Menjemput Kesadaran Akhirat: Pesan Huda di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin

menjemput-kesadaran-akhirat-pesan-huda-di-masjid-wisata-religi-samin-baitul-muttaqin
Huda Afrianto, S.Ag. (tengah) Sekretaris LWP PCNU Bojonegoro.

Sumberjo, Margomulyo — Jumat, 25 September 2026. Suasana khidmat menyelimuti Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin, Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, pada Jumat, 25 September 2026. Sejak menjelang tengah hari, jamaah mulai berdatangan untuk menunaikan ibadah Salat Jumat. Tepat sekitar pukul 11.35 WIB, rangkaian ibadah Jumat dimulai dan berlangsung hingga selesai.

Pada kesempatan tersebut, Huda Afrianto, S.Ag., Kepala KUA Kecamatan Margomulyo sekaligus Sekretaris LWP PCNU Bojonegoro, bertindak sebagai khatib sekaligus imam Salat Jumat.

Dalam khutbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Tema yang disampaikan begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni tentang kecenderungan manusia mencintai dunia secara berlebihan hingga tidak pernah merasa cukup.

Penyakit Hati yang Tidak Terlihat

Mengawali khutbah, jamaah diajak menyadari bahwa ada sebuah penyakit yang tidak tampak secara fisik, tetapi dapat bersarang di dalam hati manusia. Penyakit tersebut membuat seseorang terus mengejar dunia dan sulit merasakan kecukupan.

Allah SWT berfirman:

وَتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”
(QS. Al-Fajr: 20)

Khatib menggambarkan bagaimana keinginan manusia sering kali terus berkembang. Ketika belum memiliki rumah, seseorang merasa akan bersyukur jika sudah mempunyai rumah. Namun setelah rumah dimiliki, muncul keinginan untuk memiliki rumah yang lebih besar. Demikian pula kendaraan, penghasilan, harta dan berbagai kenikmatan dunia lainnya.

Sering kali yang bertambah bukan rasa syukur, melainkan keinginan demi keinginan baru.

Rasulullah SAW bahkan telah menggambarkan sifat manusia tersebut dalam sabdanya:

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَانِيًا، وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak Adam mempunyai satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang akan memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa sebanyak apa pun harta yang dimiliki, apabila hati tidak memiliki rasa cukup, manusia akan terus mengejar dan mengejar. Harta dapat memenuhi rumah, tetapi belum tentu memenuhi ketenteraman hati. Uang dapat memenuhi rekening, tetapi belum tentu menghadirkan ketenangan jiwa.

Bermegah-megahan yang Melalaikan

Selanjutnya, khutbah mengingatkan jamaah tentang bahaya berlomba-lomba memperbanyak harta hingga melupakan tujuan hidup yang sebenarnya.

Allah SWT berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Ayat tersebut menjadi peringatan bahwa persoalan dunia bukan semata-mata karena manusia memiliki harta. Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya, memiliki rumah yang baik, kendaraan yang layak maupun kehidupan yang berkecukupan. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kecintaan terhadap dunia menguasai hati dan menjadikannya sebagai tujuan utama kehidupan.

Mengapa Manusia Begitu Rakus terhadap Dunia?

Dalam khutbahnya, khatib menjelaskan beberapa sebab yang membuat manusia mudah terjebak dalam kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Pertama, manusia memang dihiasi oleh kecintaan terhadap berbagai kesenangan duniawi. Allah SWT berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk berupa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
(QS. Ali 'Imran: 14)

Islam tidak melarang manusia menikmati kehidupan dunia. Namun, kenikmatan dunia hendaknya tidak berubah menjadi tujuan akhir kehidupan. Harta dan segala fasilitas dunia seharusnya menjadi sarana untuk mencapai tujuan hidup yang lebih hakiki, yaitu kehidupan akhirat.

Sebab kedua adalah ketika manusia lupa bahwa dirinya akan kembali kepada Allah SWT. Kesadaran tentang kematian, alam barzakh, kebangkitan, hisab dan pertanggungjawaban akan membuat manusia lebih berhati-hati dalam mencari dan menggunakan harta.

Allah SWT berfirman:

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ ۝ وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

“Sekali-kali jangan demikian! Bahkan kalian mencintai kehidupan dunia yang segera, dan mengabaikan kehidupan akhirat.”
(QS. Al-Qiyamah: 20–21)

Jangan Sampai Rumah Besar, Tetapi Tidak Memiliki Tempat di Surga

Bagian khutbah yang menjadi renungan mendalam bagi jamaah adalah ajakan untuk tidak terlalu sibuk memperbanyak bekal dunia, sementara bekal akhirat justru terlupakan.

Jangan sampai seseorang memiliki rumah yang besar di dunia tetapi tidak memiliki tempat di surga. Jangan sampai rekeningnya penuh, tetapi catatan amalnya kosong.

Kematian pada akhirnya akan menghentikan seluruh ambisi duniawi. Ketika ajal datang, manusia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menambah harta, memperbaiki amal atau mengulang waktu yang telah berlalu.

Padahal, menurut pesan khutbah tersebut, setiap pagi yang masih kita jumpai adalah kesempatan. Setiap rezeki yang kita terima adalah kesempatan. Setiap pertambahan usia adalah kesempatan. Setiap azan yang terdengar adalah kesempatan. Bahkan setiap Jumat yang masih dapat kita jumpai adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.

Karena itu, sebelum mulut ditutup oleh tanah, manusia hendaknya belajar menguatkan qanaah, bukan keserakahan. Sebelum tangan tidak mampu lagi bergerak, hendaknya tangan digunakan untuk bersedekah. Sebelum kaki tidak mampu lagi melangkah, hendaknya digunakan untuk menuju masjid, majelis taklim dan tempat-tempat yang diridai Allah SWT.

Jumat sebagai Momentum Muhasabah

Khutbah Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin tersebut pada akhirnya bukan sekadar menyampaikan pesan tentang harta dan dunia. Lebih dari itu, khutbah menjadi momentum muhasabah, mengajak setiap jamaah melihat kembali ke dalam dirinya masing-masing: untuk apa harta dicari, ke mana usia digunakan, dan seberapa banyak bekal yang telah dipersiapkan untuk kehidupan setelah kematian.

Dunia memang tempat manusia menjalani kehidupan, bekerja, berusaha dan memenuhi kebutuhan. Namun dunia bukan tempat tinggal untuk selamanya. Pada akhirnya, setiap manusia akan meninggalkan apa yang dimilikinya dan menghadap kepada Allah SWT dengan membawa amal perbuatannya.

Karena itu, pesan utama khutbah tersebut menjadi sangat kuat: jangan biarkan kecintaan kepada dunia membuat kita lupa kepada akhirat. Milikilah dunia secukupnya, syukuri apa yang ada, gunakan harta untuk kebaikan, dan jadikan kehidupan dunia sebagai jalan menuju keridaan Allah SWT.

Di penghujung khutbah, jamaah diajak memohon kepada Allah SWT agar senantiasa diberikan kemampuan untuk mengganti ketamakan dengan rasa syukur, diampuni segala dosa, serta kelak dikumpulkan bersama orang-orang saleh dan memperoleh tempat terbaik di surga.

Dengan berakhirnya pelaksanaan Salat Jumat, kegiatan di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin pada Jumat tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh perenungan. Pesan khutbah diharapkan tidak berhenti sebagai nasihat yang didengar sesaat, tetapi menjadi pengingat untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana: bekerja tanpa diperbudak dunia, memiliki harta tanpa diperbudak harta, serta menikmati kehidupan dunia sambil terus mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar