Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat dan organisasi keagamaan, di antaranya jamaah Muslimat NU dan Fatayat NU Ranting Ngelo, PAC IPNU–IPPNU Margomulyo, Satkoryon Banser Margomulyo, serta para pedagang di sekitar kawasan masjid. Kehadiran berbagai elemen ini menjadikan kegiatan kajian terasa semakin hidup dan mencerminkan semangat kebersamaan dalam menyambut keberkahan bulan suci Ramadhan.
Kajian menjelang berbuka tersebut menghadirkan Kiai Badrun, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Margomulyo, sebagai pemateri utama. Dalam penyampaiannya, beliau mengangkat tema yang sangat menyentuh dan reflektif, yakni “Khusnul Khatimah di Akhir Ramadhan.”
Beliau mengawali kajiannya dengan mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ayat tersebut, menurut beliau, menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari seluruh ibadah seorang mukmin adalah meninggal dalam keadaan iman yang sempurna dan penuh ketaatan kepada Allah SWT.
Ramadhan sebagai Jalan Menuju Husnul Khatimah
Kiai Badrun menjelaskan bahwa terdapat beberapa amalan yang dapat menjadi bekal untuk meraih husnul khatimah, terutama di penghujung bulan Ramadhan.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Keikhlasan menjadi fondasi utama agar seluruh amal ibadah yang dilakukan selama Ramadhan bernilai di sisi Allah.
Allah SWT berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
“Sesungguhnya seorang mukmin selalu berada di antara rasa takut dan harap; takut amalnya tidak diterima dan berharap rahmat Allah.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ
Di penghujung kajiannya, Kiai Badrun mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan sisa hari Ramadhan sebagai momen evaluasi diri. Beliau menegaskan bahwa tidak ada yang mengetahui kapan ajal akan datang, sehingga setiap mukmin harus mempersiapkan bekal terbaik untuk akhir kehidupannya.
“Ramadhan ini adalah kesempatan emas yang belum tentu kita temui kembali tahun depan. Maka perbanyaklah amal, luruskan niat, dan jagalah hati agar ketika ajal datang, kita termasuk orang-orang yang memperoleh husnul khatimah,” pesan beliau dengan penuh harap.
Kajian yang berlangsung dengan penuh perhatian tersebut kemudian ditutup menjelang adzan Maghrib. Suasana semakin khidmat ketika seluruh jamaah bersama-sama memanjatkan doa, memohon agar Allah SWT menerima amal ibadah Ramadhan serta menganugerahkan akhir kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama, yang semakin mempererat ukhuwah di antara para jamaah, organisasi kepemudaan, serta masyarakat sekitar masjid.
Setelah lantunan adzan Maghrib berkumandang, seluruh jamaah yang hadir segera membatalkan puasa dengan penuh rasa syukur. Hidangan sederhana yang telah disiapkan oleh panitia dan para relawan masjid dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan. Momen buka puasa tersebut tidak sekadar menjadi pelepas dahaga setelah seharian berpuasa, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah di antara berbagai elemen masyarakat yang hadir.
Para jamaah yang terdiri dari Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU–IPPNU, Banser, serta para pedagang di sekitar masjid tampak membaur tanpa sekat, saling berbincang dan mempererat tali silaturahmi. Kebersamaan ini mencerminkan semangat Ramadhan sebagai bulan yang tidak hanya mendidik umat dalam ibadah individual, tetapi juga menguatkan solidaritas sosial dan persaudaraan sesama umat Islam.
Dalam kesempatan tersebut, panitia kegiatan juga menyampaikan bahwa rangkaian Kajian BUKBER Ramadhan di Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin akan terus dilaksanakan sebagai bagian dari program pembinaan keagamaan masyarakat selama bulan suci. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang edukasi spiritual sekaligus sarana mempererat hubungan antarorganisasi keagamaan dan masyarakat umum.
Beberapa jamaah yang hadir mengaku sangat bersyukur dapat mengikuti kajian tersebut. Mereka merasa materi yang disampaikan sangat relevan, terutama menjelang akhir Ramadhan yang sering kali menjadi momen refleksi bagi setiap muslim.
“Materinya sangat menyentuh hati. Kita diingatkan bahwa tujuan hidup bukan hanya menjalani Ramadhan, tetapi bagaimana kita bisa menutup kehidupan dengan husnul khatimah,” ungkap salah seorang jamaah dari Fatayat NU Ranting Ngelo.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa Masjid Wisata Religi Samin Baitul Muttaqin terus berkembang sebagai pusat aktivitas keagamaan yang hidup dan dinamis. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga berperan sebagai ruang dakwah, pendidikan, serta penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
Dengan terselenggaranya kajian dan buka puasa bersama ini, diharapkan semangat ibadah masyarakat semakin meningkat, khususnya dalam memanfaatkan sisa hari-hari Ramadhan dengan amal terbaik. Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut, setiap muslim hendaknya menjadikan Ramadhan sebagai titik balik untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menata kehidupan agar senantiasa berada dalam ridha Allah SWT.
Semoga melalui kegiatan-kegiatan keagamaan seperti ini, lahir generasi masyarakat yang beriman kuat, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi, sehingga harapan untuk meraih husnul khatimah bukan sekadar doa, tetapi menjadi kenyataan yang diraih melalui kesungguhan dalam beribadah dan berbuat kebaikan.
#Drun



Tidak ada komentar:
Posting Komentar