Selasa, 10 Maret 2026

“Menguatkan Akhlak di Bulan Ramadhan: Pesan KH Syairozi tentang Bahaya Ghibah dan pentingnya kerukunan”

KH. Syairozi Rais Syuriyah MWCNU Ngraho

 Margomulyo - Senin, 09 Maret 2026Suasana penuh khidmat dan nuansa spiritual Ramadhan kembali terasa di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, pada Senin, 09 Maret 2026. Sejak pukul 17.00 WIB hingga menjelang waktu berbuka puasa, masjid yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat tersebut dipenuhi jamaah dalam rangka mengikuti Kajian Buka Bersama (BUKBER) Ramadhan yang dilaksanakan di bagian dalam ruang utama masjid.

Kegiatan kajian tersebut diikuti oleh para pedagang yang beraktivitas di sekitar kawasan masjid, yang selama ini menjadi bagian penting dari dinamika ekonomi dan sosial di lingkungan Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin. Kehadiran para pedagang dalam forum kajian ini mencerminkan semangat kebersamaan serta kesadaran untuk menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum peningkatan keimanan sekaligus perbaikan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Bertindak sebagai pemateri dalam kajian tersebut adalah KH Syairozi, yang dikenal sebagai Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Ngraho. Dalam penyampaian materi yang komunikatif, ilmiah, dan sarat dengan pesan moral, beliau mengangkat tema penting mengenai menjauhi ghibah dan fitnah, dua perilaku yang sangat merusak hubungan sosial dan dilarang keras dalam ajaran Islam.


Ghibah dan Fitnah dalam Perspektif Islam

Dalam pemaparannya, KH Syairozi menjelaskan bahwa ghibah adalah membicarakan keburukan atau aib seseorang kepada orang lain, meskipun hal tersebut benar adanya. Sedangkan fitnah adalah menyampaikan keburukan seseorang yang tidak sesuai dengan fakta atau kenyataan. Kedua perilaku tersebut termasuk dalam kategori dosa besar karena dapat merusak kehormatan, persaudaraan, serta ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat. 

Islam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap perilaku ghibah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, serta janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kalian merasa jijik."
(QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat tersebut menggambarkan betapa buruknya perbuatan ghibah hingga diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa ghibah merupakan perilaku yang sangat tercela dalam pandangan Islam.



Faktor Penyebab Terjadinya Ghibah
Dalam kajiannya, KH Syairozi juga menjelaskan beberapa faktor yang sering menjadi penyebab munculnya perilaku ghibah dalam kehidupan sosial. Di antaranya adalah su’udzon (prasangka buruk), iri hati, dan hasad (dengki) yang mendorong seseorang untuk menjatuhkan orang lain melalui pembicaraan yang merendahkan martabatnya.

Menurut beliau, jika penyakit hati tersebut tidak dikendalikan, maka akan melahirkan berbagai konflik sosial yang merusak keharmonisan masyarakat. Oleh karena itu, Ramadhan harus dijadikan momentum untuk membersihkan hati dan memperbaiki akhlak, terutama dalam menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti orang lain.

Bentuk-bentuk Ghibah
Dalam kajian yang disampaikan secara sistematis tersebut, KH Syairozi juga menguraikan bahwa ghibah memiliki beberapa bentuk, antara lain:

  1. Al-Ghibah, yaitu membicarakan keburukan orang lain yang memang benar terjadi.
  2. Al-Ifki, yaitu menyampaikan kabar buruk tentang seseorang yang belum jelas kebenarannya.
  3. Al-Buhtan, yaitu menuduh atau membicarakan keburukan orang lain yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan, yang dalam istilah umum disebut sebagai fitnah.

Ketiga bentuk tersebut, menurut beliau, harus dihindari oleh setiap muslim karena dapat merusak kehormatan seseorang serta menimbulkan permusuhan di tengah masyarakat.

Keutamaan Rukun Puasa di Bulan Ramadhan
Selain membahas bahaya ghibah dan fitnah, KH Syairozi juga mengingatkan jamaah tentang keutamaan menjalankan rukun puasa dengan sempurna di bulan Ramadhan. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menuntut kesungguhan dalam menjaga sikap, ucapan, dan perilaku.

Beliau menjelaskan bahwa rukun puasa meliputi niat serta menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun secara spiritual, makna puasa jauh lebih luas, yaitu melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kesadaran bahwa setiap perbuatan manusia selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya."
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa yang sempurna adalah puasa yang mampu menjaga lisan dan perilaku dari segala bentuk keburukan.

Ramadhan sebagai Momentum Memperbaiki Akhlak
Menutup kajiannya, KH Syairozi mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum muhasabah diri, khususnya dalam menjaga kehormatan sesama muslim melalui pengendalian lisan dan hati.

Menurut beliau, masyarakat yang mampu menjaga lisan dari ghibah dan fitnah akan membangun kehidupan sosial yang penuh kepercayaan, persaudaraan, dan kedamaian. Sebaliknya, jika ghibah dan fitnah dibiarkan berkembang, maka yang muncul adalah konflik, perpecahan, serta rusaknya ukhuwah Islamiyah.

Dimensi Etika Sosial dalam Menjaga Lisan
Melanjutkan pemaparannya, KH Syairozi menegaskan bahwa menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim. Dalam banyak literatur klasik Islam, para ulama menempatkan pengendalian lisan sebagai indikator kedewasaan iman dan kematangan spiritual. Sebab, sebagian besar konflik sosial, permusuhan, bahkan perpecahan dalam masyarakat sering kali berawal dari ucapan yang tidak terjaga.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan tegas tentang pentingnya menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus memiliki prinsip kehati-hatian dalam berbicara. Setiap kata yang diucapkan tidak hanya memiliki dampak sosial, tetapi juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Dalam kajian tersebut juga dijelaskan bahwa ghibah dan fitnah sering kali muncul dari kebiasaan berbicara tanpa pertimbangan yang matang. Oleh karena itu, Islam mengajarkan prinsip tabayyun (klarifikasi) sebelum menerima atau menyampaikan suatu informasi, agar tidak terjerumus dalam dosa menyebarkan kabar yang tidak benar.

Perspektif Ulama tentang Bahaya Ghibah
Para ulama tasawuf dan akhlak sejak dahulu telah memberikan perhatian besar terhadap bahaya ghibah. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa ghibah merupakan penyakit hati yang sangat halus, karena sering kali dianggap sebagai hal yang biasa dalam pergaulan sosial, padahal dampaknya sangat besar terhadap kehormatan seseorang.

Menurut Al-Ghazali, seseorang yang terbiasa melakukan ghibah sebenarnya sedang merusak dirinya sendiri, karena pahala amal baiknya akan diberikan kepada orang yang digunjingkan. Jika pahala tersebut habis, maka dosa orang yang digunjingkan akan dipindahkan kepadanya. Inilah sebabnya ghibah disebut sebagai “kebangkrutan spiritual” dalam kehidupan seorang muslim.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Imam Nawawi, yang menegaskan bahwa kehormatan seorang muslim harus dijaga sebagaimana menjaga darah dan hartanya. Karena itu, membicarakan aib orang lain tanpa alasan syar’i merupakan pelanggaran serius terhadap etika Islam.

Ramadhan sebagai Momentum Penyucian Akhlak
Dalam konteks bulan Ramadhan, KH Syairozi mengingatkan bahwa puasa bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan menahan diri dari segala bentuk keburukan, termasuk ghibah, fitnah, dan ucapan yang menyakiti orang lain.

Puasa yang benar adalah puasa yang mampu membentuk karakter mulia, sehingga setelah Ramadhan seseorang menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih menjaga kehormatan sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ

“Apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berbuat bodoh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menegaskan bahwa esensi puasa adalah mendidik akhlak dan membentuk kepribadian yang lebih baik.

Relevansi Kajian bagi Kehidupan Masyarakat
Di akhir kajian, KH Syairozi mengajak para jamaah(khususnya para pedagang yang beraktivitas di sekitar masjid) untuk menjadikan nilai-nilai Ramadhan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran dalam berdagang, menjaga kepercayaan pelanggan, serta menjauhkan diri dari konflik sosial merupakan bentuk nyata dari implementasi ajaran Islam dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Menurut beliau, apabila masyarakat mampu menjaga lisan, menjauhi ghibah, serta menumbuhkan sikap saling menghormati, maka kehidupan sosial akan dipenuhi dengan kedamaian dan keberkahan.

Penutup: Menguatkan Spirit Ukhuwah di Bulan Ramadhan
Kajian Ramadhan yang berlangsung penuh hikmah tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk menjaga lisan, memperbaiki akhlak, serta memanfaatkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum meningkatkan kualitas keimanan.

Menjelang waktu berbuka puasa, suasana kebersamaan terasa semakin hangat ketika para jamaah saling berbincang dan berbagi pengalaman spiritual selama menjalankan ibadah puasa. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama, yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan.

Melalui rangkaian kajian Ramadhan yang terus dilaksanakan, Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin semakin memperkuat perannya sebagai pusat dakwah, pembinaan moral, serta penguatan ukhuwah Islamiyah bagi masyarakat Margomulyo dan sekitarnya.


#Drun.