Minggu, 15 Maret 2026

“Menjemput Cahaya Lailatul Qadar: Kajian Bukber Menghidupkan Spirit 10 Hari Terakhir Ramadhan”

Margomulyo, Bojonegoro – Sabtu, 11 Maret 2025. Suasana religius penuh kekhusyukan menyelimuti kegiatan Kajian Buka Bersama (BUKBER) yang digelar di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, pada Sabtu, 11 Maret 2025, bertepatan dengan hari ke-21 bulan suci Ramadhan. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 17.00 hingga 17.45 WIB tersebut menjadi momentum spiritual untuk memperdalam makna keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Kajian ini menghadirkan Kiyai Kuslan, SH., Rais Syuriyah MWCNU Margomulyo, sebagai pemateri utama. Dengan gaya penyampaian yang teduh dan penuh hikmah, beliau mengajak jamaah untuk memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kegiatan ini diikuti dengan penuh antusias oleh jamaah Muslimat NU dan Fatayat NU Ranting Sumberjo, yang hadir untuk menimba ilmu serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah suasana Ramadhan yang sarat keberkahan.

Dalam tausiyahnya, Kiyai Kuslan menegaskan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan puncak perjalanan spiritual seorang mukmin, karena di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, seperti qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan memperbanyak doa.

Beliau juga mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan madrasah spiritual untuk membersihkan hati dan meningkatkan ketakwaan.

Suasana kajian berlangsung khidmat hingga menjelang waktu berbuka puasa. Setelah tausiyah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan buka puasa bersama, yang semakin mempererat rasa kebersamaan dan kekeluargaan di antara para jamaah.

Kegiatan kajian Ramadhan ini diharapkan dapat terus menjadi sarana pembinaan keagamaan masyarakat sekaligus memperkuat peran organisasi keagamaan dalam membangun masyarakat yang religius dan berakhlak mulia.


Artikel Keislaman

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

1. Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan sebagai Puncak Ibadah

Sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Islam. Pada periode inilah Rasulullah ﷺ meningkatkan ibadahnya secara maksimal.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan fase intensifikasi ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.


2. Keutamaan Lailatul Qadar

Salah satu keistimewaan terbesar dari sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang penuh kemuliaan.

Allah SWT berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)

Para ulama menjelaskan bahwa ibadah pada malam Lailatul Qadar memiliki nilai pahala yang setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun.

Karena itu Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.


3. Memperbanyak Doa pada Malam Lailatul Qadar

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca ketika mencari Lailatul Qadar.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA disebutkan:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)

Doa ini mencerminkan bahwa inti ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah memohon ampunan dan rahmat Allah SWT.


4. Keutamaan I’tikaf

Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah ﷺ juga melaksanakan i’tikaf di masjid untuk lebih fokus beribadah.

Hal ini disebutkan dalam hadis:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Nabi Muhammad ﷺ melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari)

I’tikaf merupakan bentuk penghambaan total kepada Allah dengan menjauhkan diri dari kesibukan dunia untuk memperbanyak ibadah.


5. Pandangan Ulama tentang Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Para ulama klasik memberikan perhatian besar terhadap keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Menurut Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah masa pembebasan dari api neraka, sehingga seorang mukmin dianjurkan memperbanyak amal kebaikan.

Sementara dalam kitab Durratun Nashihin dijelaskan bahwa orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah Ramadhan akan memperoleh kemuliaan besar di hari kiamat, karena Ramadhan menjadi saksi amal kebaikan mereka.


6. Hikmah Spiritual Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Sepuluh hari terakhir Ramadhan mengandung berbagai hikmah spiritual, antara lain:

  1. Memperkuat hubungan dengan Allah SWT

  2. Membersihkan hati dari dosa dan kesalahan

  3. Melatih kesungguhan dalam beribadah

  4. Menumbuhkan harapan akan rahmat dan ampunan Allah

Momentum ini menjadi kesempatan terakhir bagi umat Islam untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan sebelum bulan suci berakhir.


Kesimpulan

Sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan puncak spiritual dalam perjalanan ibadah seorang mukmin. Pada fase ini, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan melakukan i’tikaf.

Melalui kesungguhan ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, diharapkan setiap muslim dapat meraih ampunan Allah SWT, keberkahan Lailatul Qadar, serta derajat ketakwaan yang lebih tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar