MARGOMULYO — Jumat, 2 Oktober 2026. Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin, Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, pada Jumat, 2 Oktober 2026, berlangsung khidmat dan penuh nuansa reflektif. Dimulai sekitar pukul 11.35 WIB hingga selesai, jamaah mendapatkan pesan penting melalui khutbah Jumat yang disampaikan oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Kecamatan Margomulyo, yang sekaligus bertindak sebagai khatib dan imam Salat Jumat.
Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema pentingnya belajar dari sejarah, menjaga persatuan, melakukan tabayyun, serta membangun sikap bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Jamaah diajak memahami bahwa sejarah Islam bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber pelajaran yang dapat dijadikan bekal untuk menjalani kehidupan masa kini dan menghadapi masa depan.
Jumat Menjadi Momentum Mendekatkan Diri kepada Allah
Mengawali khutbah, Kiyai Badrun Sulaiman mengajak jamaah untuk memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan rahmat yang telah diberikan.
Hari Jumat menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk sejenak meninggalkan kesibukan duniawi, pekerjaan, dan berbagai aktivitas lainnya, kemudian melangkahkan kaki menuju masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT.
Dalam khutbahnya, jamaah juga kembali diingatkan agar senantiasa meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
Rabiul Akhir, Bulan yang Sarat Pelajaran Sejarah
Salah satu pokok utama khutbah adalah pembahasan mengenai bulan Rabiul Akhir. Dalam materi khutbah disebutkan bahwa Rabiul Akhir memiliki sejumlah catatan sejarah penting dalam perjalanan umat Islam.
Di antaranya adalah peristiwa yang berkaitan dengan turunnya Surat Al-Hasyr serta peristiwa Perang Buhran. Dari berbagai peristiwa tersebut terdapat sejumlah pelajaran yang dapat diambil umat Islam, antara lain tentang kewaspadaan terhadap pengkhianatan, pentingnya persatuan, ketegasan dalam kebenaran, keadilan dalam kepemimpinan, serta sikap bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan.
Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Sejarah harus menjadi cermin untuk memperbaiki kehidupan hari ini.
Belajar dari Kisah Bani Nadhir
Khatib kemudian menguraikan kandungan QS. Al-Hasyr ayat 2 yang berkaitan dengan peristiwa pengusiran Bani Nadhir dari Madinah.
Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari siksa Allah. Maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah kejadian itu untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (QS. Al-Hasyr: 2).
Pesan penting dari ayat tersebut terletak pada firman Allah:
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
“Maka ambillah kejadian itu untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap peristiwa harus mampu melahirkan ibrah. Umat Islam perlu memiliki kemampuan membaca sejarah secara bijaksana agar kesalahan yang pernah terjadi tidak kembali terulang.
Pentingnya Tabayyun di Tengah Derasnya Arus Informasi
Materi khutbah kemudian mengangkat peristiwa Perang Buhran yang terjadi pada tahun ketiga Hijriyah. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW mendapatkan informasi mengenai potensi ancaman dari Bani Sulaim. Rasulullah SAW kemudian berangkat bersama para sahabat untuk memastikan keadaan tersebut.
Namun, setelah sampai di wilayah Buhran, kelompok yang dikhawatirkan tersebut telah berpencar. Tidak terjadi peperangan dan Rasulullah SAW kembali ke Madinah tanpa pertumpahan darah.
Dari peristiwa tersebut, terdapat pelajaran penting mengenai tabayyun, kehati-hatian dan pengendalian diri.
Pesan ini menjadi sangat relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Berbagai informasi dapat menyebar dalam hitungan detik melalui media sosial. Karena itu, umat Islam hendaknya tidak mudah percaya terhadap setiap informasi yang diterima, apalagi langsung menyebarkannya tanpa mengetahui kebenarannya.
Tabayyun menjadi bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Memastikan kebenaran informasi sebelum menyampaikannya merupakan salah satu cara menjaga persaudaraan dan mencegah munculnya kesalahpahaman maupun konflik di tengah masyarakat.
Islam Mengajarkan Kedamaian dan Perlindungan
Khutbah juga menjelaskan mengenai peperangan pada masa Rasulullah SAW. Materi menegaskan bahwa peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW bukanlah untuk memulai permusuhan, tetapi berkaitan dengan pembelaan terhadap kaum Muslimin yang mendapatkan perlakuan zalim.
Allah SWT berfirman:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
“Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa membela mereka.”
(QS. Al-Hajj: 39).
Lebih jauh, materi khutbah juga mengingatkan bahwa Islam memberikan perlindungan kepada orang yang meminta keamanan. Allah SWT berfirman:
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ
“Jika seseorang di antara orang-orang musyrik ada yang meminta pelindungan kepadamu, lindungilah dia supaya dia dapat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.”
(QS. At-Taubah: 6).
Pesan tersebut mengajarkan pentingnya menjaga keamanan, menghormati kehidupan, serta mengedepankan sikap yang tidak gegabah dalam menghadapi perbedaan.
Sejarah Adalah Bekal Menghadapi Masa Depan
Menjelang akhir khutbah, jamaah diajak memahami bahwa keberhasilan dan kegagalan yang tercatat dalam sejarah harus sama-sama menjadi bahan pembelajaran.
Kesuksesan masa lalu dapat dijadikan teladan untuk diwujudkan dalam kehidupan sekarang. Sementara kegagalan harus menjadi peringatan agar tidak kembali terjadi di masa mendatang.
Karena itu, mempelajari sejarah bukan sekadar mengetahui apa yang pernah terjadi. Lebih dari itu, sejarah harus mampu membentuk sikap, karakter dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin sebagai Ruang Pembinaan Umat
Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin Sumberjo Margomulyo Bojonegoro menjadi salah satu momentum pembinaan keagamaan bagi masyarakat.
Melalui khutbah Jumat, jamaah tidak hanya mendapatkan penguatan spiritual, tetapi juga diajak memahami berbagai persoalan kehidupan melalui perspektif nilai-nilai Islam.
Pesan Kiyai Badrun Sulaiman pada Jumat kali ini menjadi pengingat bahwa umat Islam perlu terus belajar dari sejarah, memperkuat persatuan, berhati-hati menerima informasi, melakukan tabayyun, serta menjaga kedamaian di tengah kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, sejarah akan benar-benar memberikan manfaat apabila mampu mengubah cara manusia bersikap dan mengambil keputusan.
Semoga momentum bulan Rabiul Akhir menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperkuat ukhuwah, menjaga persatuan dan menjadikan perjalanan sejarah umat sebagai bekal untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Dari Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin, pesan Jumat itu kembali mengingatkan: sejarah bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan pelajaran.
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang mampu mengambil ibrah dari setiap peristiwa dan istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar