Bertindak sebagai imam sekaligus khotib Jum’at adalah Ustadz Dr. H. Yogi Prana Izza, Lc., MA., yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor II Universitas Nahdlatul Ulama Bojonegoro. Dalam khutbahnya, beliau mengangkat tema “Ciri-ciri Hamba Allah Yang Maha Penyayang (Ibadurrahman)” yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Furqan.
Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa ibadurrahman adalah hamba-hamba pilihan Allah yang memiliki karakter luhur, di antaranya berjalan di muka bumi dengan penuh kerendahan hati, tidak sombong, serta menjunjung tinggi nilai kasih sayang terhadap sesama dan lingkungan . Sikap ini menjadi refleksi penting di tengah kondisi sosial dan lingkungan yang kerap diwarnai eksploitasi dan kurangnya kepedulian.
Lebih lanjut, khutbah juga menyoroti pentingnya kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi provokasi atau perlakuan buruk dari orang lain. Hamba yang berkarakter ibadurrahman, menurut beliau, tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan dengan sikap santun dan ucapan yang menyejukkan . Keteladanan ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dalam berbagai peristiwa dakwahnya.
Selain itu, kekuatan spiritual seorang mukmin juga ditopang oleh kedekatan kepada Allah SWT, terutama melalui ibadah malam. Orang-orang yang istiqamah dalam qiyamul lail akan memiliki ketahanan mental dan ketenangan jiwa dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan .
Khutbah tersebut tidak hanya mengajak jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah personal, tetapi juga mendorong kesadaran kolektif dalam menjaga harmoni sosial dan kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan.
Usai pelaksanaan Shalat Jum’at, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah antara Ustadz Dr. H. Yogi Prana Izza dengan para pengurus takmir masjid. Suasana keakraban tampak terjalin hangat, mencerminkan semangat ukhuwah Islamiyah yang menjadi ruh dari kegiatan tersebut.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat nilai-nilai keislaman yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menyentuh aspek moral, sosial, dan kemanusiaan secara luas. Melalui pesan khutbah yang disampaikan, jamaah diharapkan mampu menginternalisasi karakter ibadurrahman dalam kehidupan sehari-hari.
===============
Ciri-Ciri Ibadurrahman: Rekonstruksi Karakter Muslim Rahmatan lil ‘Alamin dalam Perspektif Al-Qur’an
Abstrak
Artikel ini mengkaji konsep Ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Furqan ayat 63–77. Kajian ini bertujuan untuk mengelaborasi karakter ideal seorang muslim yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan ekologis. Dengan pendekatan normatif berbasis tafsir dan hadis, ditemukan bahwa Ibadurrahman merupakan representasi manusia paripurna yang mengintegrasikan dimensi tauhid, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Artikel ini menegaskan bahwa nilai-nilai rahmah (kasih sayang) menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban Islam yang moderat dan berkelanjutan.
Pendahuluan
Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam merealisasikan nilai-nilai ilahiah berupa kasih sayang (rahmah), keadilan (‘adl), dan keseimbangan (tawazun). Prinsip ini ditegaskan secara eksplisit dalam firman Allah SWT:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
Ayat ini menunjukkan bahwa risalah Islam memiliki orientasi universal yang melampaui batas-batas etnis, geografis, bahkan spesies, mencakup seluruh makhluk. Oleh karena itu, manifestasi keislaman tidak hanya terbatas pada ritual ibadah, tetapi juga tercermin dalam sikap hidup yang penuh kasih, adil, dan seimbang.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memperkenalkan konsep Ibadurrahman sebagai representasi ideal manusia beriman yang mampu menginternalisasi nilai-nilai rahmah tersebut dalam seluruh aspek kehidupannya. Allah berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا...“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati...” (QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini menjadi landasan utama dalam memahami karakteristik Ibadurrahman. Kata “haunan” dalam ayat tersebut ditafsirkan oleh para ulama sebagai sikap tawadhu’, tenang, tidak sombong, dan tidak arogan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas spiritual seorang muslim harus tercermin dalam perilaku sosial yang santun dan beradab.
Lebih lanjut, Al-Qur’an menegaskan bahwa keseimbangan (wasathiyah) merupakan karakter utama umat Islam:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang moderat (pertengahan).” (QS. Al-Baqarah: 143)
Konsep ummatan wasathan ini selaras dengan karakter Ibadurrahman, yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga mampu menjaga harmoni sosial dan ekologis.
Dalam perspektif hadis, Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya dimensi kasih sayang sebagai inti keberagamaan:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini memperkuat bahwa karakter rahmah bukan sekadar nilai tambahan, tetapi merupakan inti dari identitas seorang muslim.
Namun demikian, fenomena sosial kontemporer menunjukkan adanya krisis karakter yang cukup serius, seperti meningkatnya kekerasan verbal di ruang publik, degradasi moral, serta eksploitasi lingkungan yang tidak terkendali. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ajaran normatif Islam dengan praktik kehidupan umat.
Al-Qur’an telah mengingatkan tentang kerusakan yang ditimbulkan oleh ulah manusia:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ...“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia...” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa krisis yang terjadi bukan semata-mata fenomena alam, tetapi merupakan akibat dari krisis moral dan spiritual manusia itu sendiri.
Dalam konteks ini, konsep Ibadurrahman menjadi sangat relevan sebagai kerangka normatif dalam membangun kembali karakter muslim yang beradab. Ia tidak hanya menawarkan dimensi spiritual, tetapi juga memberikan panduan etis dan sosial yang komprehensif.
Dalam khazanah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), konsep ini sejalan dengan prinsip keseimbangan antara akidah, syariah, dan akhlak. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan:
“Tujuan utama ibadah adalah membentuk akhlak yang mulia.”
Hal ini menunjukkan bahwa keberagamaan yang sejati harus bermuara pada pembentukan karakter, bukan sekadar formalitas ritual.
Selain itu, Imam An-Nawawi juga menekankan pentingnya integrasi antara dimensi lahir dan batin dalam beragama:
“Kesempurnaan seorang hamba terletak pada konsistensinya dalam ketaatan, baik secara lahir maupun batin.”
Pandangan ini memperkuat bahwa karakter Ibadurrahman mencakup totalitas kehidupan seorang muslim.
Dalam tradisi Aswaja, khususnya yang berkembang di kalangan Nahdlatul Ulama, nilai-nilai seperti tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi prinsip dasar dalam beragama. Nilai-nilai ini merupakan pengejawantahan praktis dari karakter Ibadurrahman dalam konteks kehidupan sosial yang plural.
Dengan demikian, ayat:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا...
tidak hanya berbicara tentang sikap personal, tetapi juga mengandung pesan peradaban (civilizational message), yaitu membangun masyarakat yang damai, adil, dan berkelanjutan.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditegaskan bahwa konsep Ibadurrahman merupakan model ideal dalam membentuk karakter muslim yang utuh—mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, sosial, dan ekologis. Dalam menghadapi krisis karakter di era modern, internalisasi nilai-nilai Ibadurrahman menjadi kebutuhan mendesak guna menghadirkan kembali wajah Islam sebagai agama yang benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam.
Konsep Ibadurrahman dalam Al-Qur’an.
Secara terminologis, Ibadurrahman merujuk pada hamba-hamba Allah yang memiliki kedekatan khusus (qurb ilahi) dengan-Nya, yang tercermin dalam kualitas iman, ketulusan ibadah, dan keluhuran akhlak. Para ulama tafsir membedakan antara istilah ‘ibād (عِبَاد) dan ‘abīd (عَبِيد). Istilah ‘ibād digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan hamba-hamba yang dimuliakan karena ketaatan dan kedekatannya kepada Allah, sedangkan ‘abīd lebih bersifat umum, mencakup seluruh manusia sebagai makhluk ciptaan tanpa melihat kualitas spiritualnya.
Distingsi ini dapat ditelusuri dalam penggunaan Al-Qur’an, misalnya:
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku (yang beriman) tidak ada kekuasaan bagimu (setan) atas mereka.” (QS. Al-Hijr: 42)
Kata ‘ibādī dalam ayat ini menunjukkan hamba-hamba pilihan yang memiliki perlindungan khusus dari Allah karena kualitas iman dan istiqamah mereka.
Sebaliknya, istilah ‘abīd digunakan dalam konteks yang lebih umum, seperti dalam firman Allah:
وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ“Dan Tuhanmu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fussilat: 46)
Dalam ayat ini, kata ‘abīd mencakup seluruh manusia tanpa pengecualian.
Ibadurrahman sebagai Derajat Spiritual.
Konsep Ibadurrahman secara eksplisit dijelaskan dalam Al-Qur’an:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا...“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati...” (QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini bukan sekadar deskripsi, tetapi merupakan profil normatif tentang manusia ideal dalam Islam. Para mufassir seperti Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat-ayat ini (QS. Al-Furqan: 63–77) merupakan rangkaian sifat yang menunjukkan kemuliaan akhlak dan kedalaman spiritual.
Dengan demikian, Ibadurrahman bukanlah status otomatis sebagai manusia, melainkan derajat spiritual yang dicapai melalui proses iman, amal, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah).
Allah SWT juga menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi-Nya ditentukan oleh kualitas ketakwaan:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini memperkuat bahwa Ibadurrahman adalah representasi dari manusia yang mencapai puncak ketakwaan.
Dimensi Tauhid dan Ketundukan Total.
Konsep Ibadurrahman tidak dapat dilepaskan dari dimensi tauhid yang murni. Kedekatan dengan Allah hanya dapat dicapai melalui penghambaan total (‘ubudiyyah kāmilah). Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menegaskan bahwa esensi eksistensi manusia adalah penghambaan. Namun, Ibadurrahman adalah mereka yang tidak hanya beribadah secara formal, tetapi juga menghadirkan kesadaran tauhid dalam seluruh aspek kehidupan.
Dalam hadis, Rasulullah SAW menjelaskan dimensi ihsan sebagai puncak kualitas ibadah:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ...“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya...” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dimensi ihsan ini merupakan inti dari karakter Ibadurrahman, yaitu kesadaran spiritual yang mendalam dalam setiap amal.
Perspektif Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, konsep Ibadurrahman dipahami sebagai integrasi antara akidah yang lurus, syariah yang benar, dan akhlak yang mulia.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan:
“Hamba yang sejati adalah mereka yang tidak hanya tunduk secara lahir, tetapi juga hatinya senantiasa hadir bersama Allah.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Ibadurrahman bukan sekadar pelaku ibadah, tetapi juga pemilik kesadaran spiritual yang mendalam (hudhur al-qalb).
Sementara itu, Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah menjelaskan:
“Al-‘ubudiyyah adalah meninggalkan kehendak diri dan tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah.”
Hal ini menegaskan bahwa derajat Ibadurrahman dicapai melalui proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pengendalian ego.
Dalam konteks Aswaja, prinsip tawassuth (moderat) dan tawazun (seimbang) juga menjadi bagian integral dari konsep ini. Seorang Ibadurrahman tidak hanya fokus pada ibadah individual, tetapi juga menjaga keseimbangan dengan tanggung jawab sosial.
Internalisasi Nilai Ilahiah dalam Kehidupan.
Konsep Ibadurrahman menegaskan bahwa kualitas keimanan harus terwujud dalam praksis kehidupan. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2)
Ayat ini mengkritik dikotomi antara iman dan amal. Ibadurrahman adalah mereka yang mampu menyatukan keduanya secara konsisten.
Dalam hadis juga ditegaskan:
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari)
Hal ini menunjukkan bahwa indikator utama kedekatan dengan Allah adalah kualitas akhlak.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditegaskan bahwa konsep Ibadurrahman dalam Al-Qur’an merupakan konstruksi teologis sekaligus etis tentang manusia ideal dalam Islam. Ia bukan sekadar identitas, tetapi derajat spiritual yang dicapai melalui integrasi iman, ibadah, dan akhlak.
Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah, Ibadurrahman adalah representasi muslim yang utuh—memiliki keteguhan tauhid, kedalaman spiritual, serta komitmen sosial yang kuat. Oleh karena itu, tidak semua manusia mencapai derajat ini, melainkan hanya mereka yang mampu menginternalisasi nilai-nilai ilahiah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Karakteristik Ibadurrahman
1. Rendah Hati dan Anti Kesombongan
Ciri pertama Ibadurrahman adalah sikap tawadhu’, yaitu berjalan di muka bumi dengan penuh kerendahan hati:
“...orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati...” (QS. Al-Furqan: 63)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna haunan adalah sikap tenang, tidak sombong, dan tidak sewenang-wenang. Sikap ini tidak hanya berlaku dalam hubungan antar manusia, tetapi juga dalam relasi dengan alam.
Dalam konteks kontemporer, kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam menunjukkan absennya nilai tawadhu’ terhadap ciptaan Allah. Oleh karena itu, karakter Ibadurrahman juga mencakup kesadaran ekologis sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan .
2. Mengedepankan Kedamaian dalam Interaksi Sosial.
Karakter berikutnya adalah kemampuan merespons keburukan dengan kebaikan:
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini menunjukkan bahwa Ibadurrahman memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Mereka tidak reaktif terhadap provokasi, tetapi memilih jalan damai.
Teladan ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang tetap bersikap lembut meskipun dihina dan dicaci. Dalam hadis disebutkan bahwa beliau menenangkan orang yang gemetar di hadapannya dengan penuh kerendahan hati .
3. Kedalaman Spiritual melalui Qiyamul Lail
Karakter lain yang menonjol adalah kedekatan dengan Allah melalui ibadah malam:
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا“Dan orang-orang yang menghabiskan malam dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 64)
Ibadah malam menjadi sumber kekuatan spiritual yang membentuk ketahanan mental dan emosional. Dalam Al-Qur’an juga ditegaskan:
“Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka katakan, maka bertasbihlah...” (QS. Al-Hijr: 97–98)
Ayat ini menunjukkan bahwa solusi atas tekanan hidup adalah kembali kepada Allah melalui ibadah.
4. Memiliki Jiwa Rahmah (Kasih Sayang Universal)
Ciri utama Ibadurrahman adalah memiliki sifat rahmah yang melampaui batas ego pribadi. Mereka peduli terhadap sesama manusia, lingkungan, dan seluruh makhluk.
Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang.” (HR. Tirmidzi)
Sifat rahmah ini melahirkan sikap empati, mudah memaafkan, serta menjauhi perilaku merugikan orang lain.
Relevansi Konsep Ibadurrahman dalam Konteks Kontemporer.
Dalam era modern yang ditandai oleh krisis moral dan ekologis, konsep Ibadurrahman menjadi sangat relevan. Nilai-nilai seperti kerendahan hati, kedamaian, dan kepedulian sosial dapat menjadi solusi atas berbagai problematika umat.
Selain itu, konsep ini juga sejalan dengan prinsip Islam moderat (wasathiyah) yang menekankan keseimbangan, toleransi, dan keberlanjutan. Dengan demikian, Ibadurrahman bukan hanya konsep teologis, tetapi juga paradigma peradaban.
Kesimpulan.
Ibadurrahman merupakan representasi ideal seorang muslim yang mengintegrasikan dimensi spiritual, moral, dan sosial. Karakter mereka tercermin dalam sikap rendah hati, kemampuan menjaga kedamaian, kedalaman spiritual, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Dalam perspektif Islam, keberhasilan seorang muslim tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghadirkan nilai-nilai rahmah dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, internalisasi konsep Ibadurrahman menjadi kebutuhan mendesak dalam membangun masyarakat yang beradab, harmonis, dan berkelanjutan.
#Druns.
