Diamnya Orang Baik, Suburnya Kemungkaran

Margomulyo –Jumat, 6 November 2026. Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin pada Jumat, 6/11/2026. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam, KH. Agus Sholahudin Shidiq, MUI, Wakil Ketua PCNU Bojonegoro sekaligus Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro, menyampaikan khutbah yang menggugah kesadaran jamaah tentang pentingnya menghidupkan amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan sehari-hari.

Mengangkat tema “Amar Makruf Nahi Mungkar: Tugas Mulia yang Tak Boleh Diam”, beliau mengajak jamaah melakukan introspeksi, khususnya terhadap keberanian menyampaikan kebenaran ketika menyaksikan kemungkaran di lingkungan sekitar.

Dalam khutbahnya, beliau menggambarkan bagaimana manusia begitu mudah menyerukan kebaikan, mulai dari mengajak salat berjamaah, bersedekah hingga mengaji. Namun, ketika berhadapan dengan kemungkaran yang nyata, tidak sedikit orang justru memilih diam karena takut dimusuhi, dianggap sok suci, kehilangan pelanggan, atau terganggu hubungan sosialnya.

Fenomena tersebut semakin terasa di tengah perkembangan zaman. Beliau menyoroti bahaya judi online yang menyasar generasi muda, praktik riba melalui pinjaman online, serta berbagai penyimpangan yang perlahan dianggap lumrah. Media sosial pun terkadang menjadi ruang penyebaran fitnah dan kemungkaran, sementara sebagian masyarakat hanya menjadi penonton.

KH. Agus mengingatkan bahwa diam terhadap kemungkaran bukanlah sikap netral apabila seseorang sebenarnya mampu mengingatkan. Beliau mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Ma'idah ayat 78–79:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ ۝ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Ayat tersebut menjelaskan bahwa salah satu penyebab kemurkaan Allah kepada kaum terdahulu adalah karena mereka tidak saling mencegah kemungkaran yang dilakukan. Pesan ini menjadi peringatan bahwa kebaikan tidak cukup hanya dijalankan secara pribadi, tetapi juga harus diperjuangkan bersama.

Beliau kemudian mengingatkan firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Menurut beliau, amar makruf nahi mungkar harus dilakukan dengan ketulusan, kebijaksanaan, dan kelembutan. Hal ini sebagaimana pesan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika menghadapi Fir'aun, sebagaimana QS. Thaha ayat 43–44:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ ۝ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Khutbah juga mengingatkan bahwa tugas manusia adalah menyampaikan kebenaran, bukan memaksakan perubahan hati seseorang. Nasihat yang baik harus disampaikan dengan cara yang tepat, bukan dengan kemarahan yang justru menutup pintu kesadaran.

Menutup khutbahnya, KH. Agus mengajak jamaah memulai amar makruf nahi mungkar dari lingkungan terdekat: mendampingi anak-anak, saling mengingatkan dalam keluarga, menegur sahabat dengan santun, serta berani menyuarakan kebenaran.

Pesan yang ditekankan sangat mendalam: jangan sampai kita menjadi orang yang pandai mengajak kebaikan, tetapi kehilangan keberanian ketika menyaksikan keburukan.

Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa menjaga kebaikan bukan hanya tanggung jawab para ulama dan tokoh agama, melainkan kewajiban bersama. Sebab, masyarakat yang baik bukan sekadar masyarakat yang memiliki banyak orang saleh, tetapi juga masyarakat yang tidak membiarkan kemungkaran tumbuh tanpa peringatan.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar