Sabtu, 07 Maret 2026

“Menanam Nilai Ramadhan Sejak Dini: Seruan Kiai Ihsan dalam Kajian Bukber Masjid Samin Baitul Muttaqin”

Suasana penuh kehangatan dan nuansa spiritual mewarnai pelaksanaan Kajian Buka Bersama (Bukber) Ramadhan yang diselenggarakan di ruang utama Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro. Kegiatan tersebut berlangsung dengan khidmat dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap penguatan nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan sosial.

Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Margomulyo, pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Ngelo, Geneng, dan Meduri, serta jamaah Khotmil Qur’an Sumberjo yang selama ini aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan masjid. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadikan kegiatan kajian Ramadhan ini tidak hanya sebagai forum keilmuan, tetapi juga sebagai momentum mempererat ukhuwah Islamiyah antar masyarakat dan lembaga keagamaan.


Sebagai pemateri utama, hadir Kiai Ihsan, yang juga dikenal sebagai Ketua Ranting NU Geneng. Dalam pemaparannya yang komunikatif dan sarat dengan pesan keilmuan, beliau mengangkat tema “Mendidik Anak dengan Spirit Ramadhan”, sebuah refleksi penting mengenai peran keluarga dalam membentuk generasi muslim yang beriman, berakhlak, dan memiliki kesadaran spiritual sejak dini.

Ramadhan sebagai Madrasah Pendidikan Anak

Dalam kajiannya, Kiai Ihsan menegaskan bahwa bulan Ramadhan merupakan madrasah spiritual yang sangat efektif untuk mendidik karakter anak. Nilai-nilai kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, serta empati sosial yang terkandung dalam ibadah puasa menjadi sarana pendidikan moral yang sangat kuat apabila ditanamkan sejak masa kanak-kanak.

Beliau mengutip firman Allah SWT yang menegaskan kewajiban menjaga dan mendidik keluarga agar terhindar dari keburukan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
(QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab pendidikan dalam Islam tidak hanya berada pada lembaga pendidikan formal, tetapi justru bermula dari keluarga sebagai institusi pendidikan pertama dan utama.

Dalam perspektif hadis Nabi Muhammad SAW, pendidikan anak juga merupakan amanah yang sangat besar bagi orang tua. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Melalui dalil tersebut, Kiai Ihsan menekankan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang mencintai ibadah, menghormati nilai-nilai agama, serta memiliki karakter mulia.

Para ulama juga menegaskan pentingnya pendidikan spiritual sejak dini. Salah satu nasihat terkenal dari ulama klasik menyebutkan:

مَنْ عَوَّدَ وَلَدَهُ الْخَيْرَ صَغِيرًا لَمْ يَزَلْ عَلَيْهِ كَبِيرًا

"Barang siapa membiasakan anaknya dalam kebaikan sejak kecil, maka kebaikan itu akan terus melekat hingga ia dewasa."

Menurut Kiai Ihsan, momentum Ramadhan harus dimanfaatkan oleh orang tua untuk membiasakan anak melakukan berbagai amalan ibadah seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berbagi kepada sesama, serta mengikuti kegiatan keagamaan di masjid.

Hal-hal yang Mengurangi Pahala Puasa

Selain membahas pendidikan anak, Kiai Ihsan juga mengingatkan jamaah tentang perkara-perkara yang dapat mengurangi nilai dan pahala puasa Ramadhan. Beliau menjelaskan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menuntut pengendalian diri dari berbagai perilaku negatif.

Rasulullah SAW bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."
(HR. Ahmad)

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa perilaku seperti berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, marah berlebihan, dan menyakiti orang lain dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa.

Oleh karena itu, puasa sejatinya adalah latihan spiritual untuk menjaga lisan, hati, pikiran, dan perilaku agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Pada bagian akhir kajiannya, Kiai Ihsan mengajak jamaah untuk meningkatkan kualitas ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, karena pada malam-malam tersebut terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan.

Allah SWT berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."
(QS. Al-Qadr: 3)

Para ulama menafsirkan bahwa ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang sangat besar, bahkan melebihi ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan melakukan i’tikaf di masjid.

Momentum Memperkuat Ukhuwah

Kajian Ramadhan yang dilanjutkan dengan kegiatan buka puasa bersama tersebut berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Para peserta tampak antusias mengikuti pemaparan materi sekaligus berdiskusi mengenai berbagai persoalan keagamaan dan sosial yang dihadapi masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana penguatan pemahaman keislaman, tetapi juga mempererat hubungan antara tokoh agama, pengurus organisasi keagamaan, serta masyarakat umum yang hadir.

Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin kembali meneguhkan perannya sebagai pusat pembinaan umat dan penguatan nilai-nilai keislaman, terutama dalam momentum Ramadhan yang penuh keberkahan. Melalui kegiatan kajian seperti ini, diharapkan lahir generasi muslim yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan akhlak yang mulia.


Ramadhan sebagai Momentum Transformasi Keluarga

Lebih lanjut dalam sesi diskusi yang berlangsung hangat menjelang waktu berbuka puasa, Kiai Ihsan menegaskan bahwa Ramadhan sejatinya bukan hanya momentum peningkatan ibadah individual, melainkan juga kesempatan strategis untuk mentransformasi kehidupan keluarga muslim. Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai agama.

Beliau menekankan bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya dengan nasihat, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan nyata dari orang tua. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ketika orang tua membiasakan diri membaca Al-Qur’an, shalat berjamaah, serta menjaga adab dalam berbicara dan bersikap, maka anak-anak secara alami akan menyerap nilai-nilai tersebut.

Dalam khazanah pemikiran ulama klasik disebutkan bahwa pendidikan yang paling efektif adalah pendidikan melalui teladan (uswah hasanah). Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian."
(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat tersebut menegaskan bahwa metode pendidikan yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah pendidikan berbasis keteladanan, yaitu mengajarkan nilai-nilai kebaikan melalui praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Spirit Kepedulian Sosial dalam Pendidikan Anak

Kiai Ihsan juga menyoroti bahwa Ramadhan mengajarkan dimensi sosial yang sangat kuat. Puasa bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga sarana menumbuhkan empati terhadap sesama, terutama kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Karena itu, beliau mendorong para orang tua untuk melibatkan anak-anak dalam kegiatan sosial selama Ramadhan, seperti berbagi makanan berbuka, membantu kaum dhuafa, serta ikut berpartisipasi dalam kegiatan masjid. Melalui pengalaman tersebut, anak-anak akan belajar bahwa Islam tidak hanya mengajarkan hubungan dengan Allah, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama manusia.

Nilai ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

"Tidaklah beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya."
(HR. Thabrani)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa keimanan seorang muslim tidak dapat dipisahkan dari kepekaan sosialnya terhadap lingkungan sekitar.

Antusiasme Jamaah dan Suasana Kebersamaan

Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di ruang utama Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin semakin terasa hangat. Para peserta yang terdiri dari jajaran KUA Margomulyo, pengurus Ranting NU Ngelo, Geneng, dan Meduri, serta jamaah Khotmil Qur’an Sumberjo tampak antusias mengikuti rangkaian kajian hingga selesai.

Diskusi ringan yang berlangsung setelah pemaparan materi menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya peran keluarga dalam membangun generasi yang berakhlak dan berilmu. Banyak jamaah yang mengapresiasi materi kajian karena dinilai sangat relevan dengan tantangan pendidikan anak di era modern.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama, yang berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan kekeluargaan. Hidangan sederhana yang disajikan menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan antar jamaah yang hadir.

Meneguhkan Peran Masjid sebagai Pusat Peradaban Umat

Pelaksanaan kajian dan buka bersama tersebut semakin menegaskan peran Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus ruang pembinaan umat. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan, dakwah, serta penguatan nilai-nilai sosial keislaman di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan kajian Ramadhan seperti ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa pendidikan anak tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai spiritual yang diajarkan dalam Islam. Ramadhan menjadi momentum yang sangat tepat untuk menanamkan nilai tersebut agar lahir generasi muslim yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Dengan semangat kebersamaan dan ukhuwah yang terbangun dalam kegiatan tersebut, Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin terus berupaya menjadi mercusuar dakwah dan pusat penguatan peradaban Islam di wilayah Margomulyo dan sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar