Meneladani Rosululloh dan Menghidupkan Rahmat di Bulan Maulud


Sumberjo, Margomulyo — Jumat, 4 September 2026 — Masjid Wisata Religi Sumberjo kembali menjadi tempat berlangsungnya ibadah Salat Jumat yang penuh khidmat. Kegiatan dilaksanakan pada Jumat, 4 September 2026, mulai pukul 11.30 WIB hingga selesai, dan diikuti oleh jamaah dengan penuh perhatian.


Pada kesempatan tersebut, Kiyai Badrun Sulaiman, selaku Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, bertindak sebagai khatib sekaligus imam Salat Jumat. Dalam khutbahnya yang mengangkat tema “Rahmat di Bulan Maulid”, beliau mengajak jamaah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.


Rabiul Awal, Bulan Kelahiran Rasulullah ﷺ


Mengawali khutbah, Kiyai Badrun Sulaiman mengingatkan jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dengan melaksanakan seluruh kewajiban dan menjauhi segala sesuatu yang diharamkan. Pesan tersebut menjadi fondasi penting dalam menyambut bulan Rabiul Awal, bulan yang di dalamnya umat Islam mengenang kelahiran manusia paling mulia, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.


Dalam khutbah disebutkan pula ungkapan yang dinisbatkan sebagai hadis qudsi:


قال الله تعالى لآدم لولا محمد ماخلقتك


“Allah SWT berkata kepada Nabi Adam AS: Jika tidak karena Muhammad, Aku tidak menciptakanmu.”


Ungkapan tersebut digunakan dalam materi khutbah untuk menggambarkan kemuliaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم serta kedudukan beliau sebagai pembawa dan penyampai wahyu Al-Qur'an kepada umat manusia.


Rasulullah ﷺ sebagai Rahmat bagi Semesta Alam


Memasuki pembahasan utama, jamaah diajak untuk menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai kesempatan memperkuat persatuan, meningkatkan ketakwaan dan menghadirkan nilai-nilai ajaran Rasulullah dalam realitas kehidupan.


Rasulullah صلى الله عليه وسلم diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, keberadaan beliau sebagai rahmat semestinya disyukuri dengan memperbanyak membaca shalawat, memperbanyak sedekah serta memberikan kebahagiaan kepada kaum fakir miskin dan mereka yang membutuhkan.


Materi khutbah juga mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS. Yunus ayat 58:


قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ


“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”


Khutbah kemudian menjelaskan bahwa para mufasir memiliki pendapat mengenai makna “rahmat” dalam ayat tersebut. Dalam materi yang disampaikan, Imam as-Suyuthi melalui Ad-Durrul Mantsur menerangkan bahwa rahmat yang dimaksud berkaitan dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Pendapat tersebut juga dikaitkan dengan penjelasan Ibnu Abbas mengenai karunia Allah berupa ilmu dan rahmat-Nya berupa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.


Memaknai Maulid dengan Al-Qur'an dan Keteladanan


Menurut materi khutbah, kegembiraan menyambut kelahiran Rasulullah صلى الله عليه وسلم hendaknya diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang memberikan manfaat dan semakin mendekatkan umat kepada Allah SWT.


Mengutip pandangan Imam al-Suyuthi dalam Husnul Maqshad fi Amalil Maulid, materi khutbah menjelaskan bahwa bentuk peringatan Maulid dapat diisi dengan berkumpul, membaca Al-Qur'an, menyampaikan kisah-kisah keteladanan Rasulullah, serta menyediakan makanan yang dinikmati bersama. Materi tersebut menyebut aktivitas demikian sebagai bagian dari bentuk kegembiraan dan penghormatan kepada kelahiran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.


Al-Qur'an menjadi bagian penting karena merupakan mukjizat Rasulullah sekaligus pedoman hidup umat Islam. Sementara kisah kehidupan Rasulullah menjadi sumber keteladanan bagi seluruh lapisan masyarakat, baik pemuda, pedagang, suami, pemimpin maupun seluruh umat beliau.


Materi khutbah juga mengutip pandangan Ibn Taimiyah mengenai orang-orang yang memperingati Maulid. Dalam kutipan tersebut dijelaskan bahwa pahala berkaitan dengan kecintaan dan penghormatan kepada Nabi, sementara penilaian terhadap bentuk perayaannya dibahas secara tersendiri dalam materi tersebut.


Tanda-Tanda Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ


Bagian penting berikutnya adalah mengenai bagaimana cinta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم seharusnya dibuktikan. Menurut khutbah, kegembiraan menyambut kelahiran Nabi merupakan salah satu ekspresi kecintaan, tetapi cinta tersebut harus diwujudkan melalui perilaku nyata.


Tanda pertama adalah ketaatan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kesediaan mengikuti sunnah beliau. Materi khutbah menegaskan:


من يطع الرسول فقد أطاع الله


“Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah taat kepada Allah SWT.”


Karena itu, pengakuan cinta kepada Rasulullah perlu dibuktikan melalui kepatuhan terhadap ajaran dan sunnah beliau.


Tanda kedua adalah memperbanyak membaca shalawat. Materi khutbah menyebut bahwa orang yang mencintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم akan memperbanyak shalawat kepada beliau, dengan harapan memperoleh syafaat dan menyertai beliau di surga.


Sedangkan tanda ketiga adalah memperbanyak mengingat Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mempelajari perjalanan hidup, perjuangan dan kebijaksanaan beliau, kemudian menjadikannya sebagai teladan dalam kehidupan.


Sebagaimana ungkapan yang dicantumkan dalam materi khutbah:


من أحب شيئًا أكثر من ذكره


“Barang siapa mencintai sesuatu, pastilah ia akan banyak menyebutnya.”


Cinta kepada Nabi Harus Melahirkan Kepedulian Sosial


Menariknya, khutbah tidak berhenti pada pembahasan cinta secara personal kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Kiyai Badrun Sulaiman mengajak jamaah untuk menerjemahkan kecintaan tersebut menjadi kepedulian sosial.


Di tengah kondisi bencana dan berbagai kesulitan yang dialami sebagian masyarakat, umat Islam memiliki kesempatan untuk membuktikan kecintaan kepada Rasulullah dengan membantu mereka yang membutuhkan, baik melalui tenaga maupun bantuan materi.


Rasulullah صلى الله عليه وسلم dikenal sebagai sosok yang memberikan pertolongan kepada kaum lemah dan mendahulukan kepentingan umat dibandingkan kepentingan pribadi maupun golongan. Karena itu, momentum Maulid hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbanyak sedekah, amal saleh dan aksi nyata membantu sesama.


Dengan demikian, pesan utama khutbah “Rahmat di Bulan Maulid” dapat dipahami sebagai ajakan untuk menjadikan Maulid Nabi bukan hanya sebagai momentum mengenang kelahiran Rasulullah صلى الله عليه وسلم, tetapi sebagai sarana memperkuat kecintaan kepada beliau, meningkatkan ketakwaan, memperbanyak shalawat, mengikuti sunnah dan menghadirkan kepedulian kepada sesama.


Kegiatan Salat Jumat di Masjid Wisata Religi Sumberjo tersebut pun menjadi momentum yang sarat nilai spiritual. Dari mimbar Jumat, jamaah diajak menyadari bahwa cinta kepada Rasulullah bukan sekadar ungkapan lisan, melainkan harus hadir dalam ketaatan, akhlak, shalawat, keteladanan dan kepedulian sosial.


Semoga momentum bulan Maulid senantiasa menjadi jalan bagi umat Islam untuk semakin mengenal, mencintai dan meneladani Rasulullah صلى الله عليه وسلم, serta mampu menghadirkan nilai rahmat beliau dalam kehidupan bermasyarakat.


اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar