Kiyai Rosidi Sampaikan Pentingnya Konsumsi Halal dan Tayib dalam Khutbah Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin


MARGOMULYO – Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin kembali menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ibadah dan dakwah Islam melalui pelaksanaan salat Jumat pada Jumat, 16 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 11.45 WIB hingga selesai tersebut berlangsung dengan khidmat. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam salat Jumat adalah Kiyai Rosidi, yang merupakan bagian dari jajaran Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Margomulyo.

Dalam khutbahnya, Kiyai Rosidi menyampaikan materi bertema “Halal dan Tayib sebagai Standar Etika Pangan dan Kesehatan Umat.” Materi ini mengajak jamaah untuk memahami bahwa ajaran Islam tidak hanya mengatur tata cara beribadah, tetapi juga memberikan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk memilih makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Mengawali khutbah, khatib mengingatkan pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan, menurut pesan khutbah tersebut, tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat, dan haji, tetapi juga dalam kesadaran memilih makanan yang halal, baik, bersih, dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Sebagai landasan utama, Kiyai Rosidi mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 168:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

Artinya: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah 
2

Ayat tersebut menegaskan bahwa umat Islam diperintahkan untuk memperhatikan dua prinsip penting dalam konsumsi pangan, yaitu halal dan tayib. Halal berkaitan dengan status hukum makanan menurut syariat Islam, sedangkan tayib mencakup aspek kebaikan, kebersihan, keamanan, kualitas, serta manfaatnya bagi kesehatan.

Dengan demikian, makanan yang halal belum tentu memenuhi seluruh kriteria tayib apabila tercemar, membahayakan kesehatan, atau mengandung bahan yang merugikan tubuh. Oleh karena itu, umat Islam perlu memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi tidak hanya dibolehkan menurut syariat, tetapi juga aman dan layak dikonsumsi.

Dalam khutbahnya, Kiyai Rosidi juga mengingatkan tantangan masyarakat modern dalam memilih pangan. Beragam makanan olahan kini tersedia dengan tambahan bahan pengawet, perasa sintetis, maupun bahan yang status kehalalannya perlu diperiksa. Tampilan makanan yang menarik tidak selalu menjamin keamanan dan kualitasnya. Karena itu, masyarakat perlu lebih cermat membaca label produk serta memastikan kehalalan bahan dan proses pengolahannya.

Pesan tersebut diperkuat dengan hadis Rasulullah SAW:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim).

Hadis ini mengingatkan bahwa persoalan makanan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan jasmani, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan spiritual seorang muslim. Makanan dan penghasilan yang halal menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan hati, keberkahan hidup, serta kualitas ibadah kepada Allah SWT.

Selain itu, khatib mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-A‘raf ayat 157:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

Artinya: “Dia menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka.” (QS. Al-A‘raf 
7

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ketentuan halal dan haram merupakan bagian dari kasih sayang Allah SWT kepada manusia. Larangan terhadap sesuatu yang buruk dan membahayakan mengandung pelajaran agar manusia menjaga diri, keluarga, serta lingkungan kehidupannya dari hal-hal yang merusak.

Menutup khutbahnya, Kiyai Rosidi mengajak jamaah untuk membiasakan pola makan sehat, memperhatikan kebutuhan gizi keluarga, memeriksa informasi kehalalan produk, dan menghindari konsumsi secara berlebihan. Kesehatan merupakan nikmat besar yang perlu disyukuri dan dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Melalui kegiatan salat Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin ini, jamaah diharapkan semakin memahami bahwa penerapan prinsip halal dan tayib merupakan wujud ketakwaan yang nyata. Dengan memilih makanan yang halal, baik, dan bermanfaat, umat Islam tidak hanya berupaya menjaga kesehatan jasmani, tetapi juga membangun kehidupan keluarga yang lebih berkualitas, menumbuhkan keberkahan rezeki, dan meningkatkan kualitas pengabdian kepada Allah SWT.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar