runing text

Selamat Datang Di Website Resmi Masjid Wisata Religi Sumberjo Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. =====> Khutbah Inspiratif Kiyai Taufiq Azzuhri: Keluarga adalah Pondasi Utama Lahirnya Generasi Rabbani, Menggapai Keselamatan Akhirat, Gus Fathur Rozi Ajak Jamaah Meneladani Akhlak Rasulullah SAW. Malam Jum’at Pon di Masjid Wisata Religi Margomulyo: Menebar Kasih Sayang kepada Sesama Makhluk sebagai Jalan Meraih Rahmat Allah

Khutbah Jum’at di Masjid Wisata Religi Margomulyo: Pesan Rasulullah tentang Mengendalikan Amarah


Margomulyo, Jum’at 31 Juli 2026, suasana Masjid Wisata Religi Margomulyo tampak khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Pada pukul 11.45 hingga 12.30 WIB, jamaah mengikuti rangkaian khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Kiyai Badrun Sulaiman, Ketua MUI Margomulyo, yang sekaligus bertindak sebagai imam Jum’at. Dalam khutbah bertema “Pesan Rasulullah Mengendalikan Amarah”, beliau mengajak umat Islam untuk menjadikan ketakwaan sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai ujian emosi di kehidupan sehari-hari. 

Pada khutbah pertama, disampaikan bahwa marah adalah bagian dari sifat naluriah manusia, sehingga yang menjadi persoalan bukanlah keberadaan marah itu sendiri, melainkan bagaimana amarah tersebut dikendalikan agar tidak melahirkan tindakan yang merusak. Kiyai Badrun menegaskan bahwa banyak persahabatan retak, perkelahian terjadi, dan rumah tangga hancur bukan karena persoalan besar, melainkan karena emosi yang tidak terkendali. Karena itu, Rasulullah SAW memberi wasiat singkat namun sangat mendalam: “لَا تَغْضَبْ” — jangan marah. Pesan ini diulang sebagai penegasan agar seorang muslim tidak dikuasai ledakan emosi. 

Khutbah tersebut juga menguraikan penjelasan ulama bahwa larangan “jangan marah” bukan berarti menghapus sifat marah dari diri manusia, sebab marah memang ada secara fitrah. Yang diajarkan Rasulullah SAW adalah menjauhi sebab-sebab pemicu amarah, lalu menahan diri agar tidak larut dalam kemarahan ketika ia datang. Dalam bahasa yang lebih lugas, umat Islam dituntun untuk menata respons, bukan mematikan rasa. Di sinilah letak kematangan akhlak seorang mukmin: tenang dalam tekanan, santun dalam perbedaan, dan tetap teguh dalam kebenaran.

Puncak penguat khutbah ini diambil dari firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 134, yaitu: “وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ”. Ayat ini menegaskan bahwa salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan kemarahan dan memaafkan kesalahan orang lain. Khotib menjelaskan bahwa kata kadzimin menunjukkan tuntutan untuk mengendalikan amarah, bukan menghilangkan emosi secara total. Dari sini, jamaah diajak memahami bahwa ketakwaan bukan hanya urusan ibadah ritual, tetapi juga kemampuan menjaga lisan, sikap, dan hati saat menghadapi persoalan. 

Lebih jauh, beliau mengingatkan bahwa orang yang mampu menahan amarah justru bukan orang lemah. Rasulullah SAW menegaskan:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ” 

orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan yang mampu menahan diri ketika marah. Di era yang penuh tekanan, caci maki media sosial, perselisihan keluarga, dan konflik sosial, pesan ini terasa sangat aktual dan menjadi pedoman agar umat Islam tidak mudah terseret emosi sesaat.

Memasuki khutbah kedua, Kiyai Badrun Sulaiman menutup dengan doa agar jamaah diberi kemampuan untuk menjaga lisan, menahan emosi, memperbaiki hubungan antarsesama, dan memperoleh predikat muttaqin yang dijanjikan surga. Khutbah ditutup dengan pesan agar jamaah kembali menghidupkan nilai-nilai takwa dalam rumah tangga, masyarakat, dan ruang digital, sehingga ajaran Rasulullah tentang pengendalian amarah benar-benar menjadi akhlak yang hidup dalam keseharian.

Berita Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar