MARGOMULYO — Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin, Sumberjo, Margomulyo, kembali menjadi ruang penguatan spiritual dan refleksi kebangsaan melalui pelaksanaan Salat Jumat pada Jumat, 14 Agustus 2026, pukul 11.45–12.30 WIB. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam adalah Gus Afi (Risyaf Mu’afi, M.Pd.I.), Pengasuh Pondok Pesantren Assyakur Mojosari, Sumberjo, Margomulyo.
Dalam khutbahnya, Gus Afi mengangkat tema pentingnya menyikapi kemerdekaan sebagai sebuah nikmat sekaligus amanah yang harus diwujudkan melalui rasa syukur, tanggung jawab, persatuan, serta perilaku yang sesuai dengan tuntunan agama. Materi khutbah yang disampaikan menempatkan momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar sebagai kesempatan untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang meriah, tetapi juga sebagai momentum untuk menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT, kecintaan kepada bangsa, penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan, dan kesadaran untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi berikutnya.Dalam khutbahnya, Gus Afi mengingatkan bahwa kemerdekaan merupakan karunia besar yang patut disyukuri. Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’” (QS Ibrahim: 7).
Pesan utama yang ditekankan adalah bahwa syukur tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah, tetapi harus diwujudkan dengan menggunakan setiap nikmat sesuai dengan tujuan yang diridhai Allah SWT. Dalam konteks kemerdekaan, kebebasan yang telah diwariskan melalui perjuangan para pendahulu harus digunakan untuk melakukan kebaikan, membangun bangsa, menjaga persatuan, dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat. Sebaliknya, kemerdekaan tidak semestinya dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan moral.
إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي عَمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا فِيهِمْ يَوْمَئِذٍ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: بَلَى، قُلْتُ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ؟ قَالَ: يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسُ ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ
Dalam uraian khutbah, hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak berarti kebebasan tanpa batas. Kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab, termasuk tanggung jawab moral dan keagamaan dalam setiap aktivitas sosial masyarakat.
Lebih jauh, Gus Afi mengajak jamaah untuk menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai momentum menghadirkan kegiatan yang benar-benar memberikan manfaat sosial. Semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui berbagai amal kebajikan, seperti santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, donor darah, pengobatan gratis, menjaga kebersihan lingkungan, serta kegiatan sosial lainnya. Di tengah perkembangan teknologi dan kehidupan generasi muda yang semakin digital, peringatan kemerdekaan juga dapat dikemas secara kreatif dan edukatif dengan memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan pesan positif tentang nasionalisme dan kehidupan bermasyarakat.
Pada bagian akhir materi, khutbah mengarahkan jamaah untuk memahami syukur atas kemerdekaan dalam bentuk pengabdian kepada Allah SWT dan kepedulian terhadap kehidupan sosial. Al-Qur’an mengaitkan pertolongan Allah dengan orang-orang yang menegakkan salat, menunaikan zakat, mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Firman Allah SWT tersebut dikutip dalam khutbah:
وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan milik Allah-lah kesudahan segala urusan.”
Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin tersebut menjadi momentum yang relevan untuk mempertemukan nilai keagamaan dan kebangsaan. Kemerdekaan dipahami bukan hanya sebagai sejarah yang diperingati setiap tahun, melainkan sebagai amanah yang harus dirawat melalui rasa syukur, akhlak yang baik, kepedulian sosial, persatuan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, semangat kemerdekaan dapat tumbuh sejalan dengan penguatan iman dan ketakwaan, sehingga kemerdekaan benar-benar menghadirkan kemanfaatan dan keberkahan bagi kehidupan bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar