Ranting Geneng, yang hadir untuk memperdalam pemahaman keagamaan sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah di bulan suci Ramadhan.

Hadir sebagai pemateri dalam kajian tersebut adalah Huda Afrianto, S.Ag., Kepala KUA Kecamatan Margomulyo, yang menyampaikan kajian bertema “Ramadhan sebagai Madrasah Kesabaran dan Kejujuran.” Dalam penyampaiannya yang komunikatif dan penuh keteladanan, beliau mengajak para jamaah memaknai ibadah puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai proses pendidikan spiritual yang membentuk karakter sabar, jujur, dan berintegritas.



Ramadhan sebagai Madrasah Kesabaran

Dalam uraian kajiannya, Huda Afrianto menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan madrasah (sekolah spiritual) yang mendidik manusia agar mampu mengendalikan diri dan memperkuat kesabaran dalam berbagai aspek kehidupan.

Puasa, menurut beliau, bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu, mengendalikan emosi, serta menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik. Nilai ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi bertakwa, yang di antaranya tercermin melalui sikap sabar, pengendalian diri, dan kedewasaan spiritual.

Selain itu, puasa juga menjadi ujian kesabaran bagi seorang muslim. Rasa lapar, dahaga, keletihan, maupun godaan emosi menjadi sarana latihan mental untuk membangun jiwa yang lebih tenang, ikhlas, dan tangguh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Puasa adalah setengah dari kesabaran.”
(HR. Tirmidzi)

Dalam perspektif sosial, puasa juga melahirkan empati terhadap sesama. Ketika seseorang merasakan lapar dan dahaga, ia akan lebih mudah memahami penderitaan kaum dhuafa, sehingga muncul kepedulian sosial, semangat berbagi, serta solidaritas kemanusiaan.


Ramadhan sebagai Madrasah Kejujuran

Selain menjadi madrasah kesabaran, Ramadhan juga merupakan madrasah kejujuran dan integritas moral. Puasa melatih manusia untuk memiliki kesadaran spiritual yang tinggi melalui konsep muraqabah, yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.

Seseorang yang berpuasa sebenarnya memiliki kesempatan untuk makan atau minum secara sembunyi-sembunyi. Namun ia memilih menahan diri karena keyakinannya bahwa Allah Maha Melihat.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.”
(QS. An-Nisa: 1)

Kesadaran inilah yang membentuk kejujuran yang autentik, bukan karena takut kepada manusia, melainkan karena kesadaran iman kepada Allah SWT.

Dalam sebuah hadis qudsi Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki dimensi keikhlasan dan kejujuran yang sangat tinggi, karena ibadah tersebut bersifat sangat personal antara hamba dan Tuhannya.

Selain itu, puasa juga mengajarkan disiplin waktu, mulai dari imsak hingga waktu berbuka. Kedisiplinan ini, jika dipraktikkan secara konsisten, akan membentuk karakter manusia yang tertib, jujur, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.


Pandangan Ulama tentang Puasa sebagai Pendidikan Moral

Dalam kajian tersebut juga disampaikan pandangan para ulama mengenai hikmah puasa. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa.

Beliau menyatakan bahwa puasa yang sempurna adalah puasa yang mampu menjaga lisan, mata, telinga, hati, dan seluruh anggota badan dari perbuatan yang tidak diridhai Allah.

Sementara itu, Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif Al-Ma’arif menjelaskan bahwa Ramadhan adalah momentum pembinaan jiwa agar manusia mampu mencapai derajat takwa yang paripurna, yang tercermin dalam kejujuran, kesabaran, serta akhlak mulia.


Penutup Kegiatan

Kajian BUKBER Ramadhan tersebut berlangsung dengan suasana penuh khidmat dan kehangatan. Para jamaah tampak menyimak materi dengan antusias, diselingi refleksi spiritual menjelang waktu berbuka puasa.

Melalui kajian ini diharapkan Ramadhan benar-benar menjadi madrasah kehidupan yang mampu membentuk pribadi muslim yang sabar, jujur, disiplin, dan berakhlak mulia, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan persiapan berbuka puasa, yang semakin mempererat ukhuwah di antara para jamaah yang hadir.


#Drun