Jumat, 22 Mei 2026

Sejuk dan Menggugah, Khutbah Jum’at Gus Zainuddin Tekankan Pentingnya Kepedulian Sosial Umat

Margomulyo – Jum’at, 22 Mei 2026. Suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti pelaksanaan ibadah Shalat Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo pada Jum’at, 22 Mei 2026, mulai pukul 11.30 WIB hingga selesai. Jamaah dari berbagai wilayah tampak memadati area masjid untuk mengikuti rangkaian ibadah Jum’at yang kali ini menghadirkan tokoh muda Nahdlatul Ulama Kabupaten Bojonegoro, Gus Zainuddin Azhari, sebagai khotib sekaligus imam shalat Jum’at.

Dalam khutbahnya yang mengangkat tema “Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama”, Gus Zainuddin Azhari menyampaikan pesan-pesan keislaman yang menyejukkan sekaligus menggugah kesadaran sosial umat. Beliau mengawali khutbah dengan mengajak jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat iman dan Islam sebagai anugerah terbesar dari Allah SWT.

Selain menekankan pentingnya ketakwaan kepada Allah SWT, Gus Zainuddin juga mengingatkan bahwa hakikat ketakwaan tidak hanya tercermin dalam ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa, namun juga diwujudkan melalui kepedulian sosial dan semangat tolong-menolong antar sesama manusia.

Mengutip firman Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 2, beliau menegaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan. Menurutnya, membantu orang lain tidak selalu harus dengan materi atau harta benda, melainkan dapat diwujudkan melalui tenaga, nasihat, dukungan moral, maupun perhatian terhadap sesama yang sedang mengalami kesulitan.

“Sering kali seseorang hanya membutuhkan teman untuk mendengar keluh kesahnya. Itu pun sudah termasuk bentuk pertolongan yang sangat berarti,” demikian salah satu pesan penting yang disampaikan dalam khutbah tersebut.

Lebih lanjut, beliau juga menyampaikan hadis Rasulullah SAW riwayat Imam Muslim yang menjelaskan bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Pesan ini mengandung makna mendalam bahwa setiap kebaikan yang diberikan kepada orang lain sejatinya akan kembali menjadi sebab turunnya pertolongan Allah dalam kehidupan.

Khutbah Jum’at kali ini juga menyinggung momentum menjelang Hari Raya Idul Adha. Jamaah diajak untuk menumbuhkan keikhlasan dalam berbagi dan memperkuat kepedulian sosial melalui ibadah kurban sebagai sarana mempererat persaudaraan, membantu fakir miskin, anak yatim, serta masyarakat yang membutuhkan.

Dengan gaya penyampaian yang lugas, teduh, dan sarat makna, khutbah Gus Zainuddin Azhari mendapat perhatian penuh dari jamaah yang hadir. Pelaksanaan Shalat Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo pun berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh semangat ukhuwah Islamiyah.

==========================

Meraih Pertolongan Allah dengan Menolong Sesama

Telaah Qur’ani, Hadis Nabawi, dan Pandangan Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah tentang Kepedulian Sosial dalam Islam

Oleh: Badrun di sarikan dari materi khutbah Gus Zainuddin

Pendahuluan

Islam merupakan agama yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT (ḥablun minallāh), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama (ḥablun minannās). Kesempurnaan keimanan seorang muslim tidak hanya diukur dari rajinnya ibadah ritual, melainkan juga dari sejauh mana kepeduliannya terhadap sesama manusia. Dalam kehidupan sosial, Islam menanamkan nilai tolong-menolong, kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian sebagai manifestasi nyata dari ketakwaan.

Fenomena individualisme, lemahnya solidaritas sosial, serta meningkatnya sikap acuh terhadap penderitaan orang lain menjadi tantangan serius bagi umat Islam modern. Oleh sebab itu, khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Gus Zainuddin Azhari di Masjid Wisata Religi Margomulyo pada Jum’at, 22 Mei 2026 menjadi sangat relevan untuk dikaji secara ilmiah dan keislaman. Tema “Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama” mengandung pesan mendalam tentang hubungan erat antara amal sosial dan pertolongan Allah SWT.


Konsep Tolong-Menolong dalam Perspektif Al-Qur’an

Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

Artinya:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Māidah: 2)

Ayat ini menjadi landasan utama konsep solidaritas sosial dalam Islam. Menurut Tafsir Imam Al-Qurṭubi, kata al-birr mencakup seluruh bentuk kebaikan yang mendekatkan manusia kepada Allah SWT, sedangkan at-taqwā berarti menjaga diri dari segala larangan-Nya.

Dalam perspektif sosial, ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menghendaki umatnya hidup secara individualistis. Kehidupan masyarakat harus dibangun atas dasar kerja sama, empati, dan saling menguatkan.

Allah SWT juga berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 10)

Konsep ukhuwah ini bukan sekadar hubungan simbolik, melainkan ikatan spiritual yang menuntut adanya kepedulian nyata terhadap kondisi sesama muslim.


Hadis Nabi tentang Keutamaan Membantu Sesama

Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap pentingnya membantu orang lain. Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya:

“Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antara kepedulian sosial dan pertolongan Allah SWT. Siapa yang ringan tangan membantu orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia maupun akhirat.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya:

“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan satu kesusahannya pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)

Hadis ini memperlihatkan bahwa membantu orang lain bukan hanya bernilai sosial, tetapi juga menjadi investasi akhirat.


Pandangan Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah

Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian penting dari implementasi akhlak Islam.

1. Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn menjelaskan bahwa hakikat ibadah tidak cukup hanya dengan ritual lahiriah, melainkan harus melahirkan manfaat bagi orang lain. Beliau menegaskan:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Pandangan ini menunjukkan bahwa kualitas seorang muslim diukur dari kebermanfaatannya di tengah masyarakat.


2. Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan hadis tentang pertolongan Allah kepada hamba-Nya sebagai dorongan kuat agar umat Islam memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Menurut beliau, membantu sesama termasuk amal utama yang dapat mendatangkan rahmat Allah SWT.


3. KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Asy'ari dalam tradisi pemikiran Nahdlatul Ulama menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah. Kepedulian sosial merupakan bagian dari pengamalan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Beliau mengajarkan bahwa seorang muslim harus hadir sebagai penebar manfaat, penolong masyarakat, dan penguat persatuan umat.


Kepedulian Sosial sebagai Implementasi Ketakwaan

Ketakwaan dalam Islam bukan hanya tampak pada ibadah ritual, tetapi juga dalam perilaku sosial. Allah SWT berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Artinya:

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Āli ‘Imrān: 92)

Ayat ini menunjukkan bahwa pengorbanan sosial merupakan indikator ketakwaan sejati. Orang yang bertakwa tidak akan tega membiarkan saudaranya mengalami kesusahan.

Islam juga mengajarkan bahwa membantu orang lain tidak harus selalu berupa materi. Memberikan nasihat, tenaga, ilmu, bahkan senyuman pun termasuk sedekah.

Rasulullah SAW bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Artinya:

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”
(HR. Tirmidzi)


Relevansi Menjelang Idul Adha

Menjelang Hari Raya Idul Adha, semangat kepedulian sosial semakin menemukan momentumnya melalui ibadah kurban. Kurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan, melainkan simbol keikhlasan, pengorbanan, dan solidaritas sosial.

Allah SWT berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)

Distribusi daging kurban mengandung nilai pemerataan sosial dan kepedulian terhadap kaum dhuafa. Dalam tradisi Aswaja, ibadah kurban dipandang sebagai sarana mempererat ukhuwah dan membangun harmoni masyarakat.


Penutup

Islam adalah agama yang menyeimbangkan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Membantu sesama bukan hanya tindakan kemanusiaan, tetapi juga ibadah yang memiliki dimensi ukhrawi. Al-Qur’an, hadis Nabi, dan pandangan ulama Aswaja secara tegas menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian integral dari ketakwaan.

Dalam konteks kehidupan modern yang semakin individualistik, umat Islam dituntut untuk kembali menghidupkan nilai-nilai solidaritas, empati, dan gotong royong. Pertolongan Allah SWT tidak turun begitu saja, melainkan hadir melalui kepedulian kita terhadap sesama.

Sebagaimana pesan Rasulullah SAW:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Semoga umat Islam mampu menjadi pribadi yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga hadir sebagai penolong, penguat, dan pembawa manfaat bagi masyarakat luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar