Masjid Wisata Religi Margomulyo kembali menyelenggarakan kegiatan Shalat Jum’at secara khidmat pada Jum’at, 2 Januari 2026, mulai pukul 11.30 WIB hingga selesai. Kegiatan ini diikuti oleh jamaah dari berbagai lapisan masyarakat dengan suasana ibadah yang tertib, tenang, dan penuh kekhusyukan, mencerminkan peran masjid sebagai pusat pembinaan spiritual dan moral umat.
Pada pelaksanaan Jum’at tersebut, yang bertindak sebagai khotib sekaligus imam Shalat Jum’at adalah Kiyai Kholidin, Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bojonegoro. Dalam khutbahnya yang berjudul “Mengevaluasi Diri, Raih Ridha Ilahi”, beliau menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang bersifat reflektif dan edukatif, menekankan pentingnya muhasabah diri sebagai langkah strategis dalam memperbaiki kualitas iman dan amal, khususnya di awal tahun 2026.
Mengawali khutbah, Kiyai Kholidin mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT secara menyeluruh, tidak hanya dalam aspek ritual, tetapi juga dalam seluruh dimensi kehidupan. Beliau menegaskan bahwa ketakwaan berfungsi sebagai kompas moral yang membimbing manusia agar setiap langkah hidupnya tetap berada dalam koridor petunjuk Ilahi. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Hasyr: 18)
Dalam konteks pergantian tahun, khotib menekankan bahwa perubahan kalender bukan sekadar peristiwa administratif, melainkan momentum evaluatif untuk menilai sejauh mana perjalanan hidup manusia telah diisi dengan amal saleh. Muhasabah diri, menurut beliau, merupakan prasyarat penting agar seorang muslim mampu memperbaiki masa depan dunia dan akhirat secara berimbang.
Kiyai Kholidin juga mengutip sabda Rasulullah ﷺ yang menegaskan urgensi peningkatan kualitas diri dari waktu ke waktu:
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ
Hadis tersebut menjadi penguat argumentasi bahwa keberuntungan sejati dalam Islam diukur dari progres spiritual dan moral, bukan semata capaian material. Oleh karena itu, jamaah diajak untuk tidak bersikap stagnan, apalagi regresif, dalam menjalani kehidupan keimanan.
Usai pelaksanaan Shalat Jum’at, Kiyai Kholidin beramah tamah dengan para pengurus takmir Masjid Wisata Religi Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pesan khusus kepada pengurus takmir agar tetap bersabar, ikhlas, dan istiqamah dalam menjalankan khidmah ketakmiran, karena mengelola masjid merupakan amanah mulia yang memiliki nilai ibadah tinggi di sisi Allah SWT. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama di lingkungan masjid sebagai bentuk dokumentasi sekaligus penguatan silaturahmi.
Kehadiran Kiyai Kholidin sebagai khotib dan imam pada pelaksanaan Shalat Jum’at ini memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan wacana keagamaan yang moderat, kontekstual, dan berorientasi pada pembinaan karakter umat. Materi khutbah yang disampaikan tidak hanya bersifat normatif-doktrinal, tetapi juga analitis dan aplikatif, sehingga mudah dipahami serta relevan dengan realitas sosial dan spiritual masyarakat saat ini.
Pesan muhasabah diri yang ditekankan dalam khutbah tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kritis jamaah untuk lebih bertanggung jawab dalam memanfaatkan waktu, memperbaiki kualitas ibadah, serta meningkatkan kepedulian sosial sebagai wujud nyata dari ketakwaan. Dalam kerangka ini, masjid diposisikan sebagai pusat transformasi nilai, tempat bertemunya dimensi spiritual, intelektual, dan sosial umat Islam.
Dengan terselenggaranya kegiatan Jum’at ini, Masjid Wisata Religi Margomulyo semakin memperkuat eksistensinya sebagai ruang ibadah yang inklusif dan produktif, sekaligus sebagai laboratorium pembinaan keagamaan yang berkelanjutan. Diharapkan, nilai-nilai yang disampaikan dalam khutbah dapat diinternalisasi oleh jamaah dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, sehingga mampu melahirkan masyarakat yang beriman, berakhlak mulia, dan senantiasa berorientasi pada ridha Allah SWT.
Struktur keilmuan, nilai-nilai religius, dan relevansi sosial:
1. Konteks Kegiatan dalam Perspektif Keagamaan dan Sosial
Kegiatan Shalat Jum’at di masjid merupakan ibadah kolektif yang memiliki dimensi ritual, sosial, dan kultural dalam tradisi Islam. Pelaksanaan Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo pada 2 Januari 2026 bukan sekadar rutinitas ibadah mingguan, tetapi juga momentum penting bagi jamaah untuk melakukan refleksi spiritual di awal tahun baru. Dalam banyak tradisi keagamaan, momen pergantian tahun dipandang sebagai waktu evaluasi diri, rekonsiliasi nilai-nilai personal, dan pembaruan komitmen moral.
Masjid Wisata Religi Margomulyo, sebagai lembaga keagamaan lokal, berada dalam posisi strategis dalam penguatan kohesi sosial serta pembinaan nilai-nilai keagamaan yang moderat. Melalui khutbah yang bernas dan penuh hikmah, kegiatan ini berfungsi tidak hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai wahana edukasi dan refleksi nilai-nilai moral masyarakat.
2. Peran Kiyai Kholidin sebagai Khotib: Integrasi Ilmu dan Aplikasi Kontekstual
Penunjukan Kiyai Kholidin — Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bojonegoro — sebagai khotib dan imam menunjukkan kualitas keilmuan dan kedalaman wawasan keagamaan yang dihadirkan dalam kegiatan ini. Peran khotib dalam tradisi Islam memiliki makna penting, yakni sebagai pemimpin spiritual yang tidak hanya menyampaikan teks tekstual namun juga menafsirkan teks secara kontekstual sesuai realitas sosial jamaah.
Dalam khutbahnya, Kiyai Kholidin menekankan urgensi muhasabah (evaluasi diri) sebagai landasan memperbaiki kualitas ibadah dan perilaku sosial. Pendekatan ini menunjukkan adanya integrasi antara pemahaman teologis dan kebutuhan praksis umat dalam kehidupan nyata, sehingga tidak terjebak sekadar normatif semata. Materi khutbah yang bersifat reflektif dan aplikatif mencerminkan kompetensi intelektual khotib dalam memahami tantangan keagamaan kontemporer.
3. Tema Khutbah: Muhasabah Diri sebagai Basis Ketakwaan
Tema utama khutbah, yakni “Mengevaluasi Diri, Raih Ridha Ilahi”, memposisikan muhasabah sebagai instrumen penting dalam meningkatkan kualitas ketakwaan. Muhasabah bukan hanya pemeriksaan perilaku personal, tetapi juga suatu proses sadar untuk menginterogasi tindakan, niat, dan hasil dari perilaku keagamaan seseorang.
Secara akademik, muhasabah bisa dipahami sebagai introspeksi moral yang berkesinambungan, yang menuntut konsistensi antara keyakinan (aqidah), praktik ibadah (amal), serta akhlak dalam relasi sosial. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang memadukan spiritualitas dengan etika sosial, sehingga ibadah tidak hanya bersifat batiniah tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.
4. Dimensi Spiritual dan Sosial dalam Khutbah
Khutbah yang disampaikan oleh Kiyai Kholidin tidak hanya menekankan aspek ketakwaan individual, tetapi juga aspek keharmonisan sosial. Pesan bahwa evaluasi diri membantu seseorang menjalankan amanah sosialnya mencerminkan pemahaman bahwa ibadah kepada Allah SWT harus berdampak pada peningkatan kebaikan sosial. Dalam konteks masyarakat Margomulyo, ini relevan karena keberhasilan komunitas keagamaan juga diukur dari kualitas hubungan antar individu serta kontribusinya terhadap kesejahteraan bersama.
Pemilihan waktu khutbah di awal tahun juga mengandung pesan simbolis bahwa umat Islam perlu memulai tahun baru dengan perspektif spiritual yang kuat dan penuh harapan, bukan sekadar rutinitas ritual tanpa refleksi.
5. Praktik Silaturahmi: Ramah Tamah dan Foto Bersama
Ramah tamah dan sesi foto bersama antara Kiyai Kholidin dan pengurus takmir Masjid Wisata Religi Margomulyo mencerminkan dimensi sosial ibadah Jum’at yang lebih luas. Tradisi ini memperkuat kualitas ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), memupuk rasa kebersamaan antara ulama dan jamaah, serta menunjukkan bahwa struktur kepengurusan masjid bukan hanya administratif semata, tetapi juga ruang relasional yang suportif.
Pesan khusus yang disampaikan khotib kepada pengurus takmir untuk tetap bersabar dan istiqamah dalam khidmah ketakmiran menunjukkan penghargaan terhadap peran struktural dan fungsional pengurus masjid, yang sering menjadi ujung tombak keberlangsungan aktivitas keagamaan.
6. Signifikansi Keagamaan dan Relevansi Pendidikan Umat
Secara keseluruhan, kegiatan Jum’at ini bukan hanya menguatkan peran masjid sebagai pusat ibadah, tetapi juga memperkuat fungsi masjid sebagai institusi pembelajaran sosial-keagamaan. Dengan pendekatan khutbah yang edukatif, reflektif, dan aplikatif, jamaah diberi alat pemikiran untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus merespons tantangan kehidupan modern dengan berpijak pada prinsip tauhid, akhlak mulia, dan kepedulian sosial.
Kesimpulan
Kegiatan Shalat Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo pada 2 Januari 2026 secara signifikan hadir bukan hanya sebagai ritual ibadah, tetapi sebagai ruang transformasi nilai. Melalui khutbah yang ilmiah dan kontekstual serta interaksi sosial pasca-jum’at, kegiatan ini mencerminkan harmonisasi antara spiritualitas individual, tanggung jawab sosial, dan dinamika komunitas. Dengan demikian, kegiatan tersebut memperkuat peran masjid sebagai pusat keagamaan yang esensial dalam pembinaan umat secara integral — dari hati, perilaku, hingga kontribusi sosial.
.png)