Margomulyo — Jum’at, 24 Juli 2026. Suasana khusyuk menyelimuti pelaksanaan ibadah Shalat Jum’at di Masjid Wisata Religi pada Jum’at, 24 Juli 2026, pukul 11.45–12.30 WIB. Pada kesempatan tersebut, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kasiman sekaligus Wakil Ketua MWCNU Kecamatan Padangan, Achmad Maqin, S.Fil.I., M.H., bertindak sebagai khatib sekaligus imam Shalat Jum’at.
Dalam khutbahnya, khatib mengawali dengan mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. sebagai bekal utama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Beliau mengingatkan firman Allah Swt.:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۚ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia di atas fitrah yang lurus. Oleh karena itu, menjaga fitrah merupakan bagian dari menjalankan ajaran agama yang benar.
Dalam materi khutbah yang berjudul "Menjaga Fitrah dan Melindungi Generasi dari Normalisasi Budaya LGBTQ", khatib menjelaskan bahwa tantangan umat Islam dewasa ini tidak selalu datang dalam bentuk ancaman fisik, tetapi juga melalui arus informasi, media digital, hiburan, simbol, dan budaya populer yang perlahan dapat memengaruhi cara berpikir masyarakat, khususnya generasi muda. Beliau mengingatkan bahwa sebuah penyimpangan sering kali tidak langsung dipaksakan untuk diterima, melainkan diawali dengan proses normalisasi melalui tayangan, pemberitaan, hingga pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau kemudian mengutip firman Allah Swt.:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Ayat tersebut menjadi pengingat agar umat Islam tidak ikut menyebarkan ataupun mendukung tersebarnya berbagai bentuk kemaksiatan di tengah masyarakat, sebab hal tersebut dapat mengikis rasa malu dan melemahkan nilai-nilai keimanan.
Lebih lanjut, khatib menjelaskan bahwa penyebaran budaya LGBTQ menjadi perhatian bersama karena bertentangan dengan fitrah penciptaan manusia sebagaimana diajarkan dalam Islam. Namun demikian, beliau menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan kebencian kepada individu. Yang harus ditolak adalah penyimpangan perilaku dan upaya normalisasinya, sementara setiap manusia tetap harus diperlakukan dengan akhlak yang baik, diberikan nasihat, dan dibukakan pintu taubat.
Sebagai landasan, beliau membacakan firman Allah Swt.:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan sebagai dasar terbentuknya keluarga yang sakinah, penuh kasih sayang, serta menjadi jalan lahirnya generasi penerus. Menjaga keutuhan keluarga dan keturunan merupakan bagian penting dari tujuan syariat Islam (hifzhun nasl).
Dalam khutbahnya, beliau juga mengulas kisah Nabi Luth a.s. sebagai pelajaran bagi umat Islam. Kisah tersebut menunjukkan bahaya ketika suatu kemaksiatan berubah menjadi budaya yang dianggap biasa. Melalui beberapa ayat Al-Qur'an, khatib mengingatkan bahwa nilai-nilai agama harus terus dijaga agar masyarakat tidak terbiasa menganggap penyimpangan sebagai sesuatu yang lumrah. Beliau mengutip firman Allah Swt.:
وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ
serta firman-Nya:
قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ
Ayat-ayat tersebut menjadi pelajaran bahwa ketika nilai kebaikan mulai dianggap asing dan penyimpangan dianggap biasa, maka umat Islam memiliki kewajiban untuk tetap menjaga prinsip-prinsip agama dengan hikmah dan kebijaksanaan.
Di penghujung khutbah, khatib mengajak seluruh jamaah memperkuat tiga benteng utama dalam menjaga generasi, yaitu keluarga sebagai tempat pendidikan pertama, lembaga pendidikan sebagai pembentuk karakter, serta mimbar-mimbar dakwah yang terus memberikan edukasi keagamaan secara santun, ilmiah, dan penuh hikmah. Beliau memohon agar Allah Swt. senantiasa menjaga keluarga, anak-anak, serta bangsa Indonesia dari berbagai bentuk penyimpangan yang merusak iman, akhlak, dan fitrah manusia.
Usai pelaksanaan Shalat Jum’at, Achmad Maqin, S.Fil.I., M.H. melanjutkan kegiatan dengan beramah tamah bersama jajaran pengurus Takmir Masjid Wisata Religi. Momentum tersebut berlangsung hangat dan penuh keakraban, kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk silaturahmi dan penguatan sinergi antara KUA Kecamatan Kasiman dengan pengurus masjid dalam membangun kehidupan keagamaan yang moderat, harmonis, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Unduh Materi Khutbah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar