Margomulyo - Jum’at, 06 Maret 2026. Suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti pelaksanaan ibadah Sholat Jum’at di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, pada Jum’at, 06 Maret 2026, yang dimulai sejak pukul 11.30 WIB hingga selesai. Jamaah yang terdiri dari warga sekitar serta para peziarah yang datang dari berbagai daerah tampak memadati masjid yang dikenal sebagai salah satu destinasi religi di wilayah Margomulyo tersebut.
Pada kesempatan tersebut, KH Fahrur Rozi, S.Ag., M.A., yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris PCNU Bojonegoro sekaligus Kepala KUA Kecamatan Ngambon, bertindak sebagai khatib sekaligus imam Sholat Jum’at. Dalam khutbahnya yang sarat dengan pesan keilmuan dan spiritualitas, beliau mengangkat tema “Mulia Sebab Al-Qur’an”, sebuah refleksi mendalam tentang kemuliaan hidup manusia yang bersumber dari kedekatannya dengan kitab suci Al-Qur’an.
Mengawali khutbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Seruan ini disampaikan dengan menegaskan bahwa ketakwaan merupakan bekal utama dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.
Dalam penjelasannya, KH Fahrur Rozi mengingatkan bahwa manusia seringkali mudah lupa diri ketika memperoleh kesenangan, namun mudah pula berkeluh kesah ketika menghadapi cobaan. Oleh karena itu, momentum bulan Ramadhan menjadi kesempatan agung bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari dosa dan kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Beliau menjelaskan bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh kemuliaan karena menjadi waktu diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil." (QS. Al-Baqarah: 185)
Selain itu, khatib juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan keutamaan ibadah di bulan Ramadhan.
Dalam uraian khutbahnya, KH Fahrur Rozi menjelaskan bahwa kemuliaan Al-Qur’an melahirkan berbagai kemuliaan lain dalam kehidupan umat manusia. Setidaknya terdapat beberapa dimensi kemuliaan yang lahir karena turunnya Al-Qur’an.
- Pertama, kemuliaan bulan Ramadhan, karena pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan dan di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.
- Kedua, kemuliaan ibadah di malam Lailatul Qadar, yang pahalanya seakan-akan setara dengan ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun tanpa henti.
- Ketiga, kemuliaan bumi ketika para malaikat bersama Malaikat Jibril turun membawa keberkahan dan kedamaian hingga terbitnya fajar.
- Keempat, kemuliaan Al-Qur’an sebagai kitab suci paling agung, sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengannya ikut memperoleh kemuliaan.
- Kelima, kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang menerima wahyu Al-Qur’an.
- Keenam, kemuliaan Malaikat Jibril sebagai malaikat yang diamanahi membawa wahyu tersebut.
- Ketujuh, kemuliaan bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya karena menjadi waktu turunnya kitab suci Al-Qur’an.
- Dan kedelapan, kemuliaan malam Lailatul Qadar sebagai malam istimewa ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah sebelum kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun.
Melalui penjelasan tersebut, khatib menegaskan bahwa siapa pun yang ingin meraih kemuliaan hidup harus mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, baik dengan membacanya, memahami maknanya, maupun mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, beliau mendorong jamaah untuk memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, beristighfar, dan melakukan i’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Rasulullah SAW bahkan mengajarkan doa yang dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam tersebut:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah kami."
Khutbah yang disampaikan dengan gaya komunikatif dan penuh hikmah tersebut memberikan penguatan spiritual bagi jamaah yang hadir, sekaligus menjadi pengingat bahwa kemuliaan manusia sangat ditentukan oleh kedekatannya dengan Al-Qur’an.
Usai pelaksanaan Sholat Jum’at, KH Fahrur Rozi meluangkan waktu beramah tamah dengan para pengurus takmir Masjid Samin Baitul Muttaqin. Dalam suasana yang penuh kehangatan dan kekeluargaan, kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan sesi foto bersama di area masjid, sebagai simbol kebersamaan dalam merawat syiar Islam serta memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.
Kegiatan Jum’at tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam memperkuat fungsi Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan spiritual, dakwah, serta penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
Uraian Ilmiah: Al-Qur’an sebagai Sumber Kemuliaan Peradaban Umat
Secara teologis dan historis, kemuliaan yang melekat pada Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual individu, tetapi juga memiliki implikasi luas terhadap pembentukan peradaban umat manusia. Dalam perspektif kajian keislaman, Al-Qur’an dipahami sebagai sumber utama ajaran Islam (al-mashdar al-awwal) yang berfungsi sebagai petunjuk hidup (hudā), pembeda antara yang benar dan yang salah (al-furqān), serta pedoman moral dan sosial bagi umat manusia.
Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan ritual, melainkan sistem nilai yang membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih lurus, adil, dan beradab. Oleh karena itu, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari status sosial atau kekayaan materi, tetapi dari sejauh mana ia menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.
Dalam kajian ilmu tafsir dan pemikiran Islam, para ulama juga menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Al-Qur’an memiliki beberapa dimensi utama, yaitu membaca (tilāwah), memahami (tafahhum), menghayati (tadabbur), dan mengamalkan (tatbīq). Keempat dimensi tersebut membentuk proses internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah SAW bahkan menegaskan kemuliaan orang yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an melalui sabdanya:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Hadis tersebut menunjukkan bahwa derajat kemuliaan manusia dalam Islam sangat berkaitan erat dengan interaksinya terhadap Al-Qur’an. Mereka yang belajar, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an akan mendapatkan posisi yang mulia di sisi Allah SWT maupun di tengah masyarakat.
Lebih jauh lagi, dalam perspektif sejarah Islam, kebangkitan peradaban Islam pada masa klasik juga tidak dapat dipisahkan dari kedalaman interaksi umat dengan Al-Qur’an. Semangat keilmuan, keadilan sosial, serta perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu lahir dari dorongan nilai-nilai Qur’ani yang menekankan pentingnya ilmu, akhlak, dan tanggung jawab moral.
Dengan demikian, khutbah yang disampaikan KH Fahrur Rozi sesungguhnya tidak hanya mengingatkan umat tentang keutamaan Ramadhan, tetapi juga mengajak jamaah untuk menghidupkan kembali peradaban Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari. Ramadhan menjadi momentum strategis untuk memperkuat hubungan umat Islam dengan Al-Qur’an melalui tadarus, tadabbur, serta pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pada akhirnya, kemuliaan yang dijanjikan Al-Qur’an bukan hanya bersifat ukhrawi, tetapi juga menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan dunia. Individu yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup akan memiliki ketenangan spiritual, kepekaan sosial, serta integritas moral, yang pada gilirannya mampu membangun masyarakat yang lebih adil, harmonis, dan berkeadaban.
Karena itu, pesan utama khutbah tersebut menjadi sangat relevan bagi umat Islam masa kini: siapa pun yang ingin meraih kemuliaan hidup, maka jadikanlah Al-Qur’an sebagai sahabat, pedoman, dan sumber inspirasi dalam setiap langkah kehidupan.
Dimensi Etika dan Spiritual dalam Interaksi dengan Al-Qur’an
Selain sebagai sumber hukum dan pedoman kehidupan, Al-Qur’an juga memiliki dimensi etika dan spiritual yang sangat mendalam. Para ulama menegaskan bahwa interaksi seorang muslim dengan Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada aktivitas membaca atau menghafal, tetapi harus berkembang menjadi transformasi akhlak dan pembentukan karakter mulia. Dengan kata lain, nilai-nilai Al-Qur’an harus tercermin dalam sikap, perilaku, dan pola hidup seorang mukmin.
Prinsip ini dapat dilihat dari teladan Nabi Muhammad SAW yang digambarkan oleh para sahabat sebagai sosok yang menjadikan Al-Qur’an sebagai manifestasi akhlaknya. Ketika Ummul Mukminin Aisyah RA ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, beliau menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, umat Islam dituntut untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai standar moral dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah (ḥablun minallāh) maupun hubungan dengan sesama manusia (ḥablun minannās).
Dalam perspektif pendidikan Islam, Al-Qur’an juga berperan sebagai sarana pembentukan kepribadian yang seimbang antara dimensi spiritual, intelektual, dan sosial. Nilai-nilai seperti kejujuran (ṣidq), amanah, kesabaran (ṣabr), keadilan (‘adl), dan kasih sayang (raḥmah) merupakan prinsip moral yang secara konsisten diajarkan dalam Al-Qur’an.
Hal ini selaras dengan firman Allah SWT:
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
Ayat tersebut menjadi fondasi etika sosial dalam Islam yang menegaskan bahwa ajaran Al-Qur’an tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membangun tatanan sosial yang adil, harmonis, dan bermartabat.
Relevansi Nilai-Nilai Qur’ani di Era Modern
Di tengah perkembangan zaman yang ditandai oleh kemajuan teknologi, globalisasi informasi, serta dinamika sosial yang semakin kompleks, nilai-nilai Al-Qur’an justru semakin relevan untuk dijadikan pedoman hidup. Tantangan moral yang muncul dalam kehidupan modern—seperti krisis integritas, konflik sosial, hingga penyalahgunaan teknologi—memerlukan landasan etika yang kuat.
Dalam konteks ini, Al-Qur’an berfungsi sebagai kompas moral yang menuntun manusia agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, serta kepedulian sosial menjadi prinsip universal yang mampu menjaga keseimbangan kehidupan manusia.
Momentum bulan Ramadhan, sebagaimana disampaikan dalam khutbah tersebut, merupakan kesempatan emas bagi umat Islam untuk merevitalisasi hubungan dengan Al-Qur’an. Aktivitas seperti tadarus, kajian tafsir, serta penguatan tradisi keilmuan di masjid dapat menjadi sarana efektif untuk memperdalam pemahaman terhadap pesan-pesan Al-Qur’an.
Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai bulan ibadah ritual, tetapi juga sebagai bulan pendidikan spiritual dan intelektual yang membentuk generasi muslim yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas.
Penegasan Akhir: Al-Qur’an sebagai Jalan Kemuliaan
Pada akhirnya, pesan utama yang dapat diambil dari khutbah tersebut adalah bahwa kemuliaan hidup manusia sangat ditentukan oleh kedekatannya dengan Al-Qur’an. Semakin dekat seseorang dengan nilai-nilai Al-Qur’an, semakin tinggi pula kualitas iman, akhlak, dan kepribadiannya.
Sebaliknya, menjauh dari Al-Qur’an berarti menjauh dari sumber petunjuk dan cahaya kehidupan. Allah SWT bahkan mengingatkan dalam firman-Nya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Oleh karena itu, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bukan sekadar pilihan spiritual, melainkan kebutuhan mendasar bagi manusia yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Melalui khutbah Jum’at yang disampaikan di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin Margomulyo, KH Fahrur Rozi mengingatkan kembali bahwa kemuliaan umat Islam tidak terletak pada kekuatan materi atau kekuasaan semata, tetapi pada sejauh mana mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi, pedoman hidup, dan landasan membangun peradaban yang berakhlak mulia.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar