MARGOMULYO — Jumat, 18 September 2026. Suasana Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin berlangsung khidmat pada Jumat, 18 September 2026. Pelaksanaan shalat Jumat dimulai sekitar pukul 11.45 WIB hingga selesai, dengan Gus Risyaf Mu’afi, M.Pd.I. bertindak sebagai khatib sekaligus imam.
Dalam khutbahnya, Gus Risyaf Mu’afi mengangkat tema “Kemarau Panjang, Saatnya Muhasabah dan Ikhtiar”. Jamaah diajak tidak hanya menyikapi kemarau panjang sebagai persoalan cuaca, tetapi juga menjadikannya momentum untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah), memperkuat hubungan dengan Allah SWT, sekaligus melakukan berbagai ikhtiar nyata untuk menjaga ketersediaan air dan lingkungan.
Kemarau dan Kesadaran atas Nikmat Air
Mengawali khutbah, Gus Risyaf mengingatkan bahwa air merupakan kebutuhan primer manusia dan seluruh makhluk hidup. Ketika musim kemarau berlangsung panjang, persoalan yang muncul bukan sekadar udara panas, tetapi juga menyangkut ketersediaan air bagi rumah tangga, pertanian, peternakan, kesehatan, dan berbagai aktivitas masyarakat.
Materi khutbah menjelaskan bahwa kondisi kemarau panjang perlu disikapi dengan dua hal yang berjalan secara bersamaan, yaitu muhasabah dan ikhtiar. Muhasabah mengajak manusia melihat ke dalam dirinya, sedangkan ikhtiar mendorong manusia untuk mengambil langkah nyata menghadapi persoalan.
Dalam konteks tersebut, kemarau dapat menjadi pengingat betapa manusia sebenarnya sangat lemah di hadapan kekuasaan Allah SWT. Manusia membutuhkan air, sementara turunnya hujan merupakan bagian dari ketentuan Allah yang berada di luar kendali manusia.
Kesadaran tersebut semestinya tidak menjadikan seorang Muslim pasif. Sebaliknya, kesadaran akan keterbatasan diri harus melahirkan ketundukan kepada Allah sekaligus mendorong manusia untuk berusaha.
Istighfar dan Taubat sebagai Jalan Muhasabah
Gus Risyaf kemudian mengajak jamaah untuk memperbanyak istighfar dan melakukan taubat kepada Allah SWT.
Al-Qur'an memberikan gambaran tentang seruan Nabi Hud AS kepada kaumnya agar memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
Artinya:
“Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepadamu dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu. Janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa.”(QS Hud: 52)
Ayat tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam khutbah. Istighfar dan taubat bukan sekadar ucapan yang dilafalkan oleh lisan, tetapi harus diwujudkan dalam perubahan sikap dan perilaku.
Taubat berarti kembali kepada Allah dengan kesungguhan. Sementara istighfar merupakan pengakuan bahwa manusia memiliki kekurangan dan membutuhkan ampunan serta pertolongan Allah SWT.
Namun demikian, materi khutbah juga memberikan catatan penting agar ayat tersebut tidak dipahami secara sederhana bahwa setiap kemarau pasti merupakan hukuman atas dosa tertentu. Kemarau juga merupakan fenomena alam yang memiliki sebab-sebab klimatologis. Karena itu, seorang Muslim tidak diperkenankan menuduh orang lain sebagai penyebab musibah. Sikap yang tepat adalah melakukan introspeksi sekaligus mencari jalan keluar.
Doa Harus Disertai Ikhtiar
Gus Risyaf menekankan bahwa Islam tidak mengajarkan umat hanya berdoa kemudian menunggu keadaan berubah. Doa merupakan bentuk penghambaan dan permohonan kepada Allah, sedangkan ikhtiar merupakan kesungguhan manusia menggunakan kemampuan yang telah dianugerahkan Allah.
Dalam khutbah disebutkan kisah Umar bin Khattab RA ketika beliau tidak jadi memasuki wilayah yang sedang terkena wabah. Ketika ditanya apakah tindakan tersebut berarti menghindar dari takdir Allah, Umar menjawab:
نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ
“Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”
Pesan tersebut memberikan gambaran bahwa ikhtiar bukanlah bentuk perlawanan terhadap takdir. Justru ikhtiar merupakan bagian dari cara manusia menjalankan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah.
Dalam menghadapi kekeringan, misalnya, menghemat air, mencari sumber air alternatif, memperbaiki saluran yang bocor, menampung air hujan, serta menjaga kawasan resapan merupakan bentuk ikhtiar yang perlu dilakukan.
Shalat Istisqa dan Kepedulian terhadap Air
Khutbah juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW memberikan teladan dalam menghadapi musim kemarau, salah satunya melalui shalat istisqa, yakni shalat untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.
Ketika masyarakat mengalami kemarau panjang, Rasulullah SAW mengajak mereka berkumpul, kemudian berkhutbah dan melaksanakan shalat istisqa.
Hal tersebut menunjukkan bahwa menghadapi persoalan kekeringan membutuhkan perpaduan antara doa dan tindakan nyata.
Ada istighfar, ada doa, ada shalat untuk memohon hujan, tetapi pada saat yang sama terdapat tanggung jawab manusia untuk menjaga air dan lingkungan.
Menjaga Setiap Tetes Air
Jamaah juga diajak melakukan langkah sederhana yang dapat dimulai dari lingkungan masing-masing.
Jika terdapat keran atau saluran air yang bocor, segera diperbaiki. Penggunaan air yang tidak diperlukan hendaknya dikurangi. Air tidak semestinya digunakan secara berlebihan hanya karena pada saat tertentu masih mudah diperoleh.
Sebab, ketika air mulai sulit didapatkan, manusia baru menyadari bahwa sesuatu yang selama ini dianggap biasa ternyata merupakan nikmat Allah yang sangat berharga.
Menjaga sumber air juga menjadi tanggung jawab bersama. Mata air, sungai, dan daerah resapan tidak boleh diperlakukan secara sembarangan. Menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Masyarakat juga dapat mengambil peran dengan membantu mereka yang kesulitan mendapatkan air. Bantuan air bersih, sedekah, penyediaan tandon, maupun gotong royong mencari sumber air merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti bagi sesama.
Memperbaiki Hati dan Memperbaiki Ikhtiar
Pada bagian akhir khutbah, jamaah diajak memahami bahwa kemarau panjang dapat menjadi momentum untuk melakukan dua pekerjaan sekaligus: memperbaiki hati dan memperbaiki ikhtiar.
Memperbaiki hati dilakukan melalui muhasabah, istighfar, taubat, doa, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sementara memperbaiki ikhtiar dilakukan dengan menjaga air, merawat lingkungan, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta mencari solusi terhadap persoalan kekeringan.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak hanya mengatakan, “Semoga segera turun hujan,” tetapi juga bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang sudah dilakukan untuk menjaga air yang masih tersedia? Apa yang dapat dilakukan untuk membantu sesama yang mengalami kesulitan? Dan apa yang dapat diperbaiki dari cara kita memperlakukan lingkungan?
Khutbah Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin tersebut menjadi pengingat bahwa fenomena alam dapat menjadi sarana tafakkur dan muhasabah. Manusia menyadari keterbatasannya, kembali memohon kepada Allah, sekaligus menjalankan tanggung jawab untuk berikhtiar.
Pada akhirnya, doa yang dipanjatkan adalah agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa umat manusia, memperbaiki keadaan, mencukupi kebutuhan air bagi manusia dan seluruh makhluk-Nya, serta menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan.
(Redaksi)








