Sabtu, 31 Januari 2026

Puasa Jari dan Puasa Hati: Seruan Abah Charis di Bulan Sya’ban dari Margomulyo

KH. Drs Mochammad Charis, MM.Pd. (Tengah)


Margomulyo – 30 Januari 2026. Suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Wisata Religi Margomulyo pada Jum’at, 30 Januari 2026. Sejak pukul 11.50 WIB hingga selesai, masjid yang menjadi ikon wisata religi tersebut dipadati jamaah. Tidak hanya warga sekitar, para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara turut larut dalam lantunan doa dan nasihat penuh hikmah dalam pelaksanaan ibadah shalat Jum’at.

Bertindak sebagai khotib dan imam, KH. Drs. Mochamad Charis, MM.Pd. yang akrab disapa Abah Charis, menyampaikan khutbah dengan penuh keteduhan dan ketegasan makna. Abah Charis merupakan Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro sekaligus Kepala KUA Kecamatan Kapas Bojonegoro, figur ulama yang dikenal konsisten menyuarakan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Dalam khutbahnya, Abah Charis mengangkat tema “Sya’ban sebagai Latihan Penguatan Iman dalam Menghadapi Ramadhan”. Ia menegaskan bahwa puasa sunnah di bulan Sya’ban bukan sekadar amalan tambahan, melainkan madrasah ruhani untuk mempersiapkan diri menyambut kewajiban puasa di bulan Ramadhan.

Menurutnya, puasa yang sejati tidak cukup dimaknai dengan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa harus menjadi sarana pengendalian diri secara menyeluruh. Abah Charis secara tegas mengingatkan jamaah tentang pentingnya “puasa digital”, yakni menahan jari-jari dari menulis dan menyebarkan hal-hal negatif di media sosial.

“Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan lisan dan jari-jari kita. Jangan sampai Ramadhan kita rusak oleh tulisan-tulisan yang berisi fitnah, provokasi, dan ujaran kebencian,” tegas Abah Charis di hadapan jamaah.

Pesan tersebut menggugah kesadaran jamaah bahwa tantangan keimanan di era digital menuntut pengendalian diri yang lebih luas, termasuk dalam bermedia sosial. Sya’ban, menurut Abah Charis, adalah momentum strategis untuk melatih kedewasaan iman sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Usai pelaksanaan shalat Jum’at, Abah Charis melanjutkan ramah tamah bersama para takmir masjid. Dalam suasana penuh keakraban, beliau menyampaikan wejangan-wejangan positif agar takmir senantiasa istiqomah, sabar, dan ikhlas dalam memakmurkan masjid sebagai pusat ibadah dan pembinaan umat. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama di area masjid, menandai kebersamaan yang sarat nilai ukhuwah dan keteladanan.

Khutbah Jum’at hari itu bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan seruan moral dan spiritual agar umat Islam mempersiapkan diri secara lahir dan batin, menjaga akhlak di dunia nyata maupun dunia maya, demi menyongsong Ramadhan yang lebih bermakna dan bermartabat.

Pesan-pesan yang disampaikan Abah Charis meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah. Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika media sosial, khutbah tersebut menjadi peringatan moral sekaligus tuntunan spiritual agar umat Islam mampu menjaga integritas iman, akhlak, dan persaudaraan. Masjid, menurut beliau, harus menjadi ruang aman yang meneduhkan, bukan hanya dari hiruk-pikuk dunia, tetapi juga dari konflik yang dipicu oleh narasi negatif di ruang digital.

Kehadiran jamaah lintas daerah dan para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara semakin menegaskan peran Masjid Wisata Religi Margomulyo sebagai simpul pertemuan spiritual umat. Masjid tidak sekadar menjadi tempat singgah ibadah, tetapi juga pusat penyemaian nilai-nilai Islam yang moderat, damai, dan bertanggung jawab.

Kegiatan khutbah Jum’at tersebut meneguhkan pesan bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya soal kesiapan fisik, melainkan kesiapan akhlak dan etika, termasuk etika bermedia sosial. Dengan menjadikan bulan Sya’ban sebagai medan latihan iman, umat diharapkan mampu memasuki Ramadhan dengan jiwa yang lebih bersih, lisan yang terjaga, dan jari-jari yang penuh kehati-hatian.

Khutbah Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo pada hari itu pun berakhir, namun pesan moralnya diharapkan terus hidup—menjadi suluh bagi umat dalam menjalani ibadah, bermasyarakat, dan bersikap bijak di era digital.