Senin, 12 Januari 2026

“Empat M Kunci Sukses 2026: Dari Keteguhan Tauhid hingga Kesungguhan Mujahadah”



Masjid Wisata Religi Margomulyo kembali menjadi pusat penguatan spiritual umat Islam melalui pelaksanaan Shalat Jum’at yang khidmat pada Jumat, 09 Januari 2026. Kegiatan ibadah yang dimulai pukul 11.45 WIB hingga selesai tersebut diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan masyarakat, yang memadati masjid dengan suasana penuh kekhusyukan dan ketenangan.

Bertindak sebagai khotib pada kesempatan tersebut adalah KH. Drs. Sun’an Mubarok, S.Pd.I, M.M., Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan pesan keagamaan yang mendalam dan relevan dengan tantangan kehidupan umat di awal tahun 2026.

KH. Sun’an Mubarok menekankan pentingnya menguatkan empat nilai utama yang beliau sebut sebagai Empat M sebagai fondasi kesuksesan hidup, baik secara pribadi, sosial, maupun spiritual. Keempat nilai tersebut adalah:

Pertama, Muwahidah, yaitu komitmen tauhid yang murni dengan hanya menyembah Allah SWT semata. Menurut beliau, keberhasilan sejati hanya akan diraih apabila setiap langkah kehidupan dilandasi oleh keyakinan tauhid yang kokoh dan bebas dari segala bentuk kemusyrikan.

Kedua, Muroqobah, yakni kesadaran spiritual bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia. Nilai ini menjadi pengontrol moral yang mendorong umat untuk senantiasa berhati-hati, jujur, dan bertanggung jawab dalam setiap aktivitas kehidupan.

Ketiga, Muhasabah, atau introspeksi diri. KH. Sun’an Mubarok mengajak jamaah untuk menjadikan awal tahun sebagai momentum evaluasi diri, menimbang kembali amal perbuatan yang telah dilakukan, serta memperbaiki kekurangan demi peningkatan kualitas iman dan akhlak.

Keempat, Mujahadah, yaitu kesungguhan dan keseriusan dalam berjuang melawan hawa nafsu serta istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT. Beliau menegaskan bahwa tanpa mujahadah, perubahan positif tidak akan pernah terwujud secara nyata.

Khutbah yang disampaikan dengan gaya komunikatif dan argumentasi keilmuan tersebut memberikan pencerahan mendalam bagi jamaah, sekaligus menjadi refleksi spiritual dalam menata langkah menuju tahun 2026 yang lebih bermakna dan bernilai ibadah.

Usai pelaksanaan Shalat Jum’at, KH. Drs. Sun’an Mubarok, S.Pd.I, M.M. meluangkan waktu untuk beramah tamah dan melakukan sesi foto bersama dengan para pengurus takmir Masjid Wisata Religi Margomulyo. Momen tersebut menjadi simbol eratnya sinergi antara tokoh agama, pemerintah, dan pengelola masjid dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat, ilmiah, dan berkelanjutan.

=============================================

Empat Pilar Spiritual (4M) sebagai Fondasi Kesuksesan Hidup Perspektif Islam 

(Oleh: KH. Drs. Sun’an Mubarok, S.Pd.I, M.M., (Kasie Bimas Islam Kemenag Bojonegoro)

Abstrak

Kesuksesan dalam perspektif Islam tidak semata diukur melalui capaian material, melainkan melalui integrasi antara iman, amal, dan akhlak. Artikel ini mengkaji konsep Empat M—Muwahidah, Muroqobah, Muhasabah, dan Mujahadah—sebagai pilar spiritual yang relevan dalam membangun kesuksesan holistik di era kontemporer. Dengan pendekatan normatif-teologis dan analisis konseptual, artikel ini menunjukkan bahwa keempat nilai tersebut saling berkelindan dalam membentuk karakter mukmin yang beriman kuat, bermoral tinggi, dan berdaya juang berkelanjutan.


Kata kunci: Muwahidah, Muroqobah, Muhasabah, Mujahadah, Spiritual Islam


Pendahuluan

Dalam wacana modern, kesuksesan kerap direduksi menjadi pencapaian ekonomi, jabatan, atau popularitas sosial. Paradigma ini berpotensi menimbulkan disorientasi nilai apabila tidak diimbangi dengan landasan spiritual yang kuat. Islam, sebagai agama yang komprehensif (syâmil), menawarkan kerangka kesuksesan yang integratif antara dimensi duniawi dan ukhrawi.


Konsep Empat M—Muwahidah, Muroqobah, Muhasabah, dan Mujahadah—merupakan formulasi nilai spiritual yang bersumber dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Keempatnya bukan sekadar konsep normatif, melainkan prinsip praksis yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan personal, sosial, dan profesional.


Pembahasan

1. Muwahidah: Fondasi Tauhid sebagai Arah Kesuksesan

Muwahidah bermakna mentauhidkan Allah SWT secara murni dalam keyakinan, ibadah, dan orientasi hidup. Tauhid menjadi fondasi utama dalam Islam, karena seluruh amal manusia bergantung pada kemurnian niat dan tujuan penghambaan.


Allah SWT berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

(QS. adz-Dzāriyāt [51]: 56)

Dalam konteks kesuksesan, muwahidah berfungsi sebagai kompas moral yang mengarahkan aktivitas manusia agar tidak terjebak pada orientasi materialistik semata. Kesuksesan yang dilandasi tauhid akan melahirkan keseimbangan antara usaha maksimal dan ketundukan total kepada kehendak Allah SWT.


2. Muroqobah: Kesadaran Ilahiah sebagai Kontrol Moral

Muroqobah adalah kesadaran batin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi setiap gerak dan diam manusia. Konsep ini memiliki korelasi erat dengan nilai ihsan, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Jibril:


“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

(HR. Muslim)

Secara psikologis dan etis, muroqobah berperan sebagai mekanisme kontrol internal yang efektif. Individu yang memiliki kesadaran muroqobah akan menjaga integritas, kejujuran, dan profesionalitas, bahkan dalam situasi tanpa pengawasan eksternal. Dengan demikian, muroqobah menjadi kunci lahirnya kesuksesan yang bermartabat dan berkeadilan.


3. Muhasabah: Evaluasi Diri sebagai Instrumen Perbaikan

Muhasabah berarti melakukan evaluasi dan introspeksi diri terhadap amal, sikap, dan orientasi hidup. Konsep ini menuntut kejujuran intelektual dan kerendahan hati spiritual dalam menilai kekurangan diri.


Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

(QS. al-Hasyr [59]: 18)

Dalam kerangka kesuksesan, muhasabah berfungsi sebagai instrumen koreksi berkelanjutan (continuous improvement). Tanpa muhasabah, seseorang rentan terjebak dalam kepuasan semu dan stagnasi spiritual. Oleh karena itu, muhasabah menjadi prasyarat penting bagi pertumbuhan pribadi dan sosial yang berkelanjutan.


4. Mujahadah: Kesungguhan Berjuang sebagai Dinamika Perubahan

Mujahadah adalah kesungguhan dan konsistensi dalam berjuang melawan hawa nafsu serta mempertahankan ketaatan kepada Allah SWT. Perubahan positif dalam Islam tidak bersifat instan, melainkan menuntut komitmen jangka panjang.


Allah SWT menegaskan:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

(QS. al-‘Ankabūt [29]: 69)

Dalam perspektif pembangunan karakter, mujahadah melatih ketahanan mental (resilience), disiplin diri, dan daya juang spiritual. Kesuksesan yang diraih melalui mujahadah bukan hanya bersifat temporer, melainkan kokoh dan bernilai ibadah.


Integrasi Empat M dalam Kehidupan Kontemporer

Keempat pilar spiritual ini tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk satu kesatuan sistem nilai. Muwahidah memberikan orientasi, muroqobah menjaga proses, muhasabah mengevaluasi perjalanan, dan mujahadah menggerakkan perubahan. Integrasi Empat M ini relevan diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, birokrasi, ekonomi, dan kehidupan berkeluarga.


Penutup

Konsep Empat M—Muwahidah, Muroqobah, Muhasabah, dan Mujahadah—merupakan kerangka spiritual yang komprehensif dalam membangun kesuksesan menurut perspektif Islam. Kesuksesan sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses yang bernilai tauhid, bermoral, reflektif, dan penuh perjuangan. Dengan menginternalisasi Empat M, umat Islam diharapkan mampu menata kehidupan yang tidak hanya berhasil di dunia, tetapi juga selamat dan mulia di akhirat.


Di sarikan oleh Badrun dari Khutbah Jum'at KH. Drs. Sun’an Mubarok, S.Pd.I, M.M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar