Margomulyo — Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin kembali menjadi tempat berkumpulnya umat Islam untuk meneguhkan keimanan dan memperdalam pemahaman agama melalui pelaksanaan Salat Jumat pada Jumat, 23 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 11.45 WIB hingga selesai tersebut menghadirkan KH. Dr. H. Muh. Abdullah Hafith, S.Ag., S.H., M.H.I., yang akrab disapa Abah Hafidz, sebagai khatib sekaligus imam Salat Jumat.
Abah Hafidz yang menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Bojonegoro sekaligus Ketua Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) PCNU Bojonegoro menyampaikan khutbah bertema “4 Anjuran Rasulullah Meraih Surga.” Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah memahami bahwa jalan menuju surga tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari yang membawa manfaat, kedamaian, dan kebaikan bagi sesama.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesalehan seorang Muslim semestinya tercermin dalam hubungannya dengan Allah SWT sekaligus dalam hubungannya dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat luas.
Empat Anjuran Rasulullah untuk Meraih Surga
Mengawali khutbahnya, Abah Hafidz mengingatkan pentingnya ketakwaan kepada Allah SWT dan kepatuhan terhadap tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Ia kemudian menguraikan empat amalan yang diajarkan Rasulullah sebagai jalan untuk meraih surga, yakni menyebarkan salam, memberikan makanan, menjalin silaturahmi, dan melaksanakan salat malam.
Keempat amalan tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki nilai spiritual dan sosial yang mendalam apabila dijalankan secara konsisten.
1. Menyebarkan Salam dan Menebarkan Kedamaian
Amalan pertama adalah menyebarkan salam. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar membangun kehidupan yang dipenuhi kedamaian, kasih sayang, dan persaudaraan. Dalam naskah khutbah yang disampaikan, terdapat hadis riwayat Imam Ahmad:
أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
Artinya: “Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali silaturahmi, dan salatlah ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan penuh kedamaian.”
Abah Hafidz menjelaskan bahwa salam bukan sekadar ucapan pembuka ketika bertemu seseorang. Salam mengandung doa keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah SWT bagi orang yang menerimanya. Karena itu, membiasakan salam merupakan langkah sederhana untuk membangun suasana yang ramah dan menumbuhkan persaudaraan.
Sebaliknya, seorang Muslim hendaknya menjauhi kebiasaan menghujat, menyebarkan kebencian, memicu permusuhan, dan memutus hubungan persaudaraan. Sikap tersebut bertentangan dengan semangat Islam yang mengajarkan perdamaian.
Dengan demikian, menyebarkan salam perlu diwujudkan pula melalui tutur kata yang santun, sikap saling menghormati, dan kesediaan menjaga kerukunan di tengah masyarakat.
2. Memberikan Makanan dan Menumbuhkan Kepedulian Sosial
Amalan kedua adalah memberikan makanan kepada orang lain, khususnya mereka yang membutuhkan. Selain memenuhi kewajiban menafkahi keluarga, umat Islam dianjurkan memperluas kepedulian melalui sedekah dan berbagi rezeki.
Dalam khutbahnya, Abah Hafidz mengingatkan bahwa kedermawanan merupakan cerminan keimanan dan keyakinan terhadap kemurahan Allah SWT. Harta tidak semata-mata bernilai dari jumlah yang dimiliki, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Naskah khutbah mengutip hadis yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi:
السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ، قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ
Artinya: “Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka.”
Pesan ini menegaskan bahwa kedermawanan bukan hanya tentang memberikan sesuatu yang besar. Berbagi makanan, membantu tetangga yang kesulitan, menyantuni orang yang membutuhkan, dan meringankan beban sesama merupakan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.
Abah Hafidz juga mengingatkan pentingnya menghindari sifat bakhil atau kikir. Kecintaan berlebihan terhadap harta dapat membuat seseorang lupa bahwa rezeki merupakan amanah dari Allah SWT yang di dalamnya terdapat hak dan kesempatan untuk membantu sesama.
3. Menjalin Silaturahmi dan Memaafkan Sesama
Amalan ketiga adalah menjaga silaturahmi, termasuk kepada orang yang pernah menyakiti atau memutus hubungan dengan kita. Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pendapat dan persoalan pribadi terkadang menimbulkan perselisihan. Namun, Islam mengajarkan agar persoalan tersebut tidak dibiarkan berkembang menjadi permusuhan berkepanjangan.
Dalam naskah khutbah, Abah Hafidz mengutip riwayat tentang tiga sifat yang menjadi sebab seseorang memperoleh kemudahan dalam hisab dan rahmat Allah SWT:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ حَاسَبَهُ اللَّهُ حِسَابًا يَسِيرًا وَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ
Para sahabat bertanya, “Untuk siapa hal itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
تُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ
Artinya: “Engkau memberi kepada orang yang tidak memberimu, memaafkan orang yang menzalimimu, dan menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu.”
Pesan tersebut mengajarkan keluhuran akhlak: membalas keburukan dengan kebaikan, mengutamakan maaf daripada dendam, dan membuka jalan perdamaian ketika hubungan persaudaraan mengalami keretakan.
Silaturahmi dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti menyapa kerabat, mengunjungi orang tua, menanyakan kabar saudara, menjenguk orang sakit, atau menyelesaikan perselisihan melalui musyawarah. Dalam konteks kehidupan masyarakat, kebiasaan tersebut dapat memperkuat persatuan dan mencegah perpecahan.
Abah Hafidz juga mengingatkan bahwa memutus silaturahmi bukan persoalan sepele. Persaudaraan harus dirawat dengan ketulusan, kesabaran, dan kesediaan untuk saling memaafkan.
4. Melaksanakan Salat Malam dan Meneguhkan Kedekatan kepada Allah
Amalan keempat adalah melaksanakan salat malam ketika sebagian besar orang sedang beristirahat. Salat malam, termasuk tahajud, menjadi kesempatan bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam suasana yang tenang dan penuh kekhusyukan.
Dalam naskah khutbah disebutkan hadis riwayat Imam Muslim nomor 1163:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharam, dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.”
Abah Hafidz mengajak jamaah agar tidak memandang salat malam sebagai ibadah yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu. Ibadah ini dapat dimulai secara bertahap, sesuai kemampuan, dengan menjaga keikhlasan dan membangun kebiasaan secara istiqamah.
Salat malam juga menjadi ruang untuk bermuhasabah, memohon ampunan, berdoa, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Ketika dilakukan dengan tulus, ibadah tersebut diharapkan membentuk pribadi yang lebih sabar, rendah hati, serta mampu menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Meneladani Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari
Pada bagian akhir khutbah, Abah Hafidz mengajak jamaah meneladani Rasulullah SAW yang senantiasa menjaga ibadah sekaligus menunjukkan akhlak mulia dalam pergaulan. Rasulullah dikenal gemar mendahului mengucapkan salam, bersikap baik kepada sesama, memberi kepada orang lain, menyambung silaturahmi, dan tekun beribadah pada malam hari.
Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa ibadah dan akhlak tidak dapat dipisahkan. Kedekatan kepada Allah SWT semestinya mendorong seseorang menjadi pribadi yang lebih peduli, santun, dermawan, dan mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungannya.
Empat anjuran Rasulullah yang disampaikan dalam khutbah ini bukanlah amalan yang hanya relevan di lingkungan masjid. Semuanya dapat diterapkan di rumah, tempat kerja, lingkungan pendidikan, dan kehidupan sosial. Mengucapkan salam, berbagi makanan, menjaga hubungan persaudaraan, serta membiasakan salat malam merupakan ikhtiar yang dapat dimulai dari diri sendiri dan keluarga.
Masjid Wisata Religi sebagai Ruang Penguatan Iman dan Akhlak
Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin menjadi bagian dari upaya memakmurkan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, pembinaan akhlak, dan penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
Melalui khutbah yang menekankan empat amalan sederhana tersebut, jamaah diajak memahami bahwa meraih rida Allah SWT memerlukan kesungguhan dalam beribadah sekaligus komitmen untuk menebarkan kebaikan kepada sesama.
Pesan yang dapat dibawa pulang dari khutbah Jumat kali ini adalah bahwa jalan menuju surga dapat dimulai dari tindakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salam yang menenteramkan, makanan yang dibagikan, silaturahmi yang dipulihkan, dan salat malam yang dijaga merupakan bagian dari ikhtiar seorang Muslim untuk memperbaiki diri.
Semoga nasihat yang disampaikan Abah Hafidz menjadi pengingat bagi seluruh jamaah agar senantiasa istiqamah mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, mempererat persaudaraan, memperbanyak amal saleh, serta menutup kehidupan dengan husnul khatimah. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar