MARGOMULYO – Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin kembali menjadi tempat berlangsungnya ibadah dan penguatan nilai-nilai keislaman melalui kegiatan salat Jumat pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 11.45 WIB hingga selesai ini berlangsung dengan khidmat. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam salat Jumat adalah Gus AFI, yakni Risyaf Mu’afi, M.Pd., Pengasuh Pondok Pesantren Assyakur, Sumberjo.
Dalam khutbahnya, Gus AFI mengangkat tema “Pentingnya Ikhlas dan Meluruskan Niat dalam Beramal.” Tema ini mengajak jamaah untuk kembali merenungkan hakikat ibadah dan amal kebaikan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut pesan khutbah tersebut, kebaikan tidak cukup hanya diwujudkan melalui tindakan lahiriah, tetapi juga harus disertai niat yang benar dan hati yang tulus karena Allah SWT.
Mengawali khutbah, Gus AFI mengingatkan pentingnya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Di tengah kesibukan hidup yang semakin kompleks, umat Islam perlu membiasakan diri menghadirkan kesadaran dalam setiap aktivitas, baik ketika bekerja, mengurus keluarga, bersedekah, membantu sesama, maupun menjalankan ibadah.
Ia mengajak jamaah untuk senantiasa bertanya kepada diri sendiri: mengapa suatu amal dilakukan dan untuk siapa amal tersebut ditujukan? Pertanyaan sederhana ini penting agar setiap perbuatan tidak sekadar menjadi rutinitas atau formalitas, melainkan benar-benar dilandasi kesadaran untuk mencari rida Allah SWT.
Sebagai landasan utama, khutbah tersebut mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Ayat tersebut menegaskan bahwa keikhlasan merupakan fondasi penting dalam beribadah. Ikhlas berarti menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dalam menjalankan ketaatan, bukan semata-mata mengharapkan pujian, penghargaan, atau pengakuan manusia.
Dalam penjelasan yang dikutip dari kitab Al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, dengan merujuk pendapat Imam al-Qusyairi, disebutkan definisi ikhlas sebagai berikut:
الإِخْلَاصُ إِفْرَادُ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ فِي الطَّاعَةِ بِالْقَصْدِ
Artinya: “Ikhlas adalah mengkhususkan Allah SWT dalam ketaatan dengan menjadikan-Nya satu-satunya tujuan.”
Pesan tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, ketika berbagai aktivitas kebaikan semakin mudah diketahui publik, termasuk melalui media sosial. Gus AFI mengingatkan bahwa mendokumentasikan amal tidak serta-merta berarti riya. Demikian pula, menerima pujian tidak otomatis menghilangkan keikhlasan. Hal terpenting adalah menjaga hati agar pandangan manusia tidak menggantikan kedudukan rida Allah sebagai tujuan utama beramal.
Khutbah juga mengisahkan peristiwa pada masa Rasulullah SAW tentang seorang sahabat bernama Ma‘n bin Yazid. Ayahnya, Yazid, mengeluarkan sejumlah dinar untuk disedekahkan kepada orang yang berhak menerima. Namun, uang tersebut justru diterima oleh anaknya sendiri, yang ternyata juga termasuk orang yang berhak mendapatkan sedekah. Persoalan itu kemudian disampaikan kepada Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
يَا يَزِيدُ، لَكَ مَا نَوَيْتَ، وَيَا مَعْنُ، لَكَ مَا أَخَذْتَ
Artinya: “Wahai Yazid, engkau mendapatkan apa yang engkau niatkan; dan wahai Ma‘n, engkau mendapatkan apa yang engkau ambil.” (HR. Al-Bukhari No. 1422).
Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa niat yang tulus memiliki kedudukan penting dalam penilaian amal. Manusia mungkin hanya melihat hasil yang tampak, sedangkan Allah SWT mengetahui niat yang tersimpan di dalam hati. Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak mudah berputus asa ketika kebaikannya tidak mendapatkan apresiasi atau balasan dari orang lain.
Lebih lanjut, jamaah diajak untuk membiasakan diri meluruskan niat sebelum beramal, menjaga keikhlasan ketika melaksanakannya, serta menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT setelah selesai. Sikap ini diharapkan dapat menumbuhkan ketenangan hati, memperkuat semangat berbuat baik, dan menjauhkan diri dari keinginan memperoleh pengakuan semata.
Melalui khutbah Jumat tersebut, kegiatan keagamaan di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin tidak hanya menjadi sarana menunaikan kewajiban ibadah, tetapi juga momentum untuk memperbaiki kualitas diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Pesan tentang ikhlas dan meluruskan niat diharapkan dapat diterapkan oleh jamaah dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, pelayanan masyarakat, serta berbagai bentuk pengabdian lainnya.
Pada akhirnya, setiap amal kebaikan hendaknya dilakukan dengan niat yang lurus, hati yang tulus, dan harapan memperoleh rida Allah SWT. Sebab, nilai sebuah amal bukan semata-mata terletak pada seberapa banyak orang yang menyaksikannya, melainkan juga pada ketulusan yang mendasarinya dan penerimaannya di sisi Allah SWT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar