Sabtu, 31 Januari 2026

Puasa Jari dan Puasa Hati: Seruan Abah Charis di Bulan Sya’ban dari Margomulyo

KH. Drs Mochammad Charis, MM.Pd. (Tengah)


Margomulyo – 30 Januari 2026. Suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Wisata Religi Margomulyo pada Jum’at, 30 Januari 2026. Sejak pukul 11.50 WIB hingga selesai, masjid yang menjadi ikon wisata religi tersebut dipadati jamaah. Tidak hanya warga sekitar, para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara turut larut dalam lantunan doa dan nasihat penuh hikmah dalam pelaksanaan ibadah shalat Jum’at.

Bertindak sebagai khotib dan imam, KH. Drs. Mochamad Charis, MM.Pd. yang akrab disapa Abah Charis, menyampaikan khutbah dengan penuh keteduhan dan ketegasan makna. Abah Charis merupakan Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro sekaligus Kepala KUA Kecamatan Kapas Bojonegoro, figur ulama yang dikenal konsisten menyuarakan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Dalam khutbahnya, Abah Charis mengangkat tema “Sya’ban sebagai Latihan Penguatan Iman dalam Menghadapi Ramadhan”. Ia menegaskan bahwa puasa sunnah di bulan Sya’ban bukan sekadar amalan tambahan, melainkan madrasah ruhani untuk mempersiapkan diri menyambut kewajiban puasa di bulan Ramadhan.

Menurutnya, puasa yang sejati tidak cukup dimaknai dengan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa harus menjadi sarana pengendalian diri secara menyeluruh. Abah Charis secara tegas mengingatkan jamaah tentang pentingnya “puasa digital”, yakni menahan jari-jari dari menulis dan menyebarkan hal-hal negatif di media sosial.

“Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan lisan dan jari-jari kita. Jangan sampai Ramadhan kita rusak oleh tulisan-tulisan yang berisi fitnah, provokasi, dan ujaran kebencian,” tegas Abah Charis di hadapan jamaah.

Pesan tersebut menggugah kesadaran jamaah bahwa tantangan keimanan di era digital menuntut pengendalian diri yang lebih luas, termasuk dalam bermedia sosial. Sya’ban, menurut Abah Charis, adalah momentum strategis untuk melatih kedewasaan iman sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Usai pelaksanaan shalat Jum’at, Abah Charis melanjutkan ramah tamah bersama para takmir masjid. Dalam suasana penuh keakraban, beliau menyampaikan wejangan-wejangan positif agar takmir senantiasa istiqomah, sabar, dan ikhlas dalam memakmurkan masjid sebagai pusat ibadah dan pembinaan umat. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama di area masjid, menandai kebersamaan yang sarat nilai ukhuwah dan keteladanan.

Khutbah Jum’at hari itu bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan seruan moral dan spiritual agar umat Islam mempersiapkan diri secara lahir dan batin, menjaga akhlak di dunia nyata maupun dunia maya, demi menyongsong Ramadhan yang lebih bermakna dan bermartabat.

Pesan-pesan yang disampaikan Abah Charis meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah. Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika media sosial, khutbah tersebut menjadi peringatan moral sekaligus tuntunan spiritual agar umat Islam mampu menjaga integritas iman, akhlak, dan persaudaraan. Masjid, menurut beliau, harus menjadi ruang aman yang meneduhkan, bukan hanya dari hiruk-pikuk dunia, tetapi juga dari konflik yang dipicu oleh narasi negatif di ruang digital.

Kehadiran jamaah lintas daerah dan para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara semakin menegaskan peran Masjid Wisata Religi Margomulyo sebagai simpul pertemuan spiritual umat. Masjid tidak sekadar menjadi tempat singgah ibadah, tetapi juga pusat penyemaian nilai-nilai Islam yang moderat, damai, dan bertanggung jawab.

Kegiatan khutbah Jum’at tersebut meneguhkan pesan bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya soal kesiapan fisik, melainkan kesiapan akhlak dan etika, termasuk etika bermedia sosial. Dengan menjadikan bulan Sya’ban sebagai medan latihan iman, umat diharapkan mampu memasuki Ramadhan dengan jiwa yang lebih bersih, lisan yang terjaga, dan jari-jari yang penuh kehati-hatian.

Khutbah Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo pada hari itu pun berakhir, namun pesan moralnya diharapkan terus hidup—menjadi suluh bagi umat dalam menjalani ibadah, bermasyarakat, dan bersikap bijak di era digital.

Kamis, 15 Januari 2026

Spirit Isra’ Mi’raj Menyapa Margomulyo, Rutinan Malam Jum’at Pon Resmi Dimulai



Margomulyo, 15 Januari 2026 - Masjid Wisata Religi Margomulyo menggelar kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan pembukaan rutinan keagamaan malam Jum’at Pon, pada Kamis malam, 15 Januari 2026. Kegiatan dimulai pukul 20.00 WIB dan berlangsung hingga selesai dengan penuh kekhidmatan dan antusiasme jamaah.

Acara ini diikuti oleh jajaran takmir masjid, para marbot, serta para pedagang lapak yang beraktivitas di sekitar kawasan Masjid Wisata Religi Margomulyo. Kehadiran seluruh elemen tersebut menjadi bukti kuatnya sinergi antara pengelola masjid dan masyarakat sekitar dalam memakmurkan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan sholawat Barzanji yang dilantunkan secara bersama-sama, menciptakan suasana religius dan menenangkan. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Ketua Takmir Masjid Wisata Religi Margomulyo, H. Drs. Suroto. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa selain sebagai momentum memperingati peristiwa agung Isra’ Mi’raj, pertemuan malam tersebut juga menjadi penanda dimulainya pelaksanaan rutinan keagamaan setiap malam Jum’at Pon yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan di masa mendatang.

Menurut beliau, rutinan malam Jum’at Pon diharapkan dapat menjadi wadah pembinaan spiritual, mempererat ukhuwah islamiyah, serta memperkuat peran masjid sebagai pusat pembelajaran dan pembentukan karakter umat.

Puncak acara diisi dengan mau’idhoh hasanah yang disampaikan oleh Kiyai Badrun Sulaiman. Dalam tausiyahnya, Kiyai Badrun menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj tidak hanya berkaitan dengan kewajiban shalat, tetapi juga membawa pesan menyeluruh yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam dimensi ibadah, akhlak, sosial, maupun tanggung jawab kemasyarakatan. Beliau mengajak jamaah untuk menjadikan nilai-nilai Isra’ Mi’raj sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih bermakna dan berorientasi pada kebaikan.

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama, dengan harapan agar rutinan malam Jum’at Pon yang baru dimulai tersebut dapat istiqamah dan memberikan manfaat luas bagi jamaah serta masyarakat sekitar Masjid Wisata Religi Margomulyo.

Senin, 12 Januari 2026

“Empat M Kunci Sukses 2026: Dari Keteguhan Tauhid hingga Kesungguhan Mujahadah”



Masjid Wisata Religi Margomulyo kembali menjadi pusat penguatan spiritual umat Islam melalui pelaksanaan Shalat Jum’at yang khidmat pada Jumat, 09 Januari 2026. Kegiatan ibadah yang dimulai pukul 11.45 WIB hingga selesai tersebut diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan masyarakat, yang memadati masjid dengan suasana penuh kekhusyukan dan ketenangan.

Bertindak sebagai khotib pada kesempatan tersebut adalah KH. Drs. Sun’an Mubarok, S.Pd.I, M.M., Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan pesan keagamaan yang mendalam dan relevan dengan tantangan kehidupan umat di awal tahun 2026.

KH. Sun’an Mubarok menekankan pentingnya menguatkan empat nilai utama yang beliau sebut sebagai Empat M sebagai fondasi kesuksesan hidup, baik secara pribadi, sosial, maupun spiritual. Keempat nilai tersebut adalah:

Pertama, Muwahidah, yaitu komitmen tauhid yang murni dengan hanya menyembah Allah SWT semata. Menurut beliau, keberhasilan sejati hanya akan diraih apabila setiap langkah kehidupan dilandasi oleh keyakinan tauhid yang kokoh dan bebas dari segala bentuk kemusyrikan.

Kedua, Muroqobah, yakni kesadaran spiritual bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia. Nilai ini menjadi pengontrol moral yang mendorong umat untuk senantiasa berhati-hati, jujur, dan bertanggung jawab dalam setiap aktivitas kehidupan.

Ketiga, Muhasabah, atau introspeksi diri. KH. Sun’an Mubarok mengajak jamaah untuk menjadikan awal tahun sebagai momentum evaluasi diri, menimbang kembali amal perbuatan yang telah dilakukan, serta memperbaiki kekurangan demi peningkatan kualitas iman dan akhlak.

Keempat, Mujahadah, yaitu kesungguhan dan keseriusan dalam berjuang melawan hawa nafsu serta istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT. Beliau menegaskan bahwa tanpa mujahadah, perubahan positif tidak akan pernah terwujud secara nyata.

Khutbah yang disampaikan dengan gaya komunikatif dan argumentasi keilmuan tersebut memberikan pencerahan mendalam bagi jamaah, sekaligus menjadi refleksi spiritual dalam menata langkah menuju tahun 2026 yang lebih bermakna dan bernilai ibadah.

Usai pelaksanaan Shalat Jum’at, KH. Drs. Sun’an Mubarok, S.Pd.I, M.M. meluangkan waktu untuk beramah tamah dan melakukan sesi foto bersama dengan para pengurus takmir Masjid Wisata Religi Margomulyo. Momen tersebut menjadi simbol eratnya sinergi antara tokoh agama, pemerintah, dan pengelola masjid dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat, ilmiah, dan berkelanjutan.

=============================================

Empat Pilar Spiritual (4M) sebagai Fondasi Kesuksesan Hidup Perspektif Islam 

(Oleh: KH. Drs. Sun’an Mubarok, S.Pd.I, M.M., (Kasie Bimas Islam Kemenag Bojonegoro)

Abstrak

Kesuksesan dalam perspektif Islam tidak semata diukur melalui capaian material, melainkan melalui integrasi antara iman, amal, dan akhlak. Artikel ini mengkaji konsep Empat M—Muwahidah, Muroqobah, Muhasabah, dan Mujahadah—sebagai pilar spiritual yang relevan dalam membangun kesuksesan holistik di era kontemporer. Dengan pendekatan normatif-teologis dan analisis konseptual, artikel ini menunjukkan bahwa keempat nilai tersebut saling berkelindan dalam membentuk karakter mukmin yang beriman kuat, bermoral tinggi, dan berdaya juang berkelanjutan.


Kata kunci: Muwahidah, Muroqobah, Muhasabah, Mujahadah, Spiritual Islam


Pendahuluan

Dalam wacana modern, kesuksesan kerap direduksi menjadi pencapaian ekonomi, jabatan, atau popularitas sosial. Paradigma ini berpotensi menimbulkan disorientasi nilai apabila tidak diimbangi dengan landasan spiritual yang kuat. Islam, sebagai agama yang komprehensif (syâmil), menawarkan kerangka kesuksesan yang integratif antara dimensi duniawi dan ukhrawi.


Konsep Empat M—Muwahidah, Muroqobah, Muhasabah, dan Mujahadah—merupakan formulasi nilai spiritual yang bersumber dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Keempatnya bukan sekadar konsep normatif, melainkan prinsip praksis yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan personal, sosial, dan profesional.


Pembahasan

1. Muwahidah: Fondasi Tauhid sebagai Arah Kesuksesan

Muwahidah bermakna mentauhidkan Allah SWT secara murni dalam keyakinan, ibadah, dan orientasi hidup. Tauhid menjadi fondasi utama dalam Islam, karena seluruh amal manusia bergantung pada kemurnian niat dan tujuan penghambaan.


Allah SWT berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

(QS. adz-Dzāriyāt [51]: 56)

Dalam konteks kesuksesan, muwahidah berfungsi sebagai kompas moral yang mengarahkan aktivitas manusia agar tidak terjebak pada orientasi materialistik semata. Kesuksesan yang dilandasi tauhid akan melahirkan keseimbangan antara usaha maksimal dan ketundukan total kepada kehendak Allah SWT.


2. Muroqobah: Kesadaran Ilahiah sebagai Kontrol Moral

Muroqobah adalah kesadaran batin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi setiap gerak dan diam manusia. Konsep ini memiliki korelasi erat dengan nilai ihsan, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Jibril:


“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

(HR. Muslim)

Secara psikologis dan etis, muroqobah berperan sebagai mekanisme kontrol internal yang efektif. Individu yang memiliki kesadaran muroqobah akan menjaga integritas, kejujuran, dan profesionalitas, bahkan dalam situasi tanpa pengawasan eksternal. Dengan demikian, muroqobah menjadi kunci lahirnya kesuksesan yang bermartabat dan berkeadilan.


3. Muhasabah: Evaluasi Diri sebagai Instrumen Perbaikan

Muhasabah berarti melakukan evaluasi dan introspeksi diri terhadap amal, sikap, dan orientasi hidup. Konsep ini menuntut kejujuran intelektual dan kerendahan hati spiritual dalam menilai kekurangan diri.


Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

(QS. al-Hasyr [59]: 18)

Dalam kerangka kesuksesan, muhasabah berfungsi sebagai instrumen koreksi berkelanjutan (continuous improvement). Tanpa muhasabah, seseorang rentan terjebak dalam kepuasan semu dan stagnasi spiritual. Oleh karena itu, muhasabah menjadi prasyarat penting bagi pertumbuhan pribadi dan sosial yang berkelanjutan.


4. Mujahadah: Kesungguhan Berjuang sebagai Dinamika Perubahan

Mujahadah adalah kesungguhan dan konsistensi dalam berjuang melawan hawa nafsu serta mempertahankan ketaatan kepada Allah SWT. Perubahan positif dalam Islam tidak bersifat instan, melainkan menuntut komitmen jangka panjang.


Allah SWT menegaskan:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

(QS. al-‘Ankabūt [29]: 69)

Dalam perspektif pembangunan karakter, mujahadah melatih ketahanan mental (resilience), disiplin diri, dan daya juang spiritual. Kesuksesan yang diraih melalui mujahadah bukan hanya bersifat temporer, melainkan kokoh dan bernilai ibadah.


Integrasi Empat M dalam Kehidupan Kontemporer

Keempat pilar spiritual ini tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk satu kesatuan sistem nilai. Muwahidah memberikan orientasi, muroqobah menjaga proses, muhasabah mengevaluasi perjalanan, dan mujahadah menggerakkan perubahan. Integrasi Empat M ini relevan diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, birokrasi, ekonomi, dan kehidupan berkeluarga.


Penutup

Konsep Empat M—Muwahidah, Muroqobah, Muhasabah, dan Mujahadah—merupakan kerangka spiritual yang komprehensif dalam membangun kesuksesan menurut perspektif Islam. Kesuksesan sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses yang bernilai tauhid, bermoral, reflektif, dan penuh perjuangan. Dengan menginternalisasi Empat M, umat Islam diharapkan mampu menata kehidupan yang tidak hanya berhasil di dunia, tetapi juga selamat dan mulia di akhirat.


Di sarikan oleh Badrun dari Khutbah Jum'at KH. Drs. Sun’an Mubarok, S.Pd.I, M.M.

Minggu, 04 Januari 2026

“Dari Mimbar Jum’at, Evaluasi Diri sebagai Jalan Ketakwaan” Oleh Kiyai Kholidin Wakil Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro

Kiyai Kholidin (Tengah) Foto bersama Pengurus


Masjid Wisata Religi Margomulyo kembali menyelenggarakan kegiatan Shalat Jum’at secara khidmat pada Jum’at, 2 Januari 2026, mulai pukul 11.30 WIB hingga selesai. Kegiatan ini diikuti oleh jamaah dari berbagai lapisan masyarakat dengan suasana ibadah yang tertib, tenang, dan penuh kekhusyukan, mencerminkan peran masjid sebagai pusat pembinaan spiritual dan moral umat.

Pada pelaksanaan Jum’at tersebut, yang bertindak sebagai khotib sekaligus imam Shalat Jum’at adalah Kiyai Kholidin, Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bojonegoro. Dalam khutbahnya yang berjudul “Mengevaluasi Diri, Raih Ridha Ilahi”, beliau menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang bersifat reflektif dan edukatif, menekankan pentingnya muhasabah diri sebagai langkah strategis dalam memperbaiki kualitas iman dan amal, khususnya di awal tahun 2026.

Mengawali khutbah, Kiyai Kholidin mengajak jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT secara menyeluruh, tidak hanya dalam aspek ritual, tetapi juga dalam seluruh dimensi kehidupan. Beliau menegaskan bahwa ketakwaan berfungsi sebagai kompas moral yang membimbing manusia agar setiap langkah hidupnya tetap berada dalam koridor petunjuk Ilahi. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Dalam konteks pergantian tahun, khotib menekankan bahwa perubahan kalender bukan sekadar peristiwa administratif, melainkan momentum evaluatif untuk menilai sejauh mana perjalanan hidup manusia telah diisi dengan amal saleh. Muhasabah diri, menurut beliau, merupakan prasyarat penting agar seorang muslim mampu memperbaiki masa depan dunia dan akhirat secara berimbang.

Kiyai Kholidin juga mengutip sabda Rasulullah ﷺ yang menegaskan urgensi peningkatan kualitas diri dari waktu ke waktu:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ

Hadis tersebut menjadi penguat argumentasi bahwa keberuntungan sejati dalam Islam diukur dari progres spiritual dan moral, bukan semata capaian material. Oleh karena itu, jamaah diajak untuk tidak bersikap stagnan, apalagi regresif, dalam menjalani kehidupan keimanan.

Usai pelaksanaan Shalat Jum’at, Kiyai Kholidin beramah tamah dengan para pengurus takmir Masjid Wisata Religi Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pesan khusus kepada pengurus takmir agar tetap bersabar, ikhlas, dan istiqamah dalam menjalankan khidmah ketakmiran, karena mengelola masjid merupakan amanah mulia yang memiliki nilai ibadah tinggi di sisi Allah SWT. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama di lingkungan masjid sebagai bentuk dokumentasi sekaligus penguatan silaturahmi.


Kehadiran Kiyai Kholidin sebagai khotib dan imam pada pelaksanaan Shalat Jum’at ini memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan wacana keagamaan yang moderat, kontekstual, dan berorientasi pada pembinaan karakter umat. Materi khutbah yang disampaikan tidak hanya bersifat normatif-doktrinal, tetapi juga analitis dan aplikatif, sehingga mudah dipahami serta relevan dengan realitas sosial dan spiritual masyarakat saat ini.

Pesan muhasabah diri yang ditekankan dalam khutbah tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kritis jamaah untuk lebih bertanggung jawab dalam memanfaatkan waktu, memperbaiki kualitas ibadah, serta meningkatkan kepedulian sosial sebagai wujud nyata dari ketakwaan. Dalam kerangka ini, masjid diposisikan sebagai pusat transformasi nilai, tempat bertemunya dimensi spiritual, intelektual, dan sosial umat Islam.

Dengan terselenggaranya kegiatan Jum’at ini, Masjid Wisata Religi Margomulyo semakin memperkuat eksistensinya sebagai ruang ibadah yang inklusif dan produktif, sekaligus sebagai laboratorium pembinaan keagamaan yang berkelanjutan. Diharapkan, nilai-nilai yang disampaikan dalam khutbah dapat diinternalisasi oleh jamaah dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, sehingga mampu melahirkan masyarakat yang beriman, berakhlak mulia, dan senantiasa berorientasi pada ridha Allah SWT.


Struktur keilmuan, nilai-nilai religius, dan relevansi sosial:


1. Konteks Kegiatan dalam Perspektif Keagamaan dan Sosial

Kegiatan Shalat Jum’at di masjid merupakan ibadah kolektif yang memiliki dimensi ritual, sosial, dan kultural dalam tradisi Islam. Pelaksanaan Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo pada 2 Januari 2026 bukan sekadar rutinitas ibadah mingguan, tetapi juga momentum penting bagi jamaah untuk melakukan refleksi spiritual di awal tahun baru. Dalam banyak tradisi keagamaan, momen pergantian tahun dipandang sebagai waktu evaluasi diri, rekonsiliasi nilai-nilai personal, dan pembaruan komitmen moral.

Masjid Wisata Religi Margomulyo, sebagai lembaga keagamaan lokal, berada dalam posisi strategis dalam penguatan kohesi sosial serta pembinaan nilai-nilai keagamaan yang moderat. Melalui khutbah yang bernas dan penuh hikmah, kegiatan ini berfungsi tidak hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai wahana edukasi dan refleksi nilai-nilai moral masyarakat.


2. Peran Kiyai Kholidin sebagai Khotib: Integrasi Ilmu dan Aplikasi Kontekstual

Penunjukan Kiyai Kholidin — Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bojonegoro — sebagai khotib dan imam menunjukkan kualitas keilmuan dan kedalaman wawasan keagamaan yang dihadirkan dalam kegiatan ini. Peran khotib dalam tradisi Islam memiliki makna penting, yakni sebagai pemimpin spiritual yang tidak hanya menyampaikan teks tekstual namun juga menafsirkan teks secara kontekstual sesuai realitas sosial jamaah.

Dalam khutbahnya, Kiyai Kholidin menekankan urgensi muhasabah (evaluasi diri) sebagai landasan memperbaiki kualitas ibadah dan perilaku sosial. Pendekatan ini menunjukkan adanya integrasi antara pemahaman teologis dan kebutuhan praksis umat dalam kehidupan nyata, sehingga tidak terjebak sekadar normatif semata. Materi khutbah yang bersifat reflektif dan aplikatif mencerminkan kompetensi intelektual khotib dalam memahami tantangan keagamaan kontemporer.


3. Tema Khutbah: Muhasabah Diri sebagai Basis Ketakwaan

Tema utama khutbah, yakni “Mengevaluasi Diri, Raih Ridha Ilahi”, memposisikan muhasabah sebagai instrumen penting dalam meningkatkan kualitas ketakwaan. Muhasabah bukan hanya pemeriksaan perilaku personal, tetapi juga suatu proses sadar untuk menginterogasi tindakan, niat, dan hasil dari perilaku keagamaan seseorang.

Secara akademik, muhasabah bisa dipahami sebagai introspeksi moral yang berkesinambungan, yang menuntut konsistensi antara keyakinan (aqidah), praktik ibadah (amal), serta akhlak dalam relasi sosial. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang memadukan spiritualitas dengan etika sosial, sehingga ibadah tidak hanya bersifat batiniah tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.


4. Dimensi Spiritual dan Sosial dalam Khutbah

Khutbah yang disampaikan oleh Kiyai Kholidin tidak hanya menekankan aspek ketakwaan individual, tetapi juga aspek keharmonisan sosial. Pesan bahwa evaluasi diri membantu seseorang menjalankan amanah sosialnya mencerminkan pemahaman bahwa ibadah kepada Allah SWT harus berdampak pada peningkatan kebaikan sosial. Dalam konteks masyarakat Margomulyo, ini relevan karena keberhasilan komunitas keagamaan juga diukur dari kualitas hubungan antar individu serta kontribusinya terhadap kesejahteraan bersama.

Pemilihan waktu khutbah di awal tahun juga mengandung pesan simbolis bahwa umat Islam perlu memulai tahun baru dengan perspektif spiritual yang kuat dan penuh harapan, bukan sekadar rutinitas ritual tanpa refleksi.


5. Praktik Silaturahmi: Ramah Tamah dan Foto Bersama

Ramah tamah dan sesi foto bersama antara Kiyai Kholidin dan pengurus takmir Masjid Wisata Religi Margomulyo mencerminkan dimensi sosial ibadah Jum’at yang lebih luas. Tradisi ini memperkuat kualitas ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam), memupuk rasa kebersamaan antara ulama dan jamaah, serta menunjukkan bahwa struktur kepengurusan masjid bukan hanya administratif semata, tetapi juga ruang relasional yang suportif.

Pesan khusus yang disampaikan khotib kepada pengurus takmir untuk tetap bersabar dan istiqamah dalam khidmah ketakmiran menunjukkan penghargaan terhadap peran struktural dan fungsional pengurus masjid, yang sering menjadi ujung tombak keberlangsungan aktivitas keagamaan.


6. Signifikansi Keagamaan dan Relevansi Pendidikan Umat

Secara keseluruhan, kegiatan Jum’at ini bukan hanya menguatkan peran masjid sebagai pusat ibadah, tetapi juga memperkuat fungsi masjid sebagai institusi pembelajaran sosial-keagamaan. Dengan pendekatan khutbah yang edukatif, reflektif, dan aplikatif, jamaah diberi alat pemikiran untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus merespons tantangan kehidupan modern dengan berpijak pada prinsip tauhid, akhlak mulia, dan kepedulian sosial.


Kesimpulan

Kegiatan Shalat Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo pada 2 Januari 2026 secara signifikan hadir bukan hanya sebagai ritual ibadah, tetapi sebagai ruang transformasi nilai. Melalui khutbah yang ilmiah dan kontekstual serta interaksi sosial pasca-jum’at, kegiatan ini mencerminkan harmonisasi antara spiritualitas individual, tanggung jawab sosial, dan dinamika komunitas. Dengan demikian, kegiatan tersebut memperkuat peran masjid sebagai pusat keagamaan yang esensial dalam pembinaan umat secara integral — dari hati, perilaku, hingga kontribusi sosial.