Jumat, 27 Februari 2026

“Ramadan Bukan Sekadar Puasa: Achmad Maqin Guncang Mimbar Jum’at Margomulyo dengan Seruan Transformasi Total”



Margomulyo, Bojonegoro. Jum’at, 27 Februari 2026– Atmosfer religius yang khidmat menyelimuti Masjid Wisata Religi Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, pada Jum’at, 27 Februari 2026, sejak pukul 11.30 WIB hingga selesai. Jamaah yang terdiri dari warga sekitar serta para peziarah yang hadir memadati ruang utama masjid, menyatu dalam ibadah Shalat Jum’at yang sarat makna spiritual menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Bertindak sebagai khotib dan imam adalah Bapak Achmad Maqin, S.Fil.I., M.H., yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua MWCNU Padangan sekaligus Kepala KUA Kecamatan Kasiman. Dengan gaya penyampaian yang sistematis, reflektif, dan argumentatif, beliau mengangkat tema besar tentang keutamaan Ramadan dalam dimensi waktu dan tempat serta urgensi optimalisasi ibadah sebagai proses pembentukan karakter takwa.

Ramadan: Dimensi Waktu yang Dimuliakan Allah

Dalam khutbahnya, Achmad Maqin menegaskan bahwa kemuliaan dalam Islam seringkali terkait dengan dua dimensi utama: dimensi waktu dan dimensi tempat. Ramadan, menurut beliau, adalah contoh konkret dimensi waktu yang diagungkan Allah SWT. Seluruh amal ibadah di dalamnya mengalami pelipatan pahala secara luar biasa.

Mengutip pandangan para ulama, termasuk penjelasan Ibnu Muflih dalam Adab Asy-Syar’iyyah, beliau menjelaskan bahwa sebagaimana pahala dilipatgandakan pada waktu dan tempat yang mulia, demikian pula dosa dapat berlipat apabila dilakukan pada momentum yang diagungkan. Oleh sebab itu, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan juga bulan pengendalian diri yang menuntut kehati-hatian moral dan spiritual.

Beliau mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:

“Takutlah kalian terhadap bulan Ramadan, karena pada bulan ini kebaikan dilipatgandakan sebagaimana dosa juga dilipatgandakan.”

Pesan tersebut menjadi peringatan serius bahwa Ramadan bukan hanya peluang meraih pahala, tetapi juga ujian integritas diri.

Puasa sebagai Ibadah Tarkiyyah: Pendidikan Pengendalian Diri

Dalam pendekatan yang lebih filosofis, Achmad Maqin menguraikan bahwa puasa memiliki karakter unik dibanding ibadah lainnya. Jika shalat dan haji merupakan ibadah fi’liyyah (ibadah yang dilakukan melalui tindakan nyata), maka puasa adalah ibadah tarkiyyah—ibadah dengan meninggalkan sesuatu.

Puasa bukan melakukan sesuatu yang terlihat, tetapi justru menahan diri dari makan, minum, dan syahwat. Karena sifatnya yang privat dan minim potensi riya’, puasa menjadi medium paling efektif dalam membangun kesadaran batin dan kejujuran spiritual.

Beliau menekankan bahwa pengalaman langsung menahan lapar dan dahaga adalah proses pendidikan karakter yang nyata. Dalam konteks psikologis dan sosial, puasa melatih ketangguhan, kesabaran, serta empati terhadap sesama. Dengan demikian, Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi laboratorium pembentukan integritas moral.

Ramadan sebagai “Big Sale” Spiritual

Dalam analogi yang kuat dan komunikatif, Achmad Maqin menyebut Ramadan sebagai “big sale” atau obral besar pahala. Allah SWT memberikan fasilitas maksimal—pelipatan pahala tanpa batas melalui firman-Nya dalam hadis qudsi:

“As-shoumu lii wa ana ajzii bihi” (Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya).

Artinya, ganjaran puasa tidak lagi mengikuti standar hitungan matematis seperti ibadah lainnya (10 kali lipat, 27 derajat, atau 700 kali lipat), tetapi langsung berada dalam kehendak dan kemurahan Allah.

Menurutnya, jika pada momentum sebesar ini seseorang masih enggan melakukan perbaikan diri, maka akan semakin sulit baginya untuk berubah di luar Ramadan.

Ramah Tamah dan Penguatan Sinergi Takmir

Usai pelaksanaan ibadah Jum’at, Achmad Maqin melanjutkan agenda dengan ramah tamah bersama pengurus takmir Masjid Wisata Religi Sumberjo. Dalam suasana penuh keakraban dan semangat ukhuwah, beliau memberikan dorongan agar masjid terus dimakmurkan tidak hanya secara fisik, tetapi juga melalui penguatan program edukasi dan pembinaan umat selama Ramadan.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama di area masjid, menjadi simbol kebersamaan dan komitmen kolektif dalam menyongsong Ramadan dengan kesiapan spiritual yang matang.


Pelaksanaan Jum’at kali ini bukan sekadar rutinitas ibadah mingguan. Ia menjelma menjadi momentum refleksi intelektual dan spiritual, mengingatkan umat bahwa Ramadan adalah fase strategis untuk membangun kembali kesadaran takwa, menguatkan karakter, dan memperbaiki relasi vertikal maupun horizontal.

Masjid Wisata Religi Sumberjo Margomulyo kembali meneguhkan perannya sebagai pusat peradaban umat—tempat bertemunya ilmu, ibadah, dan transformasi moral.

Selasa, 24 Februari 2026

“Spirit Muhasabah di Awal Ramadhan: Lima Anugerah Ilahi Menggema dalam Kajian Bukber Hari Ke-VI di Masjid Wisata Religi Margomulyo”

Huda Afrianto, S.Ag. (Kepala KUA Kec. Margomulyoyo.


Kegiatan Kajian dan Buka Bersama (Bukber) hari ke-VI Ramadhan di Masjid Wisata Religi Margomulyo dilaksanakan pada Selasa, 24 Februari 2026, pukul 17.00–17.50 WIB, bertempat di bagian dalam masjid. Kajian berlangsung dalam suasana khidmat dan reflektif, menghadirkan jamaah dari Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo yang tampak antusias mengikuti materi hingga menjelang waktu berbuka.

Bertindak sebagai pemateri adalah Huda Afrianto, S.Ag., Kepala KUA Margomulyo, yang akrab disapa Pak Huda. Dalam pemaparannya yang mengusung tema “Muhasabah: Evaluasi Diri di Awal Ramadhan”, beliau menekankan bahwa bulan Ramadhan bukan sekadar momentum ritual tahunan, melainkan wahana strategis untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri secara komprehensif—baik dalam dimensi spiritual, moral, maupun sosial.

Ramadhan sebagai Wahana Transformasi Spiritual

Dalam pendekatan konseptualnya, Pak Huda menjelaskan bahwa muhasabah merupakan instrumen evaluatif dalam Islam yang bertujuan mengukur kualitas keimanan dan ketaatan seorang hamba. Ramadhan, menurut beliau, adalah fase intensifikasi ibadah yang dirancang untuk membentuk kesadaran diri (self-awareness) dan pengendalian diri (self-regulation). Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana penyucian jiwa serta rekonstruksi akhlak.

Beliau menegaskan bahwa keistimewaan Ramadhan menunjukkan adanya dimensi teologis yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. Untuk menguatkan argumentasinya, beliau mengutip hadis riwayat Al-Baihaqi, di mana Rasulullah ﷺ bersabda bahwa umat Nabi Muhammad diberikan lima keutamaan khusus di bulan Ramadhan yang tidak diberikan kepada umat nabi sebelumnya.

Lima Keutamaan Umat Nabi Muhammad di Bulan Ramadhan

Pertama, pada malam pertama Ramadhan Allah memandang umat Nabi Muhammad. Siapa yang mendapatkan pandangan kasih sayang Allah, maka ia tidak akan disiksa selama-lamanya. Konsep “pandangan Allah” dalam konteks ini dipahami sebagai simbol penerimaan dan rahmat Ilahi yang menjadi fondasi keselamatan spiritual.

Kedua, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi. Secara teologis, hal ini menunjukkan bahwa nilai ibadah tidak diukur berdasarkan standar material, melainkan berdasarkan keikhlasan dan ketaatan.

Ketiga, para malaikat memohonkan ampun bagi orang yang berpuasa siang dan malam. Ini menegaskan adanya dukungan transendental terhadap hamba yang bersungguh-sungguh dalam ibadah.

Keempat, Allah memerintahkan surga-Nya untuk bersiap dan berhias menyambut hamba-hamba-Nya yang berpuasa, sebagai simbol bahwa Ramadhan adalah jalan menuju kemuliaan dan peristirahatan abadi setelah perjuangan duniawi.

Kelima, pada malam terakhir Ramadhan, Allah mengampuni dosa-dosa mereka seluruhnya. Ketika seorang sahabat bertanya apakah itu malam Lailatul Qadar, Rasulullah ﷺ menjawab bahwa hal tersebut bukan semata-mata Lailatul Qadar, melainkan sebagaimana pekerja yang telah menyelesaikan tugasnya lalu menerima upahnya secara penuh.

Jamaah Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo


Relevansi Muhasabah dalam Konteks Kekinian

Dalam analisis aplikatifnya, Pak Huda mengajak jamaah—khususnya Muslimat dan Fatayat NU Ranting Ngelo—untuk menjadikan awal Ramadhan sebagai titik tolak perubahan perilaku. Muhasabah tidak berhenti pada kesadaran personal, tetapi harus bermuara pada perbaikan relasi sosial, penguatan ketahanan keluarga, serta peningkatan kualitas ibadah yang berkelanjutan.

Beliau menutup kajian dengan penegasan bahwa keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari kemeriahan aktivitasnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu melahirkan pribadi yang lebih bertakwa dan berintegritas.

Kajian sore itu berakhir dalam suasana penuh perenungan. Detik-detik menjelang azan Maghrib menjadi momentum internalisasi nilai-nilai yang telah disampaikan, meneguhkan bahwa Ramadhan adalah madrasah ruhani yang menuntut kesungguhan, kedalaman refleksi, dan komitmen perubahan.