Jumat, 26 Desember 2025

Khutbah Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo: Menegaskan Urgensi Sholat sebagai Penjaga Iman


Masjid Wisata Religi Margomulyo kembali menggelar pelaksanaan Shalat Jum’at dengan penuh kekhidmatan pada Jum’at, 26 Desember 2025. Kegiatan ibadah mingguan tersebut dimulai pukul 11.30 WIB hingga selesai dan diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan masyarakat dengan suasana tertib, khusyuk, dan religius.

Pada kesempatan tersebut, yang bertindak sebagai khotib sekaligus imam Shalat Jum’at adalah Kiyai Imam Sholikhin, S.Pd., Anggota DPR Kabupaten Bojonegoro. Dalam khutbahnya, beliau mengangkat tema urgensi wahyu sholat serta bahaya meninggalkan sholat, sebagai pondasi utama dalam menjaga keimanan dan ketakwaan seorang muslim.

Dalam penyampaiannya, khotib menegaskan bahwa sholat merupakan perintah langsung dari Allah SWT yang diterima Rasulullah ﷺ melalui peristiwa Isra’ Mi’raj, sehingga kedudukannya sangat fundamental dalam kehidupan seorang mukmin. Sholat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi menjadi pembeda antara iman dan kekufuran, serta penentu keselamatan manusia di akhirat.

Imam Sholikhin, juga mengingatkan ancaman keras bagi orang-orang yang dengan sengaja meninggalkan sholat, sebagaimana firman Allah SWT tentang siksa neraka Saqar:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?”
Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan sholat.”
(QS. Al-Muddatstsir: 42–43)

Melalui ayat tersebut, jamaah diajak untuk merenungi bahwa meninggalkan sholat bukanlah perkara ringan, melainkan dosa besar yang berakibat pada siksa yang berat di akhirat. Oleh karena itu, khotib mengajak seluruh jamaah untuk menjaga sholat lima waktu, menegakkannya dengan penuh kesadaran, serta menjadikannya sebagai sumber kekuatan spiritual dan moral dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan Shalat Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo berlangsung dengan tertib dan lancar. Jamaah menyimak khutbah dengan penuh perhatian, menandakan kuatnya respon dan kesadaran umat terhadap pentingnya pesan yang disampaikan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan Masjid Wisata Religi Margomulyo terus menjadi pusat ibadah dan dakwah yang mampu menanamkan nilai-nilai keislaman yang mendasar, membangun kesadaran beragama, serta menguatkan komitmen umat Islam dalam menjaga sholat sebagai tiang agama dan jalan keselamatan menuju ridha Allah SWT.

Usai pelaksanaan Shalat Jum’at, suasana kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah semakin terasa di lingkungan Masjid Wisata Religi Margomulyo. Jamaah dan pengurus takmir masjid saling bertegur sapa, mencerminkan kuatnya ikatan silaturahmi yang terbangun melalui aktivitas ibadah berjamaah.

Kegiatan Jum’at ini diharapkan tidak hanya berhenti pada pelaksanaan ibadah rutin semata, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga sholat sebagai pondasi kehidupan beragama. Dengan istiqamah dalam menegakkan sholat, umat Islam diharapkan memiliki kekuatan iman dan akhlak yang kokoh, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab.

Masjid Wisata Religi Margomulyo terus berkomitmen menjadi ruang ibadah yang menyejukkan, pusat dakwah yang mencerahkan, serta wadah pembinaan umat yang mengedepankan nilai-nilai keislaman, kebijaksanaan, dan persatuan.

Jumat, 19 Desember 2025

Gus Jek serukan rawat Ketakwaan dan Kuatkan Ukhuwah: Khutbah Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo”

Gus Jek (Jas Putih) Foto bersama pengurus Takmir usai Khutbah jum'at

Masjid Wisata Religi An-nahdla  Margomulyo kembali menjadi pusat pelaksanaan ibadah Shalat Jum’at yang berlangsung dengan khidmat pada Jum’at, 19 Desember 2025. Kegiatan dimulai sekitar pukul 11.30 WIB dan diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan masyarakat dengan suasana tertib, tenang, dan penuh kekhusyukan.


Pada kesempatan tersebut, yang bertindak sebagai khotib sekaligus imam Shalat Jum’at adalah Dr. Ahmad Jakfar Al Mansur, M.Pd., Wakil Ketua PCNU Kabupaten Bojonegoro, Atau Gus Jek Sapaan Akrab untuk beliau,. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan penekanan pada penguatan iman, ketakwaan kepada Allah SWT, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial umat Islam.


Materi khutbah disampaikan secara sistematis, komunikatif, dan sarat nilai hikmah. Jamaah diajak untuk senantiasa memperbaiki kualitas diri, menjaga akhlak mulia, serta menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan spiritual dan moral di tengah kehidupan masyarakat. Pesan-pesan keislaman yang disampaikan relevan dengan kondisi umat saat ini, sehingga mampu menggugah kesadaran jamaah untuk terus meningkatkan kualitas keimanan dan kepedulian sosial.


Usai pelaksanaan Shalat Jum’at, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah antara Gus Jek dengan para pengurus takmir Masjid Wisata Religi An-nahdla Margomulyo. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan terasa dalam pertemuan tersebut. Sebagai penutup, beliau juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama pengurus takmir di kawasan masjid, sebagai bentuk dokumentasi sekaligus penguat silaturahmi.


Kegiatan Shalat Jum’at ini sekaligus menegaskan komitmen Masjid Wisata Religi An-nahdla Margomulyo dalam menghadirkan pelayanan ibadah yang berkualitas serta menghadirkan ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama yang kompeten dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman yang meneduhkan. Kehadiran Gus Dr. Ahmad Jakfar Al Mansur, M.Pd. memberikan nuansa ilmiah sekaligus spiritual yang memperkaya pemahaman jamaah terhadap ajaran Islam.


Diharapkan, pesan-pesan khutbah yang telah disampaikan dapat menjadi bekal bagi jamaah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup keluarga, bermasyarakat, maupun berbangsa dan bernegara. Dengan ketakwaan yang terus dirawat dan ukhuwah yang dijaga, Masjid Wisata Religi An-nahdla  Margomulyo diharapkan semakin kokoh menjadi pusat ibadah, dakwah, dan penguatan karakter umat Islam yang berakhlakul karimah.


Melalui kegiatan Jum’at ini, Masjid Wisata Religi An-nahdla Margomulyo diharapkan terus berperan sebagai pusat ibadah, dakwah, dan penguatan nilai-nilai keislaman yang moderat, menyejukkan, serta membawa manfaat bagi umat dan masyarakat luas.

Jumat, 12 Desember 2025

“Hati sebagai Penentu Sikap atas Musibah: Khutbah Jum’at Reflektif KH. Moh. Nurul Huda di Masjid Wisata Religi Margomulyo”


 Pelaksanaan Shalat Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo pada Jum’at, 12 Desember 2025 berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan. Khutbah Jum’at dimulai pukul 11.35 WIB hingga selesai, diikuti oleh jamaah yang memadati masjid dengan suasana tertib dan religius.

Bertindak sebagai khotib sekaligus imam Shalat Jum’at adalah KH. Drs. Moh. Nurul Huda, MHI, Wakil Katib PCNU Kabupaten Bojonegoro. Dalam khutbahnya yang bertema “Diri Manusia dan Musibah”, beliau mengajak jamaah untuk merenungi peran hati sebagai pusat pengendali perilaku manusia dalam menyikapi ujian dan musibah kehidupan.

KH. Nurul Huda menegaskan bahwa dalam diri manusia terdapat segumpal daging yang menjadi penentu baik dan buruknya perilaku, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Beliau menjelaskan bahwa hati yang baik akan mampu mengambil hikmah dari setiap musibah, menjadikannya sebagai ujian, peringatan, dan sarana introspeksi diri. Sebaliknya, hati yang keras akan memandang musibah semata sebagai peristiwa alam tanpa makna spiritual.

Dalam khutbahnya, khotib juga mengingatkan bahwa berbagai kerusakan dan bencana yang terjadi tidak lepas dari ulah manusia, sebagaimana firman Allah SWT:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
(QS. Ar-Rum: 41)

Selain itu, jamaah diajak untuk memperbanyak istighfar sebagai perisai dari musibah dan azab Allah, mengingat janji Allah SWT:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
(QS. Al-Anfal: 33)

Pada bagian akhir khutbah, KH. Nurul Huda menekankan pentingnya membangun ketakwaan kolektif agar keberkahan diturunkan bagi suatu negeri, sebagaimana firman Allah SWT:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
(QS. Al-A’raf: 96)

Usai pelaksanaan Shalat Jum’at, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah antara KH. Nurul Huda dengan pengurus takmir Masjid Wisata Religi Margomulyo. Suasana hangat dan penuh keakraban terasa dalam pertemuan tersebut, yang kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan penguat silaturahmi.

Melalui khutbah ini, jamaah diharapkan semakin memiliki hati yang muthmainnah, mampu menyikapi musibah dengan iman, kesabaran, dan ketakwaan, serta menjadikan setiap peristiwa sebagai jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan terselenggaranya Khutbah Jum’at ini, Masjid Wisata Religi Margomulyo kembali meneguhkan fungsinya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan ruhani dan kesadaran sosial umat. Pesan-pesan khutbah yang disampaikan KH. Nurul Huda, MHI menjadi pengingat penting bagi jamaah untuk selalu menjaga kebersihan hati, memperkuat iman, serta meningkatkan kepekaan spiritual dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Diharapkan nilai-nilai yang disampaikan dalam khutbah tersebut dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun dalam menjaga harmoni dengan lingkungan sekitar. Dengan hati yang bersih, istighfar yang terus dilantunkan, dan ketakwaan yang terjaga, umat Islam diyakini mampu meraih ketenangan hidup serta keberkahan dari Allah SWT, menuju kehidupan yang aman, sejahtera, dan diridhai-Nya.

Jumat, 28 November 2025

Khutbah Jum’at di Masjid An-Nahdla Margomulyo: Gus Luthfie Ajak Jamaah Bangun Optimisme dan Ketakwaan

Margomulyo – Masjid Wisata Religi An-Nahdla kembali dipadati jamaah dalam pelaksanaan ibadah shalat Jum’at pada 28 November 2025. Suasana khidmat terasa sejak awal ketika Gus Luthfie Zamroni, Wakil Ketua PCNU Bojonegoro, tampil sebagai khatib sekaligus imam pada pelaksanaan khutbah Jum’at tersebut.

Dalam khutbahnya, Gus Luthfie mengangkat tema tentang optimisme dalam menghadapi dinamika kehidupan, sebagaimana tertuang dalam naskah khutbah resmi yang beliau bawakan. Beliau menegaskan bahwa setiap manusia pasti melewati masa sulit dan masa lapang, namun seorang muslim wajib menghadapinya dengan kesabaran, keteguhan iman, dan prasangka baik kepada Allah SWT.

Mengutip firman Allah dalam QS. Asy-Syarh ayat 5–6:

“Fa inna ma’al ‘usri yusrā. Inna ma’al ‘usri yusrā.”
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Gus Luthfie mengingatkan bahwa ujian hidup adalah keniscayaan, namun Allah selalu menyediakan jalan keluar bagi hamba yang sabar dan bertawakal. Dalam khutbahnya juga disebutkan tentang pentingnya memelihara akal, sebagai anugerah Allah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dengan akal, manusia dapat mengolah, berproses, dan memaknai setiap peristiwa dalam hidupnya.

Beliau mengajak jamaah untuk tidak mudah berputus asa, serta menata niat dalam mencari rezeki dan menjalani kehidupan dunia secara seimbang dengan orientasi akhirat.

Usai pelaksanaan shalat Jum’at, Gus Luthfie meluangkan waktu untuk ramah tamah bersama pengurus Takmir Masjid An-Nahdla. Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat saat beliau berdiskusi ringan mengenai keberlangsungan kegiatan keagamaan di masjid. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama, sebagai bentuk dokumentasi sekaligus penguatan ukhuwah di lingkungan masjid.

Khutbah dan pertemuan tersebut diharapkan mampu menambah semangat jamaah dan takmir masjid dalam memakmurkan rumah Allah serta membangun optimisme dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Jumat, 21 November 2025

Syukur Sebagai Cahaya Hidup: Pelajaran Berharga dari Khutbah KH. Ridwan Hambali

KH. Ridwan Hambali (Tengah)

Kegiatan ibadah Shalat Jumat di Masjid An-Nahdla Margomulyo pada Jum’at, 21 November 2025 berlangsung khidmat. Ibadah dimulai pukul 11.30 WIB hingga selesai, dengan para jamaah antusias hadir memenuhi saf-saf masjid.

Pada pelaksanaan Jumat kali ini, tampil sebagai Khotib KH. Ridwan Hambali, Lc., M.A, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pascasarjana UNUGIRI Bojonegoro. Beliau menyampaikan khutbah dengan tema “Syukur Atas Nikmat Allah”, sebuah pesan yang menyentuh hati dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam khutbahnya, KH. Ridwan Hambali mengajak jamaah untuk menanamkan tekad meningkatkan iman dan takwa sebagai wujud rasa syukur atas kehidupan serta segala nikmat yang telah Allah anugerahkan. Beliau menegaskan bahwa takwa merupakan sebaik-baik bekal saat menghadap Allah di hari pengadilan kelak. 

Khotib juga mengisahkan keteladanan Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam yang, meskipun dianugerahi kekuasaan besar dan kemampuan luar biasa, tetap menunjukkan sifat rendah hati dan tidak henti-hentinya bersyukur atas nikmat Allah. Bahkan mendengar nasihat seekor semut pun, Nabi Sulaiman langsung menengadahkan doa agar selalu diberi kemampuan untuk bersyukur dan berbuat kebaikan. 

Lebih lanjut disampaikan bahwa syukur bukan sekadar ucapan lisan, tetapi pengakuan dari hati bahwa segala kenikmatan, kemampuan, ilmu dan rezeki berasal dari Allah, bukan dari upaya diri sendiri. Karena itu, orang yang bersyukur sudah seharusnya memanfaatkan nikmat yang dimiliki untuk kebaikan dan kemaslahatan.

KH. Ridwan Hambali juga mengingatkan jamaah bahwa Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi orang-orang yang pandai bersyukur, sedangkan kelalaian dalam bersyukur merupakan bentuk kekufuran nikmat yang akan mendatangkan kerugian. Beliau menutup khutbah dengan ajakan agar seluruh jamaah membudayakan kebiasaan bersyukur melalui amal saleh, akhlak baik, serta ketaatan kepada Allah SWT. 

Suasana penuh kekhidmatan tampak mewarnai seluruh rangkaian ibadah hingga selesai. Para jamaah menyimak khutbah dengan penuh perhatian, terlebih karena tema syukur sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat yang tengah menghadapi berbagai tantangan dan dinamika sosial. Melalui pesan-pesan yang disampaikan, jamaah diingatkan bahwa keberkahan hidup, ketentraman rumah tangga, kesehatan, rezeki, hingga kesempatan untuk beribadah adalah nikmat besar yang tidak boleh diabaikan. 

Sebelum mengakhiri khutbah, KH. Ridwan Hambali mengajak jamaah untuk senantiasa bermuhasabah, serta membiasakan diri menghubungkan segala capaian dan keberhasilan hidup kepada Allah SWT, bukan sekadar kemampuan diri. Beliau menekankan bahwa orang yang bersyukur bukan hanya menerima nikmat, tetapi juga menggunakan nikmat tersebut untuk menebar manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar. 

Beliau juga menambahkan bahwa umat Islam yang bersyukur akan menjadi pembawa kebaikan, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta berkontribusi dalam membangun kehidupan yang damai, stabil, dan beradab. Sejalan dengan hal itu, rasa syukur memiliki nilai ibadah sekaligus nilai sosial karena dapat mendorong terbangunnya masyarakat yang saling menghargai, saling menolong, dan saling menguatkan. 

Dengan terselenggaranya kegiatan Jumat ini, diharapkan seluruh jamaah semakin terdorong untuk membiasakan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari, memanfaatkan setiap kesempatan berbuat kebaikan, serta menjaga kualitas iman dan ibadah demi meraih ridha dan keberkahan Allah SWT.

Ibadah Salat Jumat berakhir dengan doa bersama, penuh harap agar jamaah selalu tergolong ke dalam hamba-hamba Allah yang bersyukur dan mendapatkan keberkahan hidup di dunia maupun akhirat.

Setelah rangkaian ibadah dan khutbah selesai, KH. Ridwan Hambali, Lc., M.A menyempatkan diri untuk beramah tamah dengan takmir Masjid An-Nahdla. Suasana hangat tercipta dalam pertemuan tersebut, di mana pihak takmir menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran dan ilmu yang beliau sampaikan dalam khutbah Jumat. Silaturahmi ini berlangsung penuh keakraban serta menjadi momen saling mendoakan agar kegiatan dakwah dan pembinaan umat dapat terus berjalan dengan baik.

Sebagai penutup, beliau dan para pengurus takmir melakukan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan kenangan atas terselenggaranya kegiatan Jumat pada hari tersebut. Momen ini juga menandai harapan agar kerja sama dan hubungan baik antara Masjid An-Nahdla dan para ulama serta tokoh masyarakat terus terjalin di masa mendatang.

Sabtu, 15 November 2025

Menyibak Hikmah Kelapangan Dada: Tausiyah Mendalam Ustadz Anwar Saleh Hasibuan, Lc., M.H.

Momen Foto bersama Ustadz H. Anwar Saleh Hasibuan (Surban Hijau) dengan takmir masjid

Margomulyo – Kegiatan ibadah Jum’at di Masjid Wisata Religi An-Nahdla Margomulyo pada Jum’at, 14 November 2025 berlangsung khidmat dan penuh antusias dari jamaah setempat. Pelaksanaan dimulai pukul 11.30 WIB hingga selesai, dengan khotib Ustadz H. Anwar Saleh Hasibuan, Lc., M.H., seorang alumni Universitas Al-Azhar Mesir sekaligus dosen tetap Hukum Ekonomi Syariah di UNUGIRI Bojonegoro.

Dalam khutbahnya, Ustadz Anwar mengangkat tema “Sebab-Sebab Lapangnya Dada (Hati)”, sebuah materi yang menekankan pentingnya ketenangan batin dan kelapangan hati dalam menjalani kehidupan. Beliau menjelaskan bahwa kelapangan dada merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya. Dengan mengutip berbagai ayat Al-Qur’an, seperti QS. Az-Zumar: 22 dan QS. Al-An’am: 125, Ustadz Anwar menegaskan bahwa kelapangan hati hanya diberikan kepada orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dan istiqamah dalam ajaran Islam.

Beliau juga memaparkan 10 sebab yang melapangkan dada, antara lain: mentauhidkan Allah, memperbanyak zikir, berdoa memohon kelapangan dada, merenungi nikmat Allah, memperbanyak amal saleh, berbuat baik kepada sesama, menjauhi maksiat, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, ridha terhadap takdir Allah, serta mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat. Penjelasan tersebut disampaikan dengan gaya bahasa yang menyentuh dan mudah dipahami, sehingga jamaah tampak antusias dan menyimak dengan seksama.

Suasana masjid terasa teduh dan penuh ketenangan selama khutbah berlangsung, mencerminkan pesan utama yang disampaikan khotib. Setelah pelaksanaan salat Jum’at selesai, Ustadz Anwar meluangkan waktu untuk beramah-tamah bersama jamaah dan melakukan foto bersama takmir masjid, sebagai bentuk kedekatan dan silaturahmi.

Kegiatan khutbah dan salat Jum’at di Masjid Wisata Religi An-Nahdla Margomulyo kali ini bukan hanya menjadi momen ibadah rutin, tetapi juga memberikan tambahan ilmu dan motivasi spiritual bagi seluruh jamaah yang hadir. Semoga pesan-pesan yang disampaikan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini juga menjadi salah satu agenda rutin Masjid Wisata Religi An-Nahdla dalam menghadirkan para khotib kompeten dan berpengalaman untuk memberikan pencerahan keagamaan kepada masyarakat Margomulyo dan sekitarnya. Takmir masjid berharap, kehadiran para khotib seperti Ustadz H. Anwar Saleh Hasibuan dapat terus memperkuat syiar Islam serta meningkatkan kualitas keimanan jamaah.

Selain itu, para jamaah mengaku sangat terbantu dengan materi khutbah yang disampaikan. Banyak di antara mereka merasa bahwa penjelasan mengenai cara-cara melapangkan dada menjadi bekal penting menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern yang sering menimbulkan tekanan dan kegelisahan.

Dengan selesainya seluruh rangkaian kegiatan, panitia menyampaikan terima kasih atas partisipasi jamaah dan kehadiran Ustadz Anwar. Masjid Wisata Religi An-Nahdla berkomitmen untuk terus menjadi pusat kegiatan keagamaan yang edukatif, menyejukkan, dan mampu memperkuat ukhuwah Islamiyah di lingkungan Margomulyo.

Acara ditutup dengan penuh kehangatan dan harapan agar khutbah yang telah disampaikan dapat memberikan keberkahan, ketenangan, serta kelapangan dada bagi seluruh jamaah.

Jumat, 24 Oktober 2025

KH. Sun’an Mubarok Ajak Jamaah Masjid An-Nahdla Margomulyo Meneguhkan Istiqamah dalam Berislam


Margomulyo — Suasana Masjid An-Nahdla Margomulyo pada Jumat, 24 Oktober 2025, terasa khusyuk dan penuh makna. Kegiatan Khutbah Jum’at kali ini menghadirkan KH. Drs. Sun’an Mubarok, S.Pd.I., MM., selaku Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro, sebagai khatib. Kegiatan dimulai pukul 11.30 WIB dan berlangsung hingga selesai dengan penuh kekhidmatan.

Dalam khutbahnya, KH. Sun’an Mubarok menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya istiqamah dalam beragama, khususnya dalam menjaga keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT di tengah tantangan kehidupan modern. Beliau mengingatkan jamaah agar selalu berpegang teguh pada ajaran Islam hingga akhir hayat.

“Janganlah engkau mati melainkan dalam keadaan beragama Islam,” tegas beliau mengutip firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 102, sebagai seruan agar umat senantiasa menjaga konsistensi keimanan dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

KH. Sun’an juga menekankan bahwa istiqamah bukan hanya sekadar ucapan, melainkan bukti nyata dalam perbuatan. Seorang muslim yang istiqamah akan senantiasa menegakkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan cinta damai dalam setiap aspek kehidupan.

“Istiqamah adalah tanda kemantapan hati. Orang yang istiqamah tidak mudah tergoyahkan oleh godaan dunia, karena hatinya terpaut kepada Allah,” ujarnya penuh hikmah.

Usai pelaksanaan khutbah dan salat Jumat, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan foto bersama antara KH. Sun’an Mubarok dan jamaah Masjid An-Nahdla. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tampak mewarnai pertemuan tersebut, sebagai bentuk ukhuwah Islamiyah yang terus dijaga oleh masyarakat Margomulyo.

Kehadiran KH. Sun’an Mubarok dalam khutbah Jumat kali ini tidak hanya memberikan pencerahan spiritual bagi jamaah, tetapi juga menjadi teladan bagi umat tentang pentingnya meneguhkan keimanan, memperkuat keislaman, dan beristiqamah di jalan Allah SWT.

Jumat, 05 September 2025

Khutbah Jum’at di Masjid Wisata Religi An-Nahdla Margomulyo: Pesan Istiqomah dari Sekretaris PCNU Bojonegoro

foto bersama usai Khutbah Jum'at

Margomulyo – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Wisata Religi An-Nahdla Margomulyo pada Jumat (5/9/2025). Jamaah berbondong-bondong memenuhi saf shalat Jumat yang dimulai pukul 11.34 WIB hingga selesai. Ibadah kali ini dipimpin oleh K. Moh. Zainudin, M.Pd., Sekretaris PCNU Bojonegoro, yang bertindak sebagai khatib sekaligus imam.

Dalam khutbahnya, K. Moh. Zainudin mengangkat tema penting tentang ketaqwaan, keistiqomahan, dan kesabaran dalam menghadapi dinamika kehidupan. Beliau mengingatkan jamaah bahwa hidup di dunia hanyalah sementara dan setiap muslim harus senantiasa memperkuat iman serta amal shalih sebagai bekal menuju akhirat.

Beliau mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn” (QS. Āli ‘Imrān: 102)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Pesan tersebut ditegaskan dengan seruan agar jamaah menjadikan masjid sebagai pusat ibadah sekaligus pusat peradaban umat Islam. “Masjid harus hidup dengan dzikir, doa, dan kajian ilmu. Di sanalah kekuatan umat dibangun,” tutur beliau dalam khutbahnya.

Usai khutbah dan pelaksanaan shalat Jumat, acara dilanjutkan dengan ramah tamah bersama pengurus takmir masjid. Dalam kesempatan itu, K. Moh. Zainudin berpesan khusus kepada jajaran takmir agar tetap istiqomah dan sabar dalam mengemban amanah ketakmiran.

“Mengurus masjid bukan hanya soal bangunan fisik, melainkan bagaimana memakmurkannya dengan ibadah dan kegiatan yang menumbuhkan iman. Takmir harus sabar, karena apa yang dijalankan insyaAllah menjadi amal jariyah yang pahalanya tidak akan terputus,” ungkapnya.

Kegiatan khutbah Jumat ini meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah. Selain mempertegas urgensi taqwa, juga menjadi pengingat pentingnya peran takmir masjid dalam menjaga syiar Islam agar tetap hidup dan berkesinambungan di Margomulyo.

Kamis, 28 Agustus 2025

Mensyukuri Kemerdekaan, Merawat Persaudaraan: Pesan Hangat Kepala Kemenag Bojonegoro di Masjid An-Nahdla



 Margomulyo— Suasana khidmat menyelimuti Masjid An-Nahdla pada Jumat, 22 Agustus 2025. Jamaah yang memadati masjid mengikuti khutbah Jumat yang disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro, Dr. H. Amanullah, S.Ag., M.H.I.


Dalam khutbahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, kemerdekaan yang saat ini dinikmati bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan buah dari perjuangan panjang para pahlawan bangsa.

"Para pejuang terdahulu telah mengorbankan jiwa, raga, bahkan nyawa demi terwujudnya kemerdekaan. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan perjuangan itu dengan mengisi kemerdekaan melalui amal terbaik, persatuan, serta pengabdian kepada bangsa dan negara," tegas Dr. Amanullah dalam khutbahnya.

Beliau juga menekankan bahwa rasa syukur terhadap kemerdekaan harus diwujudkan tidak hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan tindakan nyata. Umat Islam diajak untuk berkontribusi dalam menjaga persaudaraan, meningkatkan ketakwaan, serta membangun kehidupan berbangsa yang harmonis dan penuh semangat kebersamaan.

Usai menyampaikan khutbah, Dr. Amanullah menyempatkan diri untuk ramah tamah dengan pengurus takmir Masjid An-Nahdla. Suasana begitu hangat dan akrab tanpa sekat, roman penuh persaudaraan tampak menyelimuti pertemuan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Kepala Kemenag Bojonegoro memberikan pesan khusus kepada para takmir masjid agar senantiasa bersabar dan tetap istiqomah dalam berkhidmah. “Mengurus masjid adalah amanah mulia. Dibutuhkan kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan. InsyaAllah, setiap langkah pengabdian akan dicatat sebagai amal jariyah,” tuturnya penuh nasihat.

Momen sederhana namun penuh makna itu menjadi penutup indah dalam rangkaian kegiatan Jumat di Masjid An-Nahdla, sekaligus menguatkan semangat kebersamaan antara ulama, umara, dan jamaah dalam merawat ukhuwah Islamiyah.

(Red/Drun)

Jumat, 11 Juli 2025

Jumat Berkah di Masjid An-Nahdla: Menghayati Muharram dalam Semangat Hijrah


Sumberjo, 11 Juli 2025 — Masjid An-Nahdla kembali menjadi pusat spiritual masyarakat Margomulyo dalam pelaksanaan Khutbah Jumat yang khidmat dan sarat makna. Kali ini, bertindak sebagai Khatib, KH. Ridwan Hambali, Lc., M.ADirektur Pascasarjana UNUGIRI Bojonegoro.

Dalam khutbahnya yang mengangkat tema “Menghidupkan Nilai Hijrah dan Keutamaan Muharram”, KH. Ridwan menekankan pentingnya memaknai tahun baru Hijriah, khususnya bulan Muharram, sebagai momentum untuk melakukan hijrah moral dan spiritual. Umat diajak untuk meneladani keteladanan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, yang dengan hijrah mereka lahirlah peradaban Islam yang agung dan penuh kasih sayang.

Usai pelaksanaan shalat Jumat, suasana kekeluargaan pun terasa hangat dalam ramah tamah bersama pengurus takmir Masjid An-Nahdla. Dalam pertemuan tersebut, KH. Ridwan memberikan motivasi dan dukungan moral agar masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat di wilayah Margomulyo.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen keislaman dan kebangsaan masyarakat, dengan spirit hijrah menuju pribadi dan bangsa yang lebih baik.


📜 Materi Khutbah Jumat

Tema: Hijrah Menuju Kepribadian yang Mulia dalam Semangat Muharram
Tempat: Masjid An-Nahdla, Sumberjo, Margomulyo
Tanggal: Jumat, 11 Juli 2025 / Pertengahan Muharram 1447 H
Khatib: KH. Ridwan Hambali, Lc., M.A

Isi Pokok Khutbah:

  1. Seruan Takwa:

    • Mengajak seluruh jamaah untuk bertakwa kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya secara maksimal.

  2. Keutamaan Muharram:

    • Muharram adalah bulan mulia, salah satu dari empat bulan haram.

    • Dosa diperberat, dan pahala dilipatgandakan di bulan ini (QS. At-Taubah: 36).

  3. Spirit Hijrah:

    • Muharram bukan hanya penanggalan baru, tetapi momentum hijrah menuju pribadi yang lebih baik.

    • Teladani semangat kaum Muhajirin dan Anshar yang penuh ukhuwah dan pengorbanan.

  4. Amalan Spesial di Bulan Muharram (khususnya Asyura):

    • Mandi Asyura

    • Bersedekah, menyantuni anak yatim

    • Memberi makan dan minum

    • Memperbanyak ibadah, istighfar, dan membaca Al-Ikhlas

    • Berbuat baik kepada sesama, menjenguk orang sakit, dan memaafkan kesalahan

  5. Relevansi Sosial dan Kebangsaan:

    • Spirit Muharram bisa digunakan sebagai alat untuk membangun moral bangsa.

    • Mendorong umat agar berpartisipasi aktif dalam membangun masyarakat yang berakhlak dan beradab.

  6. Penutup:

    • Doa dan harapan agar umat Islam terus memperbaiki diri, mempererat persatuan, dan menjadi agen perdamaian serta kemajuan umat dan bangsa.

Senin, 07 Juli 2025

🕌 KHUTBAH JUM’AT BERSAMA GUS LUTFI ZAMRONI, MPd. DI MASJID AN-NAHDLA SUMBERJO MARGOMULYO


Margomulyo, Jum’at 4 Juli 2025 — Suasana Masjid An-Nahdla Sumberjo Kecamatan Margomulyo dipenuhi keteduhan spiritual pada hari Jum’at, 8 Muharram 1447 H. Dalam pelaksanaan ibadah Jum’at kali ini, jajaran takmir masjid menghadirkan sosok khatib yang inspiratif, Gus Lutfi Zamroni, MPd, pengasuh Pondok Pesantren Abu Dzarrin Dander Bojonegoro.

Dalam khutbah yang mengangkat tema "Meraih Keutamaan Bulan Muharram", Gus Lutfi mengajak jamaah untuk menyadari betapa bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (bulan suci) dalam Islam. Momentum ini, kata beliau, adalah kesempatan emas untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan sesama.

🌙 Refleksi Spiritual di Bulan Muharram

Kehadiran Gus Lutfi Zamroni, MPd. membawa nuansa keilmuan dan spiritual yang mendalam. Beliau tidak hanya menyampaikan khutbah dengan fasih dan penuh hikmah, tetapi juga mampu menggugah kesadaran jamaah tentang urgensi memanfaatkan bulan Muharram sebagai titik balik perubahan diri. Dalam khutbahnya, beliau mengutip penjelasan Imam Al-Qusyairi dalam Lathaiful Isyarat, bahwa bulan-bulan tertentu diberi keutamaan agar manusia memperbanyak ketaatan karena Allah tahu hambanya tidak mampu konsisten sepanjang waktu.

Gus Lutfi juga menekankan bahwa amal kebaikan yang dilakukan di bulan Muharram bernilai berlipat ganda, baik berupa ibadah individual seperti puasa, maupun ibadah sosial seperti menyantuni anak yatim. “Kelembutan hati dimulai dari menyentuh kehidupan orang lain dengan kasih sayang,” tutur beliau, seraya menyampaikan hadits Nabi tentang orang yang mengusap kepala anak yatim akan mendapatkan kelembutan hati.

Pokok-Pokok Isi Khutbah:

  1. Keutamaan Muharram sebagai bulan yang dimuliakan Allah, tempat terbuka lebar pintu taubat dan amal kebajikan.

  2. Pentingnya takwa, sebagai bekal terbaik dunia-akhirat, sebagaimana dikutip dari Syekh Abi Bakr Syatta dalam Kifayatul Atqiya.

  3. Anjuran memperbanyak ibadah, terutama puasa Asyura yang sangat dianjurkan berdasarkan hadits sahih dari Imam Muslim.

  4. Menyantuni anak yatim, sebagai wujud kasih sayang dan bentuk ibadah sosial yang sangat mulia, dengan janji kebersamaan di surga bersama Rasulullah SAW.

🤝 Ramah Tamah dan Foto Bersama

Selepas khutbah, Gus Lutfi Zamroni yang mengenakan jas cokelat muda dan sarung bercorak tenun, menyempatkan waktu untuk berbincang hangat bersama para pengurus Takmir Masjid An-Nahdla. Momen kebersamaan itu diabadikan dalam sebuah foto penuh keakraban dan semangat ukhuwah Islamiyah.

Dalam potret tersebut, Gus Lutfi berdiri di antara jajaran pengurus takmir yang turut mengenakan busana muslim tradisional lengkap dengan kopiah dan sarung, mencerminkan kearifan lokal dan kekhidmatan suasana masjid. Semangat dakwah dan kebersamaan terpancar dari senyum dan salam komando yang mereka tampilkan. 

🕊️ Penutup dan Harapan

Kegiatan Jum’at kali ini di Masjid An-Nahdla tidak hanya menjadi rutinitas ibadah, melainkan sebuah majelis ilmu yang menumbuhkan semangat pembaruan diri. Harapan besar terucap dari para jamaah agar khutbah semacam ini terus hadir, memperkaya pemahaman dan menyuburkan iman di tengah dinamika zaman.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan atas ilmu yang disampaikan, melipatgandakan pahala para penyantun yatim, dan mengangkat derajat umat Islam yang istiqamah dalam taqwa, khususnya di bulan Muharram yang penuh kemuliaan ini. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Minggu, 22 Juni 2025

Khidmat dan Penuh Makna: Khutbah Jum’at Bersama Ustadz Agus Sholahudin Shidiq, M.H.I. di Masjid An-Nahdla Margomulyo

Margomulyo – Jum’at, 20 Juni 2025, Masjid Wisata Religi An-Nahdla Margomulyo kembali menjadi pusat perhatian masyarakat muslim di wilayah Bojonegoro bagian selatan. Dalam suasana yang penuh khidmat, Ustadz Agus Sholahudin Shidiq, M.H.I., Dekan Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama (UNUGIRI) Bojonegoro sekaligus Direktur Masjid Al-Birru Bojonegoro, didaulat sebagai khatib Jum’at.

Khutbah beliau pada kesempatan tersebut mengangkat tema yang sangat menyentuh dan relevan bagi kehidupan spiritual umat Islam, yaitu tentang “Enam Rasa Takut yang Sepatutnya Dimiliki oleh Seorang Mukmin”, mengutip hikmah dari Sayyidina Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu yang tertuang didalam kitan An-nashoihl Ibad. Dengan gaya penyampaian yang santun, mendalam, dan sarat makna, beliau menjelaskan bahwa seorang mukmin harus senantiasa merasa takut dalam enam perkara penting:

  1. Takut kepada Allah SWT bila mencabut iman dari dirinya di saat-saat terakhir kehidupan. Kematian dalam keadaan husnul khatimah menjadi harapan, dan rasa takut akan kehilangan iman menjadi pengingat untuk terus menjaga amal.

  2. Takut kepada para malaikat pencatat amal (Kiraman Katibin) yang bisa saja mencatat aib yang akan membuka tabir aib kita di hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ bahwa "aib di dunia lebih ringan daripada aib di akhirat."

  3. Takut kepada setan yang senantiasa mengintai celah untuk membatalkan amal saleh seseorang melalui riya', ujub, atau perbuatan maksiat lainnya.

  4. Takut kepada malaikat maut yang bisa saja datang tiba-tiba saat seseorang sedang dalam keadaan lalai, tanpa persiapan untuk bertemu Rabb-nya.

  5. Takut terhadap dunia yang penuh tipu daya dan keindahan yang menyesatkan, sehingga membuat hati tenang dengannya dan melupakan kehidupan akhirat yang kekal.

  6. Takut kepada keluarga dan anak-anak, apabila perhatian yang berlebihan terhadap mereka justru menjauhkan seseorang dari dzikir dan ibadah kepada Allah.

Dalam penutupan khutbahnya, Gus Sholah, demikian beliau akrab disapa, menekankan pentingnya muroqobah (merasa diawasi Allah) dalam setiap langkah kehidupan, serta mengajak jamaah untuk memperkuat iman dan amal saleh di tengah godaan dunia yang semakin kompleks.

Setelah shalat Jum’at, Ustadz Agus Sholahudin Shidiq meluangkan waktu untuk beramah tamah bersama jajaran Takmir Masjid An-Nahdla. Suasana akrab dan penuh kehangatan tampak dalam momen tersebut. Beberapa jamaah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi ringan, meminta doa, dan menyampaikan aspirasi seputar kegiatan dakwah dan keagamaan.

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama di pelataran masjid yang megah dan artistik. Dalam foto yang diabadikan, Gus Sholah terlihat berdiri di tengah, diapit oleh dua pengurus Takmir Masjid An-Nahdla. Potret ini bukan hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga simbol sinergi antara ulama, akademisi, dan penggerak masjid dalam membangun kehidupan spiritual masyarakat yang lebih kuat dan bermartabat.

Khutbah ini diharapkan menjadi pelecut semangat umat untuk semakin dekat dengan Allah, menata kehidupan yang penuh kesadaran akan akhirat, serta menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan iman dan amal.

==========================

Materi Khutbah (Kutipan Kitab An-nashoihul Ibad)


(و) المقالة الخامسة: (قال عثمان رضي الله عنه: إِنَّ الْمُؤْمِنَ) يبغي أن يكون ماشيًا (فِي سِتَّةِ أَنْوَاعِ مِنَ الْخَوْفِ أَحَدُهَا :) أن يخاف (مِنْ قِبَلِ اللهِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْهُ الإِيمَانَ) وقت النزع، روي أن ابن مسعود دعا بهذا الدعاء: اللهم إني أسألك إيماناً لا يرتد، ونعيماً لا ينفد، وقرة عين لا تنقطع، ومرافقة نبيك محمد ﷺ في أعلى جنان الخلد ( وَالثَّانِي :) أن يخاف (مِنْ قَبْلِ الْحَفَظَة) أي الكاتبين الأعمال العباد (أن يَكْتُبُوا عَلَيْهِ مَا يَفْتَضِحُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ) عن النبي ﷺ قال: «فُضُوحُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ فُضُوحِ الْآخِرَةِ» رواه الطبراني عن الفضل. قال المناوي : أي العار الحاصل للنفس من كشف العيب في الدنيا بقصد التنصل منه أهون من كتمانه إلى يوم القيامة حتى ينشر ويشتهر في الموقف. اهـ. ولذا لما وقع بعض الصحابة في الزنا وعرف هذا الحديث أقر بذلك له ليحده، ولم يرجع عن الإقرار مع تعريضه له بالرجوع، لعلمه بأن فضيحته في الدنيا بإقامة الحد أهون من فضيحة الآخرة (وَالثَّالِث:) أن يخاف (مِنْ قَبْلِ الشَّيْطَانِ أَنْ يُبْطِلَ عَمَلَهُ الصالح. (وَالرَّابِعُ :) أن يخاف ( مِنْ قِبَلِ مَلَكِ الْمَوْتِ أَنْ يَأْخُذَهُ) أي يقبض روحه حال كونه (في غَفْلَةٍ) عن الله تعالى (بغتة) أي فجأة من غير تقدم سبب الموت. (وَالْخَامِس:) أن يخاف (من قبل الدُّنيا) أي متاعها وزينتها أن يغتر) أي يطمئن (بهَا وَتُشْغَلُهُ عَنِ الآخِرَةِ) وينسى أهوالها. (وَالسَّادس :) أن يخاف (مِنْ قِبَلِ الأَهْلِ وَالْعِيَالِ) وهم من يمونهم أَنْ يَشْتَغِلَ بِهِمْ فَيُشْغِلُونَهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تعالى) وعن طاعته.

==============

 

TERJEMAH

(Pasal Kelima): Utsman radhiyallahu ‘anhu berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin sepatutnya berjalan dalam enam macam rasa takut."

Pertama: Ia takut kepada Allah, yakni takut jika Allah mencabut iman darinya saat menjelang ajal. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud berdoa dengan doa ini:

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang tidak kembali (murtad), kenikmatan yang tidak akan lenyap, penyejuk mata yang tidak pernah terputus, dan menyertai Nabi-Mu Muhammad di surga Firdaus yang paling tinggi."

Kedua: Ia takut kepada para malaikat pencatat amal, yaitu para malaikat yang mencatat amal perbuatan hamba, bahwa mereka akan menuliskan sesuatu atasnya yang akan menjadi bahan aib pada hari kiamat. Dari Nabi bersabda: "Aib di dunia lebih ringan dibandingkan aib di akhirat." (HR. ath-Thabrani dari al-Fadhl).

Imam al-Manawi menjelaskan: Maksudnya, aib yang dialami di dunia akibat terbongkarnya suatu aib dengan tujuan agar bertaubat adalah lebih ringan dibandingkan menyembunyikannya hingga hari kiamat, lalu disebarkan dan menjadi perbincangan di hadapan khalayak. Oleh karena itu, ketika sebagian sahabat terjatuh dalam perzinaan dan mengetahui hadis ini, mereka mengakui perbuatannya agar ditegakkan had atasnya. Mereka tidak menarik kembali pengakuan tersebut, meski diberi kesempatan, karena mereka tahu bahwa aib di dunia melalui hukuman had lebih ringan dibandingkan aib di akhirat.

Ketiga: Ia takut kepada setan, bahwa setan akan membatalkan amal salehnya.

Keempat: Ia takut kepada malaikat maut, bahwa ia akan mencabut nyawanya dalam keadaan lalai dari Allah Ta’ala dan secara tiba-tiba, tanpa adanya tanda-tanda kematian sebelumnya.

Kelima: Ia takut kepada dunia, yakni kesenangan dan perhiasannya, bahwa ia akan terpedaya olehnya, menjadi tenang dengan dunia, lalu dunia melalaikannya dari akhirat dan membuatnya lupa akan dahsyatnya akhirat.

Keenam: Ia takut kepada keluarga dan anak-anak yang dinafkahinya, bahwa ia akan terlalu sibuk mengurus mereka sehingga mereka justru melalaikannya dari mengingat Allah Ta’ala dan dari ketaatan kepada-Nya.